Dark/Light Mode

Pertumbuhan 2025 Diprediksi 5,2 Persen

Ekonomi Tumbuh 8 Persen Ditarget Tahun 2028

Rabu, 15 Januari 2025 08:20 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Business Competitiveness Outlook 2025 di Jakarta, Senin (13/1/2025). (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Business Competitiveness Outlook 2025 di Jakarta, Senin (13/1/2025). (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

 Sebelumnya 
“Perjalanan menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen dan visi Indonesia Emas 2045 memerlukan kolaborasi erat antara Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” tegas Airlangga.

Sikap optimis juga disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie. Dia meyakini ekonomi 2025 Indonesia bakal tumbuh. Sebab, realisasi berbagai program unggulan Presiden Prabowo bakal dijalankan tahun ini.

Menurut Anin, berbagai program Pemerintah untuk membantu masyarakat luas akan berdampak positif. Hal itu bisa dilihat sekarang dan nanti. “Karena bisa dirasakan langsung ketika bicara mengenai isu kemiskinan dan juga kelaparan,” ucap Anin.

Baca juga : Kalau Urusan Aturan Pemilu, Semua Parpol Bisa Berantem

Anin menyinggung sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), lumbung pangan, dan pengampunan utang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurut dia, program tersebut berdampak positif pada dunia usaha. “Bisa membuat para pelaku UMKM beraktivitas kembali dalam dunia usaha,” jelasnya.

Selain itu, program rumah murah, perbaikan pendidikan, kesehatan, dan juga infrasruktur digital dinilai sektor prospektif untuk Indonesia bisa berkompetisi dan bisa membuat kesejahteraan lebih baik.

“Kami melihat bahwa ke depannya competitiveness (daya saing) dari Indonesia ini sangat besar,” pungkas dia.

Baca juga : Menko Polkam Jelaskan Program Unggulan Presiden

Peneliti dari Lembaga Riset Sigmaphi, Muhammad Nalar Al Khair menilai, angka pertumbuhan 5,2 persen adalah angka yang realistis. Sedangkan target 8 persen, kata masih belum jelas.

Kenapa? Karena di tahun 2024 sampai sekarang terdapat indikasi penurunan daya beli. Misalnya, inflasi 1,57%, badai PHK yang belum berhenti hingga mencapai 80 ribu orang sampai Desember 2024.

Ditambah lagi dengan penurunan impor barang baku/penolong sebesar 11,97% dan barang modal 10,77 persen di November 2024. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pmengalami kontraksi 5 bulan berturut – turut sejak Juli hingga November sebesar 49,6 persen.

Baca juga : Perkuat Ekosistem Halal Dari Hulu Hingga Hilir

Masalah lainnya, kata dia, kebijakan kenaikan tarif PPN, rencana pengetatan subsidi BBM dan rencana peningkatan iuran BPJS. Hal ini akan menggerus daya beli masyarakat. “Jangan lupa bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia itu lebih dari 50 persen ditopang oleh konsumsi masyarakat. Sehingga ketika ada tekanan pada daya beli, ya jangan harap ekonominya bisa melesat,” kata Nalar. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.