Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
eFishery Berhenti Beroperasi, Karyawan dan Pembudidaya Terdampak
Senin, 17 Februari 2025 17:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Penutupan eFishery, Perusahaan teknologi akuakultur, tidak hanya berdampak pada karyawan yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga pada ribuan pembudidaya yang selama ini bergantung pada teknologi dan pendampingan dari perusahaan tersebut.
Sebanyak 90 persen atau hampir seluruh karyawannya yang berjumlah sekitar 2.000 orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Banyak di antaranya kini kesulitan mencari pekerjaan karena stigma yang muncul akibat penutupan operasionalnya sejak Desember 2024.
Icad, mantan karyawan eFishery sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja PT Multidaya Teknologi Nusantara (SPMTN), menyatakan harapannya agar proses penyelidikan dapat membawa keadilan bagi semua pihak yang terdampak, termasuk karyawan, pembudidaya, dan investor.
"Kami berharap, agar proses penyelidikan ini dapat membawa keadilan bagi semua pihak yang terlibat," ujar Icad dalam keterangannya kepada media, Senin (17/2).
Sebagai perusahaan yang berfokus pada digitalisasi sektor akuakultur, eFishery telah membantu ribuan pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia.
Baca juga : Pengentasan Kemiskinan dan Pendidikan Gratis Perlu Akses Transportasi
Teknologi mereka telah digunakan oleh lebih dari 30.000 pembudidaya dan terbukti mampu menghemat biaya pakan hingga 20 persen serta meningkatkan produktivitas hingga 34,1 persen.
"Secara bisnis, apa yang dilakukan eFishery sangat membantu pembudidaya ikan dan udang, termasuk pemasok pakan dan alat. Ekosistem yang dibentuk sudah mulai tertata dengan baik," kata Icad.
Menurutnya, teknologi eFishery telah menghubungkan pembudidaya di berbagai pulau di Indonesia, memungkinkan mereka untuk meningkatkan jumlah kolam dan produksi mereka.
“Dengan adanya teknologi ini, banyak yang berkembang. Yang tadinya hanya satu kolam, kini bisa bertambah menjadi tiga kolam. Ini meningkatkan kesejahteraan mereka,” ungkapnya.
Namun, dengan berhentinya operasional eFishery, banyak petani ikan dan pembudidaya yang terdampak.
"Tahun ini mereka sudah pasti gagal panen karena kehilangan pendampingan. Padahal mereka sangat bergantung pada eFishery selama ini," tambah Icad.
Baca juga : 9 Taman Diawasi CCTV Dan Petugas Keamanan
Ardi, mantan karyawan eFishery yang telah bekerja di bidang Internet of Things (IoT) selama 11 tahun, menyoroti dampak besar yang ditimbulkan akibat penghentian operasi perusahaan.
“Mayoritas pekerja di eFishery berusia 30-35 tahun dan telah membantu meningkatkan produktivitas para pembudidaya. Dalam tiga tahun terakhir, terbukti para pembudidaya bisa menambah kolam dan meningkatkan produktivitas mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa eFishery telah memutus rantai tengkulak, memungkinkan pembudidaya menjual hasil panen mereka langsung ke pembeli dengan margin yang lebih besar.
"Selama ini, kami bekerja untuk memberikan dampak bagi pembudidaya. Namun, sekarang kami justru dilihat negatif dan kesulitan mencari pekerjaan hanya karena berasal dari eFishery. Padahal kami hanya berkarya," keluhnya.
Ketua Kelompok Petani Ikan Tasik Mujahid, juga mengungkapkan bahwa teknologi eFishery sangat membantu mereka dalam mengurangi biaya operasional dan meningkatkan pendapatan.
"Sebelum pakai teknologi eFishery, kami sering boros pakan dan sulit bersaing karena biaya tinggi. Sekarang, kami bisa lebih hemat dan hasil panen meningkat," jelasnya.
Baca juga : PNM Beri Apresiasi Untuk Karyawan Dengan Performa Terbaik
Selain itu, program eFishery juga membantu pembudidaya mendapatkan akses pembiayaan yang sebelumnya sulit diperoleh.
"Sebelum ada eFishery, kami susah cari modal. Sekarang, kami bisa pinjam uang dengan mudah dan bayarnya dicicil sesuai hasil panen,” ujarnya.
Mujahid sendiri merupakan pembudidaya ikan lele yang sebelumnya hanya memiliki 30 kolam.
Namun berkat program eFishery, ia kini memiliki 180 kolam dengan produksi mencapai 3 ton per hari.
"Melalui program ini, saya bisa mendapatkan margin Rp 3.000 per kilogram. Saya berharap program eFishery bisa berjalan lagi karena ini sangat menguntungkan petani ikan," pungkasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya