Dark/Light Mode

Bisnis Emas Melonjak, BSI Fokus Garap Produk Pembiayaan Hingga Penyimpanan Emas

Kamis, 6 Maret 2025 17:26 WIB
Direktur Sales and Distribution Bank Syariah Indonesia atau BSI Anton Sukarna. (Foto: Dok. BSI)
Direktur Sales and Distribution Bank Syariah Indonesia atau BSI Anton Sukarna. (Foto: Dok. BSI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Sales & Distribution PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI Anton Sukarna menekankan, bisnis emas BSI terus mengalami lonjakan pertumbuhan yang sangat signifikan melalui produk Gadai Emas, Cicil Emas, BSI Emas Digital dan BSI Gold.

Kehadiran bisnis bank emas ini akan melengkapi ekosistem yang sudah dibangun sebelumnya. 

“Pada tahun 2025, BSI akan fokus pada dua lini utama dalam bisnis bank emas yaitu penitipan emas dan perdagangan emas, melalui tiga fokus layanan,” ucapnya dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (5/3/2025) malam. 

Pertama, BSI Emas Digital yaitu jual-beli dan titip emas melalui Byond by BSI. Kedua, BSI Gold berupa kemudahan membeli emas fisik secara tunai dan cicil dengan harga kompetitif.  

Baca juga : Di Tengah Dinamika Pasar, BRI Fokus Kelola Risiko Jangka Panjang

Ketiga adalah pengembangan BSI ATM Emas untuk kemudahan cetak emas di pusat dan cabang BSI.  Bahkan BSI ATM Emas menjadi yang pertama di Indonesia yang dimiliki entitas yang menjalankan bisnis bank emas.  

“Ke depan, BSI akan memiliki sekitar 50 BSI ATM Emas yang saat ini juga sedang menunggu izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Karena nanti dalam ATM ini bisa mencetak emas yang dihubungkan dengan aplikasi Byond By BSI. Kami masih terus kembangkan,” ungkap Anton. 

Tak hanya itu, BSI juga menargetkan untuk bisa memperoleh izin dua kegiatan usaha bulion lainnya, yaitu, pembiayaan emas dan penyimpanan emas. 

Saat ini, BSI baru mengantongi izin usaha Bank Bulion untuk produk penitipan emas dan perdagangan emas. 

Baca juga : TBC Melonjak, Mahasiswa UIN Jakarta Gagas Program Kader Siaga di Katulampa

“Mudah-mudahan tahun ini kami bisa masukkan dua produk lainnya tersebut. Namun kembali lagi, itu tergantung assessment dari otoritas (OJK),” kata Anton. 

Diakuinya, banyak aspek yang harus disiapkan perseroan secara internal sebelum mengajukan izin kedua jenis usaha bulion tersebut kepada OJK. Mulai dari risk assessment kriteria, model bisnis yang dibangun, operasional modelnya, hingga sistem yang dibangun secara menyeluruh. 

Terakhir, Anton menambahkan, investasi emas bisa menjadi solusi untuk kesiapan pelunasan ibadah haji yang masa tunggunya 15-20 tahun. 

Hal ini karena nilai emas terus naik tiap tahunnya. Bahkan ia melakukan simulasi berdasarkan biaya haji yang setiap tahun naik, dan dibandingkan dengan jumlah emas yang dibutuhkan. 

Baca juga : Di Tanwir Aisyiyah, Menag Sampaikan Dukungan Penguatan Pemberdayaan Perempuan

Biaya ibadah haji sebesar Rp 49,8 juta setara 55,3 gram, biaya sebesar Rp 55,6 juta setara 42,7 gram emas, biaya sebesar Rp 60,2 juta setara 37,6 gram dan biaya sebesar Rp 65,2 juta setara Rp 32,6 gram.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.