Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah Di Aceh
OJK Terus Genjot Pengembangan Dan Penguatan Perbankan Syariah
Sabtu, 26 Oktober 2024 11:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendukung pengembangan dan penguatan industri perbankan syariah nasional dengan meningkatkan ketahanan dan daya saing, serta kontribusinya bagi pembangunan sosial dan ekonomi nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, sesuai konsep transformasi perbankan syariah pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023-2027, perbankan syariah didorong untuk memiliki karakteristik yang kuat dengan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kita akan terus mengawal transformasi perbankan syariah, untuk bergerak maju dari perbankan syariah yang bersifat alternatif dari bank konvensional (shari'ah -compliant banking), menuju perbankan syariah yang memiliki keunikan model bisnis dan memberikan socio-economic impact (shari'ah-based banking),” papar Dian, dalam puncak Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024 di Banda Aceh, Jumat (25/10/2024).

Dian menekankan, perbankan syariah harus berperan lebih dominan, untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Berdasarkan data OJK, kondisi perbankan syariah saat ini mencerminkan kondisi yang terjaga stabil dan menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Baca juga : OJK: Perbankan Syariah Sukses Dukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Aset, Pembiayaan, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah masih melanjutkan catatan double digit growth. Per Agustus 2024, aset tumbuh sebesar 10,37 persen year on year (yoy) menjadi Rp 902,39 triliun.
Sementara pembiayaan tumbuh sebesar 11,65 persen yoy menjadi Rp 620,33 triliun. DPK tumbuh 11,42 persen yoy menjadi Rp 705,18 triliun.
Ketahanan perbankan syariah dilaporkan tetap kuat. Hal ini tercermin dari permodalan (CAR) yang berada di level 25,6 persen. Didukung kualitas pembiayaan yang baik dan profitabilitas yang stabil.
Dalam jangka pendek, selama tahun 2024-2025, OJK mengarahkan fokus pengembangan perbankan syariah pada lima area yaitu konsolidasi bank syariah, pembentukan Komite Pengembangan Keuangan Syariah, penyusunan pedoman produk dan pengembangan keunikan produk, penguatan peran perbankan syariah pada ekosistem ekonomi syariah, dan peningkatan peran bank syariah pada pengembangan UMKM.
Pada kegiatan ini, Dian juga meluncurkan tiga pedoman produk perbankan syariah sebagai Berikut:
- Pedoman Produk Pembiayaan Mudarabah
- Pedoman Implementasi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) dengan Akad Mudharabah Muqayyadah
- Pedoman Implementasi Cash Waqf Linked Deposit (CWLD).
“Peluncuran pedoman produk ini merupakan bentuk konkret dukungan OJK dalam mengembangkan keunikan dan diferensiasi produk perbankan syariah, untuk menguatkan daya saing perbankan syariah nasional,” jelas Dian.
Saat ini, telah terdapat beberapa bank syariah yang telah mengimplementasikan CWLD, yaitu KB Bank Syariah, Bank Riau Kepri Syariah, Bank BJB Syariah, UUS Bank Jatim, dan BPRS Hijra Alami.
Baca juga : Mind ID Sukses Selesaikan Penugasan Dengan Ciamik
Beberapa lainnya seperti Bank Syariah Indonesia, Bank NTB Syariah, Bank Aceh Syariah, UUS Bank Sumselbabel, UUS Bank Nagari, BPRS Artha Madani, BPRS Barokah Dana Sejahtera, dan BPRS Baktimakmur Indah masih dalam proses.
Kegiatan yang mengusung tema “Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah Membangun Negeri” ini dihadiri oleh Gubernur Aceh Safrizal Zakaria Ali, pimpinan perbankan syariah dan direktur utama bank induk konvensional sebagai bentuk dukungan OJK untuk mengembangkan ekonomi Aceh melalui peran perbankan syariah.
"Saya mengajak seluruh pelaku industri perbankan dan keuangan syariah, untuk dapat terus menjadi katalisator dan pendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh,” tambah Dian.
Dalam kesempatan tersebut, Pj. Gubernur Aceh Safrizal menyambut baik dukungan yang selama ini diberikan OJK terhadap pengembangan perbankan syariah.
“Mudah-mudahan, sektor perbankan syariah terus maju dan berkembang. Kami, Pemerintah Daerah akan terus memperbaiki pranata dan ketentuan yang diberlakukan kepada ekonomi syariah. Kami telah banyak punya aturan-aturan di antaranya Qanun Aceh Nomor 11 tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah yang memberikan landasan hukum yang kuat bagi perkembangan perbankan syariah,” paparnya.
Kegiatan Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024 di Banda Aceh juga didukung oleh rangkaian kegiatan lain (side events) seperti Sharing Session Peran Perbankan Syariah dalam Keuangan Berkelanjutan, Sosialisasi Pedoman Produk Perbankan Syariah, dan Sarasehan Perbankan Syariah. Ketiga kegiatan ini merupakan bentuk implementasi program kerja RP3SI.
Keuangan Berkelanjutan
Sharing Session Peran Perbankan Syariah dalam Keuangan Berkelanjutan merupakan salah satu implementasi pilar ketiga RP3SI, yang ditujukan untuk meningkatkan peran perbankan syariah dalam keuangan berkelanjutan.
Baca juga : OSO Beberkan Strategi Pengembangan Dan Tantangan Pendidikan Islam
Acara yang dibuka oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae tersebut, menghadirkan narasumber Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK Eddy Manindo Harahap, Senior Advisor Oliver Wyman Felia Salim, dan Kepala Program Studi Master of Finance in Sustainable Finance Universitas Islam Internasional Indonesia Rizky Wisnoentoro yang memaparkan pandangan terkait sustainable finance. Baik dari sisi regulasi, implementasi, maupun relevansinya dengan perbankan syariah.
“Kami ingin bank syariah menjadi center of excellence di sektor keuangan, yang bisa memberikan layanan keuangan berprinsip syariah yang lebih inklusif, beretika, dan memberikan kemaslahatan bagi umat,” tutur Dian.
Harapan ini sejalan dengan agenda SDGs, yang secara umum juga bertujuan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Tidak hanya kontribusi dari peningkatan pembiayaan di sektor ramah lingkungan, Dian juga mendorong bank syariah untuk betinovasi mengatasi isu-isu sosial, seperti ketimpangan dan lower middle income trap.
Hal ini mendorong peran bank syariah yang lebih holistik dalam mendukung implementasi ESG. Tidak hanya pada aspek environment, tapi juga di aspek sosial dan ekonomi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya