Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penciptaan lebih dari 1,7 juta peluang kerja di sektor ketenagalistrikan nasional.
Koaksi Indonesia menilai bahwa 91 persen dari 836 ribu tenaga kerja di subsektor pembangkitan merupakan pekerjaan ramah lingkungan atau green jobs, yang dapat menjadi peluang ekonomi strategis di tengah transisi energi nasional.
“Transisi menuju energi terbarukan membutuhkan keterampilan baru. Green jobs adalah jembatan menuju daya saing regional dan investasi hijau yang berkelanjutan,” kata Manajer Advokasi Kebijakan Koaksi Indonesia, A Azis Kurniawan, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/6/2025).
Baca juga : Inflasi 2024 Capai 1,57 Persen, Terendah Sepanjang Sejarah
Ia menegaskan, potensi tersebut harus dibarengi dengan kesiapan tenaga kerja nasional, khususnya dalam pengembangan kapasitas di tingkat lokal dan daerah, termasuk bagi masyarakat terdampak dari sektor energi fosil.
Berdasarkan studi Koaksi Indonesia bersama BOI Research (2024), sebanyak 76 persen responden orang muda menyatakan minat untuk bekerja di sektor yang berdampak positif terhadap lingkungan. Namun, keterbatasan informasi, akses pelatihan, dan dukungan kebijakan menjadi tantangan utama dalam penyiapan keterampilan mereka.
Azis menekankan pentingnya implementasi konkret dari Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia yang diluncurkan oleh Bappenas pada April 2025. “Tanpa peta jalan yang terukur, peluang 91 persen green jobs ini bisa tidak tersentuh oleh kelompok yang paling membutuhkan pekerjaan,” katanya.
Baca juga : RUPS 2023, PLN Nusantara Power Cetak Kinerja Gemilang
Data RUPTL 2025–2034 menunjukkan bahwa sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebanyak 348 ribu orang, disusul oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebanyak 129 ribu orang, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebanyak 42 ribu orang.
Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menambahkan bahwa kualitas pekerjaan hijau juga harus menjadi perhatian utama, terutama dalam konteks keberlanjutan sosial dan lingkungan.
“Green jobs tidak bisa dimaknai hanya sebagai angka. Harus dipastikan bahwa pekerjaan tersebut layak, berkelanjutan, dan relevan dengan potensi lokal,” ujarnya.
Baca juga : Belgia Bernafas, Kevin De Bruyne Bikin Gol
Koaksi Indonesia menyambut baik target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 61 persen dari total penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW. Namun, mereka menekankan perlunya program upskilling dan reskilling yang inklusif agar penciptaan green jobs dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
Koaksi juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah, antara lain: menyusun strategi nasional reskilling dan upskilling berbasis peta jalan green jobs; melibatkan pemerintah daerah, sektor swasta, dan institusi pendidikan dalam pengembangan pelatihan; mengikutsertakan orang muda melalui sekolah vokasi, SMK, dan program pemagangan; dan menerapkan prinsip keadilan sosial dalam seluruh proses transisi energi.
“Green jobs dapat menjadi fondasi ekonomi hijau yang inklusif dan adil jika dirancang secara terencana dan berkelanjutan,” tutup Indra Sari.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya