Dark/Light Mode

Chief Economist BNI Prediksi BI Pangkas Suku Bunga Jika Rupiah Stabil

Jumat, 8 November 2024 22:08 WIB
Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Leo Putera Rinaldy. (Foto: Dwi Ilhami/RM)
Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Leo Putera Rinaldy. (Foto: Dwi Ilhami/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dipangkasnya kembali suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,50-4,75 persen pada Jumat dini hari (WIB), mendorong terbukanya Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan atau BI rate.

“BI masih punya ruang menurunkan BI rate sebesar 25 bps. Tetapi, dilihat juga pergerakan nilai tukar rupiah yang harus menguat,” kata Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Leo Putera Rinaldy dalam diskusi santainya bersama media di Jakarta, Jumat (8/11/2024). 

Leo mengatakan, meski The Fed turun sebesar 25 bps, tak serta merta absolut membuat BI ikut menurunkan suku bunga acuan. Semua tergantung juga pada pergerakan ekonomi di dalam dan luar negeri.

“Jika saat menuju pengumuman BI rate, rupiah harus cenderung stabil dan menguat. Sehingga ruang BI menurunkan BI rate terbuka di bulan November atau Desember sebesar 25 bps menjadi ke level 5,75 persen,” jelasnya.

Baca juga : Ekonomi Tumbuh 8 Persen, Airlangga Bilang Bukan Mustahil

Sementara dari sisi inflasi per Oktober 2024 di level 2,21 persen yang dinilai cukup terkendali, atau sesuai dengan target yang ditetapkan BI.

Tak hanya itu, masih dari sentimen global juga datang dari kemenangan Donald Trump di beberapa wilayah Amerika Serikat (AS) yang juga akan memberikan dampak bagi ekonomi global, termasuk di negara emerging market seperti Indonesia.

Saat Trump benar-benar diresmikan menjadi Presiden AS, Leo mengatakan, ada beberapa wacana potensi kebijakan yang akan dilakukan. Di mana kebijakan tersebut cenderung meningkatkan tekanan inflasi AS ke atas.

“Kalau benar itu diterapkan, potensi tarif impor terutama kepada China dari AS akan lebih agresif, mendorong risiko inflasi,” ujarnya.

Baca juga : The Fed Diramal Pangkas Suku Bunga Lagi, Pasar Kripto Makin Cuan

Selanjutnya, Trump juga diprediksi punya kebijakan pemotongan pajak, salah satunya wacana income tax rate, diikuti dengan memotong pajak lain yang bisa menekan inflasi dari sisi demand side. 

“Melihat dulu kebijakan Trump ke depan seperti apa. Karena kan belum tentu juga fix diterapkan. Itu hanya gambaran jika wacana tersebut terjadi,” ujarnya.

Hal tersebut, bisa membuat rupiah cenderung memiliki efek volatilitas, dan ruang penurunan BI rate yang tidak bisa terlalu agresif.

Sementara sentimen dari domestik, Leo menuturkan, kebijakan fiskal akan lebih men-support kebijakan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi. Ia melihat, arah kebijakan fiskal di tahun depan yang pro growth, pro domestic demand, baik dari sisi konsumsi dan investasi. 

Baca juga : 10 Tahun Jokowi, Ekonomi RI Naik Ke Peringkat 16 Dunia

“Seperti bidang konstruksi, kue ekonomi ini terbuka lebar. Investasi juga didorong dalam konteks sektor swasembada pangan yang menjadi salah satu fokus di pemerintah baru, juga agrikultur yang akan terus didorong. Maka, kebijakan fiskal dan moneter tahun depan akan lebih akomodatif,” terangnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.