Dark/Light Mode

Bangun Bisnis Sosial Berdampak

Plana Olah Sekam Padi & Plastik Jadi Bahan Bangunan Sustainable

Kamis, 6 Februari 2025 08:27 WIB
Co-founder & Chief of Sustainability Plana Joshua C. Chandra (kiri) dan VP of Impact Beyond Banking PT Bank DBS Indonesia Riany Agustina saat berbincang di rumah produksi Plana di Cikupa Tangerang, Rabu (5/1/2025). (Foto: Sri Nurganingsih/RM.id)
Co-founder & Chief of Sustainability Plana Joshua C. Chandra (kiri) dan VP of Impact Beyond Banking PT Bank DBS Indonesia Riany Agustina saat berbincang di rumah produksi Plana di Cikupa Tangerang, Rabu (5/1/2025). (Foto: Sri Nurganingsih/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Apa yang memotovasi Bank DBS Indonesia sangat peduli untuk menumbuhkembangkan wirausaha sosial atau social enterprises?

Ternyata model usaha ini berupaya untuk mengembangkan solusi yang secara langsung dapat mengatasi masalah sosial. Sehingga tidak hanya berorientasi pada keuntungan, wirausaha sosial tetapi memperhitungkan dampak positif yang mereka berikan pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Plana merupakan salah satu wirausaha sosial yang mengolah sampah plastik dan sekam padi (rice husk) menjadi PlanaWood dan PlanaBrick, yaitu bahan bangunan yang sustainable nan awet.

Hadir dengan misi untuk mengubah perspektif mengenai sampah dan memberikan dampak besar bagi masa depan bumi, Plana mendapatkan dana hibah dari DBS Foundation Grant Award 2023 untuk memperluas dampaknya.

Pada kesempatan tersebut, DBS Foundation mendistribusikan dana hibah sebesar lebih dari Rp8 miliar kepada empat wirausaha sosial di Indonesia.

Kini, Plana akan membagikan kisah perjalanannya serta berbagai tips dalam membangun bisnis sosial yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat, sekaligus bagaimana bisa meraih kepercayaan dari lembaga pemberi dana hibah.

Pertama kenali masalah untuk cari solusi Setiap bisnis sosial berawal dari sebuah permasalahan yang perlu dipecahkan. Bagi Plana, sesuai dengan kepanjangannya ‘Plastic for Nature’, permasalahan tersebut adalah limbah plastik dan sekam padi yang tidak terkelola dengan baik.

Plastik bukan menjadi satu-satunya sampah yang belum terkelola dengan baik, karena sekam padi juga turut menjadi kontributor.

Sampah sekam padi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari saluran irigasi hingga mencemari udara apabila dibakar.

Hal inilah yang mendorong Plana untuk mencari solusi yang berbeda dengan menghadirkan PlanaWood dan PlanaBrick.

Kini, Plana mampu mengelola 8 ton sampah plastik dan 16 ton sekam padi per bulan yang kemudian diproses untuk dijadikan pelet kayu. Sampah plastik dan sekam padi ini didapat dari petani dan pemulung.

Kedua, Plana melakukan riset dan menyusun rencana bisnis yang berkelanjutan.

Baca juga : Pantau Titik Keramaian, Menko Polkam Pastikan Keamanan Libur Nataru

Setelah mengetahui masalah yang ingin diselesaikan, langkah selanjutnya adalah melakukan riset bisnis.

Riset ini penting untuk memahami berbagai hal, seperti siapa target pasar, regulasi bisnis sosial di Indonesia, keunikan bisnis kita, siapa mentor yang bisa membantu, apa yang ingin kita berikan kepada konsumen, dan siapa kompetitor serta bagaimana persaingannya. Selain itu, cari tahu apakah ada bisnis serupa di luar negeri dan siapa inovatornya.

“Sebelum mendirikan Plana, kami melakukan riset dan pengembangan (R&D) selama sekitar lima tahun. Riset ini mencakup volume limbah plastik dan sekam padi yang terbuang hingga proses produksi dari polymer injection, plastic injection, ke komposit dari plastik," ujar Co-founder Chief of Sustainaability Plana, Joshua C Chandra dalam keterangannya di rumah produksi Plana Cikupa Tangerang, Rabu (5/2/2025)

Joshua menambahkan, dari hal itu, pihaknya menemukan plastik komposit dari sekam padi dan sampah plastik yang menjadi ciri khas Plana.

"Kami memanfaatkan hasil riset ini untuk menyusun perencanaan bisnis yang juga memperhatikan dampak keberlanjutan,” kata Joshua.

Dalam menyusun rencana bisnis, Joshua juga memberikan insight.

Menurutnya, bagi pebisnis pemula, rencana bisnis sangat penting untuk menilai potensi keberlanjutan usaha dan menarik investor.

"Uniknya, untuk wirausaha sosial, riset dan rencana bisnis biasa tidak cukup karena kita juga perlu mempertimbangkan bagaimana solusi yang ditawarkan dapat mendukung keberlanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Joshua.

Sebelumnya, Plana juga sering menemukan petani yang membakar sisa sekam padi yang menimbulkan polusi di lingkungan serta efek Gas Rumah Kaca yang beracun.

Masalah ini yang kemudian Plana coba atasi, dengan memberikan edukasi terkait pentingnya udara bersih dan menjaga lingkungan.

Dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani, mereka juga memiliki ilmu baru untuk menangani sampah padi, serta mendapatkan penghasilan dengan menjualnya ke jejaring Plana.

Hal ketiga yang diterapkan Plana adalah berkolaborasi dengan mitra yang tepat. Dari riset yang sebelumnya kita lakukan, kita tidak hanya bisa menemukan kompetitor atau inspirator, tapi mungkin juga mendapatkan kolaborator.

Baca juga : Kurangi Sampah Plastik, Foopak dan Bluedoors Luncurkan Kemasan Kopi Biodegradable

Lebih lanjut Joshua mengatakan, memilih mitra bisnis yang memiliki visi dan nilai yang sejalan adalah kunci keberhasilan, terutama dalam bisnis sosial.

"Kita perlu memastikan bahwa mitra yang dipilih juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Ekosistem tim internal dan kolaborasi dengan pihak eksternal yang baik sangat krusial dalam mempercepat pertumbuhan dan memperluas dampak bisnis sosial.

Plana adalah contoh nyata bagaimana inovasi dan kemitraan dapat berjalan beriringan.

Berkat visinya akan keberlanjutan, Plana berhasil menerima dana hibah dari DBS Foundation Grant Award 2023, setelah bersaing dengan lebih dari 1.000 pelamar dari enam negara di Asia.

Joshua mengatakan, dukungan dari DBS Foundation memungkinkan pihaknya untuk meningkatkan skala produksi dan efisiensi di pabrik, sekaligus memperoleh sertifikasi dan hak paten yang diperlukan.

"Dengan langkah ini, kami dapat memperkuat reputasi PlanaWood dan PlanaBrick serta membuka peluang ekspansi ke pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional," ujar Joshua.

Ini bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga menciptakan dampak keberlanjutan yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat dalam jangka panjang.

"Kami percaya bahwa ‘spark’ atau motivasi yang kami miliki sejalan dengan Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation," ujar Joshua.

Hal keempat yang dilakukan Joshua adalah terus melakukan evaluasi, monitor dan pengukuran berkala.

Setelah usaha berjalan, evaluasi, pemantauan, dan pengukuran berkala adalah langkah penting dalam memastikan bisnis sosial tetap berada di jalur yang tepat dan mencapai dampak yang diinginkan.

Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat memahami sejauh mana strategi dan apa saja tantangan yang dihadapi, dan bagaimana cara mengatasinya.

Baca juga : Kota Tangerang Bisa Bikin Sampah Jadi Bahan Bakar Industri

Bagi Joshua, monitoring yang baik juga membantu mengidentifikasi peluang untuk inovasi dan pengembangan lebih lanjut.

Di samping menganalisis keuntungan dan hasil penjualan, Plana juga secara berkala mengevaluasi beberapa metriks seperti jumlah limbah plastik dan sekam padi yang berhasil didaur ulang, manfaat ekonomi yang diberikan kepada petani lokal, hingga efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnisnya.

Sepanjang tahun 2024, Plana berhasil mengolah 90 ton sampah plastik dan sekam padi. Dengan ini, Plana juga turut berkontribusi pada pemberdayaan petani lokal.

Setiap kilogram beras menghasilkan sekitar 600-700 gram sekam padi, yang dengan panen 3-4 kali setahun menghasilkan jumlah limbah yang signifikan yang biasanya hanya dibakar oleh petani.

Namun, kali ini petani dapat menjual sekam padi tersebut ke Plana untuk diolah sehingga membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Kisah perjalanan Plana sangat menginspirasi dan menjadi sebuah ‘spark’ atau semangat dari sekumpulan anak muda yang memiliki kepedulian tinggi akan keberlanjutan," ujar Head of Group Strategic Marketing and Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika dalam keterangannya, Rabu (5/2/2025).

Mona membambahkan, dengan adanya organisasi seperti Plana, DBS Indonesia berharap semakin banyak pelaku bisnis yang beralih menjadi wirausaha sosial, mencari solusi untuk masalah sosial dan lingkungan.

Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation selalu siap untuk mendukung mereka dalam mempercepat dampak positif yang diciptakan.

"Karena merekalah agen perubahan yang membangun masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan," pungkas Mona.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.