Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perang Dagang AS-China, RI Harus Lebih Giat Tarik Investor
Selasa, 15 Oktober 2024 22:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Investor China lebih banyak memilih Thailand dan Vietnam sebagai tujuan investasi dari pada Indonesia. Karena itu, Pemerintah diingatkan untuk meningkatkan daya saing iklim usaha/investasi nasional supaya lebih menarik di mata investor.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, kawasan ASEAN (Asia Temggara) memang menjadi tujuan favorit investasi bagi investor global, yang ingin mengalihkan atau mendiversifikasi pusat produksinya dari China, sejak perang dagang Amerika Setikat (AS)-China.
"Jadi secara tidak langsung perang dagang AS-China menciptakan potensi penerimaan Foreign Direct Investment (FDI) yang lebih besar untuk Indonesia, khususnya di sektor manufaktur," kata Shinta, seperti keterangan yang diterima RM.id, Selasa (15/10/2024).
Tapi, Shinta mengingatkan, ada banyak negara di ASEAN yang dipertimbangkan sebagai tujuan alternatif investasi bagi investor China, selain Indonesia.
Negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Thailand merupakan saingan Indonesia dalam hal menarik potensi investasi tersebut.
Karena itu, akibat perang dagang AS-China tidak serta merta, arus FDI atau penanama modal asing akan mengalir ke Indonesia.
"Justru Indonesia perlu meningkatkan daya saing iklim usaha/investasi nasional, agar secara komparat menjadi lebih unggul daripada iklim usaha/investasi ASEAN di mata calon investor tersebut," tegas Shinta.
Baca juga : Analis Yakin, Rencana Arinal Bangun Pelabuhan Lampung Timur Bakal Tarik Investor
Dalam pandangannya, RI juga harus proaktif mempromosikan dan memfasilitasi kebutuhan investasi dari berbagai negara yang berbeda, agar FDI yang masuk ke Indonesia tidak hanya berasal dari investor asal China.
Namun juga, investor asal AS atau negara lain yang masih menjadikan China sebagai pusat produksi dan perlu relokasi.
Ketika kondisi tersebut sudah bisa ciptakan, barulah FDI tersebut akan masuk ke Indonesia dan betul-betul menciptakan dampak yang positif terhadap ekonomi nasional.
Mulai dari penguatan fundamental makro ekonomi dan industrialisasi, peningkatan produktivitas di sektor manufaktur, penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan kinerja ekspor.
Ia menyebut, berdasarkan kajian Word Bank (Bank Dunia) pernah menyampaikan, arus FDI yang beralih dari China lebih banyak yang masuk ke negara-negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand daripada ke Indonesia.
Kondisi ini seharusnya menjadi pemantik semangat bagi Pemerintah Indonesia, khususnya Pemerintah yang akan datang yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, untuk lebih lebih konsisten dan lebih efektif meningkatkan daya saing komparatif iklim usaha/investasi nasional terhadap negara pesaing di ASEAN.
"Efek perang dagang ini adalah salah satu headwind di tengah perlambatan ekonomi global yang bisa membantu Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 7-8 persen yang dicita-citakan oleh pemerintahan Presiden Terpilih. Tentu harus kita manfaatkan secara proaktif dan serius," jelasnya.
Baca juga : Telkom Borong Tiga Penghargaan Media Humas Terbaik 2024 Dari Kominfo
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengklaim, tidak kurang dari 53 perusahaan telah merelokasi pabriknya ke Indonesia akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.
Rosan menjelaskan, kondisi geopolitik seperti perang dagang AS-China dan konflik di Timur Tengah dapat memberi efek negatif ke perekonomian Indonesia.
Kendati demikian, sambungnya, pemerintah juga dapat memanfaatkan kondisi geopolitik tersebut.
Dia mencontohkan, perang dagang antara AS-China menyebabkan banyak perusahaan yang merelokasi pabriknya ke luar dari Negeri Panda.
Rosan pun mengaku, Indonesia mendapatkan keuntungan dari perang dagang tersebut.
"Lebih dari 53 perusahaan masuk ke Indonesia. Tapi kita ingin lebih aktif lagi sehingga relokasi itu masuknya ke Indonesia," kata Rosan, Rabu (9/10/2024).
Namun, mantan bos Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini tidak mengungkapkan nama-nama 53 perusahaan yang merelokasikan pabriknya ke Indonesia tersebut.
Baca juga : Jelang Laga Lawan Bahrain, Tim Garuda Nikmati Latihan Dan Tanpa Beban
Rosan hanya menegaskan, Indonesia tidak boleh lengah. Alasannya, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
"ASEAN selalu menjadi pilihan utama tujuan relokasi pabrik, tapi kita harus lebih aktif lagi karena relokasi lebih banyak masuk ke negara tetangga kita seperti Vietnam, Malaysia, Thailand," ungkapnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, upaya menampung investor yang relokasi dari China salah satunya dilakukan lewat pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Jawa Tengah.
"Karena arahan Bapak Presiden harus cari alternatif bagaimana relokasi industri-industri yang hengkang dari China bisa masuk ke Indonesia," sebut Bahlil, saat masih menjadi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), di Jakarta, Jumat (26/7/2024).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya