Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ingin Sambungkan Rute Hingga Bogor
LRT Jabodebek Cari Investor Luar Negeri
Jumat, 28 Februari 2025 07:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melalui divisi LRT Jabodebek (Light Rail Transit Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi), sedang mencari investor untuk melanjutkan pembangunan jalur LRT Fase 2 agar tersambung hingga ke Bogor.
Excutive Vice President (EVP) LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi mengatakan, perpanjangan jalur LRT Fase 2 rencananya dilakukan tahun ini.Namun, pihaknya masih menyusun uji kelayakan (Feasibility Study/FS) untuk rute atau jalur LRT dari Harjamukti (Cibubur) ke Baranangsiang (Bogor) sepanjang 23 kilometer (km).
Targetnya, FS selesai pada Agustus mendatang dan akan diserahkan ke Kementerian Perhubungan. Mengingat, pembangunan infrastruktur transportasi umum menjadi kewajiban Pemerintah.
“KAI atau kami di LRT sebenarnya hanya operator. Infrastruktur (pembangunan) dibangun oleh Pemerintah. Tapi ketika LRT Jabodebek tahap pertama, KAI yang membangun infrastruktur. Makanya di fase kedua nanti, kami akan cari investor,” terang Purnomosidi.
Hal ini dilakukan karena untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Sekaligus mengikuti arahan Pemerintah agar BUMN bisa mencari creative financing, sehingga tidak hanya mengandalkan pinjaman bank maupun pendanaan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
“Kalau biaya pembangunan dibebankan ke PT KAI, tidak akan sanggup menanggungnya,” katanya.
Baca juga : Jelang Ramadan, Harga MinyaKita Masih Tinggi
Sebagai gambaran, Presiden Jokowi pernah menyebutkan, biaya pembangunan LRT mencapai Rp 700 miliar per km.
Saat ini, pihaknya sudah ada pembicaraan dengan sejumlah investor dari berbagai negara yang tertarik menanamkan modalnya dalam proyek LRT Jabodebek fase 2.
“Ada dari beberapa negara, seperti dari UAE (United Arab Emirates), Korea Selatan, Jepang dan Eropa. Mereka sudah mulai bertanya dan berdiskusi dengan kami terkait kelanjutan dari proyek LRT Jabodebek fase II,” ungkapnya.
Hanya saja, sambung Purnomosidi, pihaknya belum bisa membeberkan soal besaran anggaran yang dibutuhkan untuk proyek LRT Jabodebek. Namun, bila memperhitungkan jarak yang lebih pendek dibandingkan jalur LRT pada fase pertama yang sepanjang 44 km, maka hitungan kasarnya, biaya yang dibutuhkan pada fase kedua ini akan lebih rendah.
“Ya (anggaran) masih dihitung, sambil tunggu FS tadi, baru kami tahu nilai proyeknya. Tapi pasti akan lebih rendah (biayanya),” katanya.
Sejauh ini, pihaknya bersama Kementerian Perhubungan dan Kementerian PPN/Bappenas (Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) juga masih berdiskusi terkait kelanjutan proyek LRT Jabodebek fase II.
Baca juga : Pemprov Diminta Tambah Armada Dan Perbaiki Layanan
“Ada rencana juga untuk menambah jalur Dukuh Atas BNI ke Stasiun Palmerah, Jakarta,” imbuhnya.
Sementara, dalam mengoptimalkan sistem ticketing, pihaknya akan berkolaborasi dengan Visa, agar kartu kredit juga bisa dijadikan sebagai alat pembayaran LRT Jabodebek.
Tak hanya itu, Visa juga berencana membeli hak penamaan (naming rights) pada Stasiun LRT Jabodebek Kuningan, Jakarta.
Menurutnya, kerja sama soal hak penamaan stasiun ini juga turut berkontribusi positif terhadap pendapatan di luar penjualan tiket.
“Selain Visa, ada juga yang mau membeli naming rights tahun ini, seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk,” imbuhnya.
Terpisah, pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, kelanjutan LRT Jabodebek Fase II memang butuh pendanaan dari luar agar tidak membebani keuangan perusahaan, juga APBN.
Baca juga : Tenis ATP 500 Mexican Open 2025, Petenis Elite Berguguran
“Kalau dapat pendanaan dari investor, tentu lebih baik. Karena kapasitas fiskal Pemerintah terbatas,” kata Djoko kepada Rakyat Merdeka, Kamis (27/2/2025).
Terlebih, Pemerintah kini memiliki Badan Pengelola Investasi Danantara yang bisa menjembatani kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek strategis.
Menurutnya, sektor transportasi perlu didorong untuk menuju cost recovery agar ketergantungan terhadap subsidi dapat diminimalkan. Selain itu, permasalahan kemacetan juga masih menjadi isu utama transportasi di Jakarta dalam beberapa dekade terakhir.
Dia melihat, berbagai langkah penanggulangan masalah transportasi Jakarta masih terus dilakukan. Seperti menghadirkan layanan BRT (Bus Rapid Transit) Transjakarta, Non BRT, akomodasi angkutan dalam kota (angkot) Mikrotrans, pengoperasian MRT (Mass Rapid Transit), LRT, hingga revitalisasi layanan PT KAI. Sayang, upaya Pemerintah ini belum mampu mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum.
“Perbaikan masif di sektor transportasi umum belum membuahkan hasil optimal. Ini menguatkan pembuktian bahwa pembenahan sektor ini tidak bisa berdiri sendiri,” pungkas Djoko.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya