Dark/Light Mode

Nelayan Tradisional Ngarep Pemerintah Atasi Pembuangan Limbah Ke Laut

Selasa, 1 Oktober 2024 21:31 WIB
Perkampungan miskin nelayan. Foto: Istimewa
Perkampungan miskin nelayan. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembuangan limbah domestik dan industri ke sungai dan laut sangat merugikan para nelayan tradisional. Akibat perairan yang tercemar, hasil tangkapan nelayan berkurang drastis. Kini mereka bertahan hidup dengan penghasilan ala kadarnya, bahkan terpaksa ganti profesi.

Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Hendra Wiguna mengecam maraknya praktik pembuangan limbah yang mengancam dan merusak sumber daya perairan.

"Seperti kami temui di Belawan Kota Medan, nelayan tradisional menyampaikan sungai yang nantinya bermuara ke laut sudah tercemari oleh industri minyak kelapa sawit. Sekarang sungai sudah berwarna hitam pekat, berbau dan akhirnya nelayan terdampak, mulai dari berkurangnya hasil tangkapan hingga penyakit kulit," ujarnya dalam keterangannya kepada RM.id Selasa (1/10/2024).

Menurut Hendra, persoalan ini tidak berlangsung hanya di Kota Medan. Tetapi juga terjadi di Tangerang, Jakarta dan di banyak wilayah pesisir lainnya.

Baca juga : Berpeluang Jadi Pimpinan DPD, Tamsil Linrung Siap Perkuat Lembaga Negara

Limbah domestik dan industri dibuang ke perairan yang merupakan ruang hidup nelayan. Padahal, para nelayan berperan penting dalam pemenuhan pangan masyarakat Indonesia.

"Rasa-rasanya tidak akan ada pangan yang cukup, bila nelayan masih sulit mendapatkan ikan, tidak akan ada pangan yang sehat, bila perairannya tidak dijaga kesehatannya," ujar Hendra.

Dia menegaskan, tanpa perairan yang sehat, nelayan akan sulit mendapatkan ikan, pembudidaya ikan sulit membudidayakan ikan, begitu juga masyarakat akan sulit mendapatkan makanan bergizi.

Penurunan hasil tangkapan akan berdampak kepada pendapatan nelayan. Bahkan banyak nelayan kini daerah tangkapan ikannya semakin jauh. Kondisi ini memperpanjang keterpurukan nelayan dalam kemiskinan.

Baca juga : Mendagri Ajak Jajaran BNPP Manfaatkan Potensi Pemgembangan Daerah Perbatasan

"Nelayan yang pendapatannya menurun, akan menyulitkan dia untuk memperbarui alat produksinya. Bisa kita lihat, banyak nelayan tradisional perahunya rapuh, mesinnya lemah, padahal hal ini akan membahayakan nelayan ketika dihadapkan dengan gelombang tinggi ataupun arus air yang kencang," imbuh Hendra.

Sementara itu, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI) Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Ario menyampaikan kondisi perairan sungai di wilayahnya sudah tercemar oleh limbah perusahaan sawit dan batu bara. Terutama di Sungai Sesayap. Padahal sungai itu menjadi ruang penghidupan bagi nelayan kecil.

"Adanya pencemaran ini menyebabkan kerusakan sumber daya perairan, terutama kelestarian sumber daya perikanan. Alhasil nelayan mengalami penurunan hasil tangkapan dan pendapatan, beban lainnya adalah terjadi pendangkalan sungai," ujarnya.

Persoalan lain yang tengah dihadapi oleh nelayan kecil di Tana Tidung adalah alat usaha atau alat produksi nelayan yang sudah usang. Mulai dari perahu, mesin dan alat tangkapnya. Selain itu, nelayan kecil masih kesulitan mengakses BBM.

Baca juga : Makan Bareng Menteri Bahlil, Arsjad dan Anin Ketemu Jalan Keluar

"Jenis BBM yang kami kami gunakan adalah Pertalite, harganya kami beli Rp 13.000 per liter itu pun susah kami mendapatkannya karena stoknya jarang ada," ungkap Ario.

Pihaknya berharap Pemerintah dapat memberikan bantuan agar para nelayan kecil dapat terus mencari nafkah. Mereka juga meminta agar pencemaran di sungai dan laut dapat dikendalikan untuk mencegah kerusakan ekosistem perairan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.