Dark/Light Mode

PGE Dukung EBT Dipercepat

Insentif Fiskal & Perizinan Tarik Investor Geothermal

Sabtu, 31 Mei 2025 07:00 WIB
Direktur Utama PGE Julfi Hadi (kanan). (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.ID)
Direktur Utama PGE Julfi Hadi (kanan). (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), anak usaha PT Pertamina (Persero) memainkan peranan penting dalam mewujudkan target menyediakan energi terbarukan. Hal tersebut dapat dilihat dari kontribusinya selama ini.

PGE menyambut positif inisiatif Pemerintah memanfaatkan energi hijau. Hal ini guna men­dorong agenda transformasi bauran energi nasional Pemerintah melalui Rencana Usaha Penye­diaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, dengan menetapkan target perluasan kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 76 persen dalam periode 2025-2034.

Direktur Utama PGE Julfi Hadi mengatakan, selama periode tersebut, kapasitas pembangkit listrik ditargetkan bertambah sebesar 69,5 GW (Gigawatt).

Dari jumlah tersebut, 42,6 GW akan berasal dari pembangkit EBT dan 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi (storage).

“Panas bumi ditargetkan me­nyumbang kapasitas sebesar 5,2 GW,” kata Julfi di Jakarta, Selasa (27/5/2025).

PGE menilai, arah kebijakan nasional ini sudah berada dalam jalur yang sama dengan visi dan misi perseroan.

Julfi pun menegaskan, dalam mendukung target nasional tersebut, PGE terus berkomit­men menjaga momentum per­cepatan pertumbuhan. Ini sebagai bagian dari kontribusinya terhadap bauran energi.

Dia juga menekankan, peningkatan porsi EBT dalam pembangkit listrik nasional menjadi langkah strategis untuk mendorong swasembada energi.

Baca juga : Biar Berfungsi Optimal, Jangan Lupa Dirawat Ya

“Yang tak kalah penting, kebi­jakan ini juga akan memperkuat mata rantai ekonomi berbasis potensi sumber daya dalam negeri,” ungkapnya.

Untuk itu, sambung Julfi, PGE siap berkontribusi aktif untuk menyediakan energi lokal (indigenous) yang andal, meng­gerakkan ekonomi lokal dan regional.

“Sekaligus mendukung pen­capaian target-target nasional melalui pengembangan proyek-proyek kunci,” katanya.

Menurut Julfi, beberapa proyek kunci PGE untuk menca­pai target tersebut mencakup pengembangan Lumut Balai Unit 2 (55 MW), Hululais Unit 1 & 2 (110 MW). Serta sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW.

Julfi melanjutkan, proyek panas bumi Lumut Balai Unit 2 ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini. Dan akan berkontribusi pada tambahan kapasitas terpasang PGE.

Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGE menargetkan peningkatan kapasitas terpasang dari 672 MW menjadi 1 GW dalam dua tahun ke depan, dan 1,7 GW pada 2034.

“Lebih dari itu, perusahaan telah mengidentifikasi potensi cadangan sebesar 3 GW dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola sendiri,” terangnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Maret 2025, PGE menunjukkan performa positif, dengan men­catatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I-2025.

Baca juga : Dhika Himawan, Masih Sleep Call Meski Udah Nikah

PGE berhasil membukukan pendapatan sebesar 101,51 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 1,65 triliun di sepan­jang periode tersebut.

Laporan keuangan PGE menegaskan komitmen perseroan, untuk mendorong hadirnya eko­sistem energi berkelanjutan, dengan memastikan berjalannya percepatan transisi energi.

“Dan diharapkan mempercepat tercapainya kedaulatan energi nasional, melalui pemanfaatan energi panas bumi,” tutup Julfi.

Terpisah, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mendukung upaya yang dilaku­kan Pertamina bersama anak usahanya itu.

Menurut Fahmy, PGE telah memainkan peran penting dalam mewujudkan energi terbarukan secara global. Sehingga keseriusan PGE untuk mengembang­kan hadirnya dunia yang lebih bersih, harus diapresiasi.

“Khususnya, dalam mengem­bangkan EBT dan energi hi­jau,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Fahmy mengatakan, Indone­sia memiliki potensi yang besar, terutama untuk energi panas bumi yang menjadi nomor tiga terbesar di dunia.

Sumber geothermal Indonesia cukup besar, sambung Fahmy, kemungkinan yang terbesar ketiga setelah Rusia.

Baca juga : Blusukan ke IKN, Gibran Minta Beringin Ditanam di Istana Wapres

“Tetapi pemanfaatannya masih minim. Belum optimal karena ada berbagai hambatan. Ketersediaan infrastruktur pun masih terbatas,” katanya.

Fahmy menegaskan, sektor industri telah berkontribusi dalam upaya pemanfaatan pa­nas bumi demi agenda transisi energi.

Namun Fahmy menggaris­bawahi, infrastruktur, pendanaan, dan perizinan masih men­jadi tantangan bagi para pelaku industri untuk memanfaatkan panas bumi.

“Tak hanya dibutuhkan usaha dari PGE sendiri, tetapi juga peran dari regulator, agar agenda transisi energi berjalan lancar,” sarannya.

Fahmy juga mendorong peran regulator melalui pemberian insentif fiskal atau pembebasan pajak bagi para investor yang masuk ke pengembangan geo­thermal.

Di samping itu, lanjutnya, Pemerintah juga perlu menyiap­kan infrastruktur yang memadai. Sehingga upaya eksploitasi sumber panas bumi akan lebih mudah dilakukan.

“Selanjutnya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah juga perlu memberikan kemu­dahan dalam hal perizinan,” imbaunya.

Hal tersebut diyakininya akan membawa Indonesia menuju swasembada energi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.