Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melorot ke posisi Rp 17.200 per dolar AS pada perdagangan Senin (7/4/2025). Apakah posisi rupiah masih aman? Apa pengaruhnya ke ekonomi dalam negeri?
Mengutip data dari penyedia data keuangan global Refinitiv, rupiah sempat menyentuh Rp 17.217 per dolar AS pada pukul 09.16 WIB. Posisi tersebut hanya bertahan sekitar satu menit, nilai tukar rupiah langsung terkoreksi ke level Rp 16.927 per dolar AS pada pukul 10.01 WIB.
Pelemahan rupiah diduga akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menerapkan kebijakan tarif tambahan sebesar 32 persen terhadap produk-produk dari Indonesia.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia (BI) langsung mengambil langkah intervensi di pasar valuta asing, terutama di pasar off-shore Non Deliverable Forward (NDF).
Baca juga : 55 Persen Pemudik Telah Kembali Ke Jabodetabek
Langkah ini diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Senin (7/4/2025), sebagai respons terhadap gejolak pasar global yang dipicu oleh ketegangan perdagangan antara AS dan China.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, intervensi ini dilakukan sebagai upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan hebat akibat kebijakan tarif resiprokal kedua negara adidaya tersebut.
“Bank Indonesia melakukan intervensi secara berkesinambungan di pasar off-shore (NDF) di kawasan Asia, Eropa, hingga New York. Tekanan terhadap Rupiah terjadi saat pasar domestik libur panjang Idul Fitri 1446 H, dan BI tidak tinggal diam dalam menjaga stabilitas mata uang kita,” kata Denny dalam keterangan resmi, Senin (7/4/2025).
Sebagaimana diketahui, Pemerintah AS mengumumkan kebijakan tarif baru pada 2 April 2025, yang kemudian dibalas oleh retaliasi dari Pemerintah China pada 4 April. Ketegangan ini memicu arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini menyebabkan nilai tukar mata uang negara-negara tersebut melemah tajam.
Baca juga : Gerindra Senang Banget
Sebagai langkah lanjutan, BI juga akan melakukan intervensi agresif di pasar domestik mulai pembukaan perdagangan pada 8 April 2025. Intervensi ini mencakup transaksi valas spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Selain stabilisasi nilai tukar, BI juga akan mengoptimalkan instrumen likuiditas Rupiah guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sistem perbankan nasional,” tambah Ramdan.
Ramdan menegaskan, seluruh langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar serta investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang meningkat.
Melihat situasi ekonomi, Presiden Prabowo Subianto memanggil jajaran menteri untuk melakukan rapat terbatas di Istana Negara, Senin (7/4/2025).
Baca juga : KPK Tak Bisa Ikut Campur Soal Pemberian Remisi
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha Indonesia. Mereka mengkhawatirkan dampaknya terhadap biaya produksi dan daya saing industri. [BYU/MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya