Dark/Light Mode

Wow Keren, Kebijakan Hilirisasi Indonesia Jadi Inspirasi Negara Asia Dan Afrika

Sabtu, 28 Desember 2024 12:33 WIB
Smelter PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. (Foto: dok. PTFI)
Smelter PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. (Foto: dok. PTFI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan hilirisasi pertambangan mineral yang dilakukan Indonesia, ternyata menjadi inspirasi bagi sejumlah negara berkembang di Asia dan Afrika.

Penelitian berjudul "Analisis Mahadata Kebijakan Hilirisasi: Strategi dan Diplomasi Indonesia Menghadapi Dinamika Global" yang dilakukan Binus University menyebut, keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam telah mendorong negara-negara lain mengadopsi langkah serupa.

Salah satu Tim Peneliti Binus University, Dr. Edy Irwansyah mengatakan, hilirisasi di Indonesia tidak hanya berhasil meningkatkan perekonomian nasional, tetapi juga mampu menciptakan model kebijakan yang relevan untuk konteks global.

"Indonesia telah menunjukkan, bahwa melalui hilirisasi, bahan tambang seperti nikel, tembaga, dan kobalt dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang lebih kompetitif di pasar internasional. Ini menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk memaksimalkan potensi sumber daya mereka,” papar Edy.

Penelitian ini juga melaporkan, kebijakan hilirisasi Indonesia telah memotivasi negara seperti Filipina - yang juga merupakan pemasok nikel utama dunia - untuk menerapkan kebijakan serupa.

Baca juga : Libur Nataru, Kapolri Perintahkan Jajaran Antisipasi Mobilitas Warga Di Anyer

Hal ini menunjukkan, keberhasilan Indonesia dalam mendorong pengolahan domestik dapat menjadi referensi kebijakan ekonomi bagi negara-negara lain di Asia dan Afrika, yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.

"Hilirisasi di Indonesia juga dinilai berhasil menarik investasi asing dan memperkuat posisi negara dalam rantai pasok global. Produk berbasis nikel seperti bahan baku baterai lithium dan stainless steel, memberikan nilai ekspor yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah," jelas Edy, yang juga Lecturer Specialist Binus University.

Edy menambahkan, upaya tersebut juga mendorong diversifikasi ekonomi, memperkuat sektor manufaktur, dan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai wilayah penghasil tambang, seperti Sulawesi dan Maluku.

Di luar itu, penelitian yang dilakukan Binus University juga mencatat beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menerapkan kebijakan ini.

Tim Peneliti Binus University lainnya, Dr. Ahmad Sofyan mengungkap, tantangan yang dimaksud adalah konflik perdagangan internasional. Seperti gugatan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait larangan ekspor nikel mentah.

Konflik ini menunjukkan adanya ketegangan antara upaya proteksionisme domestik untuk pembangunan industri nasional, dengan aturan perdagangan bebas global.

Baca juga : INDEF: Ekosistem Hilirisasi Tembaga Indonesia Punya Nilai Strategis

“Perselisihan ini mengharuskan Indonesia untuk memadukan strategi hilirisasi dengan pendekatan diplomasi ekonomi yang konstruktif. Jika tidak dikelola dengan baik, ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap hubungan perdagangan internasional,” tegas Ahmad Sofyan.

Selain tantangan di tingkat internasional, isu lingkungan juga menjadi perhatian penting dalam kebijakan hilirisasi.

Proses pengolahan logam berat seperti nikel dan tembaga berisiko menghasilkan limbah berbahaya yang dapat mencemari lingkungan, jika tidak dikelola dengan teknologi yang memadai.

Peningkatan eksploitasi tambang juga berpotensi mempercepat deforestasi dan degradasi lingkungan. Karena itu, diperlukan regulasi yang kuat dan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan.

Riset ini menegaskan, hilirisasi adalah langkah strategis yang mampu mengubah peran Indonesia dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi pusat manufaktur global.

Baca juga : Ini Penjelasan Bank Indonesia Mengenai Kedatangan Tim KPK

Namun, keberhasilan jangka panjang kebijakan ini bergantung pada keberlanjutan, regulasi yang inklusif, dan pengelolaan yang cermat.

"Indonesia telah menjadi model yang diikuti banyak negara berkembang, tetapi kebijakan ini harus terus dievaluasi untuk memastikan keberlanjutan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan pemerataan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Edy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.