Dark/Light Mode

Membangun Ekonomi ala Islam: Solusi Berkeadilan di Tengah Ketimpangan

Sabtu, 10 Mei 2025 00:02 WIB
Peluncuran rekening online syariah. (Foto: AMA/RM)
Peluncuran rekening online syariah. (Foto: AMA/RM)

Di tengah hiruk pikuk dunia modern yang semakin dikuasai angka-angka pertumbuhan, sering kali kita lupa bahwa esensi dari pembangunan ekonomi bukan hanya soal menumpuk kekayaan, tapi tentang bagaimana kekayaan itu didistribusikan secara adil. Di sinilah ekonomi Islam menawarkan pandangan yang segar dan menyejukkan.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang lebih fokus pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Islam memandang pembangunan sebagai proses menyeluruh yang menyentuh aspek material dan spiritual manusia. Tujuannya bukan sekadar memperkaya negara, tetapi memakmurkan umat.

Visi Pembangunan

Dalam Islam, pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ketauhidan, keadilan, dan keseimbangan. Arah pembangunan tidak hanya mengejar duniawi, tetapi juga harus membawa maslahat bagi kehidupan akhirat. Prinsip ini menuntut agar aktivitas ekonomi tidak melahirkan eksploitasi, kesenjangan ekstrem, atau kerusakan lingkungan.

Baca juga : Ekonomi Global Panas, OJK Yakin Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Bayangkan jika setiap kebijakan ekonomi diukur berdasarkan seberapa besar kemanfaatannya bagi umat, bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhannya. Inilah nilai yang ditawarkan Islam—bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang membawa rahmat bagi semesta.

Distribusi Kekayaan Merata

Salah satu kritik tajam terhadap sistem ekonomi modern adalah ketimpangan distribusi kekayaan yang makin menganga. Islam menyikapi masalah ini dengan pendekatan struktural, seperti kewajiban zakat, larangan riba, hingga dorongan untuk berinfak dan bersedekah.

Prinsip ini bukan sekadar ibadah, melainkan mekanisme distribusi kekayaan yang efektif. Dengan zakat, kekayaan tidak terpusat pada segelintir orang, tapi dialirkan kembali kepada yang membutuhkan. Ini bukan utopia, tapi sistem nyata yang telah dipraktikkan sejak masa Rasulullah.

Baca juga : Bangun Pondasi SDM Unggul, BRI Perkuat Pendidikan Di Daerah 3T Dengan Teknologi

Pembangunan Berbasis Nilai

Salah satu kekuatan ekonomi Islam terletak pada integrasi antara nilai moral dan aktivitas ekonomi. Tidak ada dikotomi antara "ekonomi" dan "etika". Seorang pelaku usaha bukan hanya dikejar profit, tetapi juga dituntut menjaga kejujuran, keadilan, dan keberkahan.

Dengan demikian, pembangunan ekonomi dalam Islam tidak boleh merusak lingkungan, mengabaikan hak buruh, atau menindas pihak yang lemah. Ini adalah bentuk pembangunan yang berkelanjutan secara spiritual dan sosial.

Jalan Tengah yang Menyeimbangkan

Baca juga : Luhut: Perlambatan Ekonomi Hal Wajar, MBG Bisa Jadi Motor Penting

Ketika dunia bingung memilih antara kapitalisme yang eksploitatif dan sosialisme yang represif, Islam menawarkan jalan tengah yang menyeimbangkan hak individu dan kepentingan kolektif. Pembangunan ekonomi bukan sekadar alat mencapai kemajuan material, tapi sarana mewujudkan keadilan sosial, keberkahan, dan kesejahteraan bersama.

Prasetyo Alfin Suwarno
Prasetyo Alfin Suwarno
Mahasiswa Universitas Pamulang, Semester IV, Prodi Ekonomi Syari’ah

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.