Dark/Light Mode

Pengamat Ekonomi: Angkutan Laut Kunci Ketahanan Energi

Rabu, 4 Desember 2024 23:21 WIB
Kapal Pertamina International Shipping (Foto: Dok. PIS)
Kapal Pertamina International Shipping (Foto: Dok. PIS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto harus ditopang ketahanan energi. Salah satu kunci ketahanan energi adalah pengangkutan energi yang andal dan efisien.

Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai peran kunci pengangkutan energi telah dijalankan dengan baik oleh Pertamina International Shipping (PIS) yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquified Petroleum Gas (LPG) ke seluruh Indonesia melalui jalur laut.

“Mengingat kondisi negara kita sebagai negara kepulauan, keandalan pengangkutan energi akan menstabilkan ketersediaan energi dalam negeri, khususnya BBM dan LPG. Di sini peran penting PIS sebagai ‘pembuluh darah’ penyalur energi,” ujar Yayan.

Baca juga : Perkuat Pasar Ekspor, Perkuat Jiwa Kewirausahaan

Dia menambahkan, kestabilan pasokan BBM dan LPG sangat penting untuk menggerakkan roda perekonomian lokal, baik sektor-sektor industri manufaktur, transportasi, UMKM, maupun ekonomi rumah tangga. Stabilnya sektor industri hingga rumah tangga akan memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Dari data aliran input dan output ekonomi yang diterbitkan BPS, kata dia, dapat disimulasikan, untuk mengejar pertumbuhan 8 persen pada 2026 dengan skenario Net Zero Emission 2060, Indonesia membutuhkan investasi 2,7 kali lipat dari 2016 sebagai patokan. Jika diturunkan ke sektor energi, untuk mencapai target 8 persen pada 2026, Indonesia membutuhkan tambahan pembangkit gas 1,82 kali, tambahan geotermal 1,25 kali, dan pembangkit diesel 0,5 kali lipat dari 2016.

“Target ini membutuhkan penyangga yang kuat berupa logistik energi yang andal dan efisien, seperti yang telah dijalankan PIS selama ini,” tambah Yayan.

Baca juga : Puncak Hari Guru Nasional: Komitmen Negara Meningkatkan Kesejahteraan Guru

PIS, sebagai bagian dari Pertamina, memiliki peran penting dalam mendukung sistem logistik energi nasional. Setiap tahunnya, PIS mengelola lebih dari 20 ribu call/voyage untuk kebutuhan energi dalam negeri. Yayan menilai, PIS adalah kunci dalam menjawab tantangan geografis Indonesia.

Sebagai pemain utama dalam logistik energi, kata Yayan, PIS harus mampu mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi hingga dua kali lipat pada 2030, terutama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen. “Kapabilitas ini akan menjadi tulang punggung dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ungkapnya.

Yayan menambahkan, pembangunan infrastruktur logistik yang merata mulai dari wilayah barat, tengah, hingga timur Indonesia akan meningkatkan efisiensi distribusi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional. Energi adalah penggerak roda perekonomian. Jika logistik energi tidak berjalan lancar, dampaknya dapat berlipat ganda ke sektor ekonomi yang lain.

Baca juga : Prabowo Tinjau Tambak Ikan di Karawang, Dorong Ketahanan Pangan Bergizi

Dengan memperkuat buffer stock, meningkatkan efisiensi logistik energi, dan membangun infrastruktur yang memadai, Indonesia dapat memastikan terwujudnya kestabilan pasokan energi untuk seluruh wilayah Indonesia. “Ketahanan energi yang solid ini akan menjadi kunci tercapainya target pertumbuhan ekonomi,” tutup Yayan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.