Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menuju Spin-off, BTN Teken Akta Jual Beli Bank Victoria Syariah
Kamis, 5 Juni 2025 19:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Impian PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN melahirkan Bank Umum Syariah (BUS), BTN Syariah sebagai bank syariah nomor dua terbesar di Indonesia semakin dekat.
BTN resmi menandatangani Akta Jual Beli dan Pengambilalihan Saham PT Bank Victoria Syariah (BVIS) sebagai bagian dari proses pemisahan (spin-off) BTN Syariah, selaku unit usaha syariah (UUS) milik BTN .
Penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan Saham tersebut dilakukan BTN bersama-sama para pemegang saham BVIS. Yakni, PT Victoria Investama Tbk dan PT Bank Victoria International Tbk di Menara BTN 1 Jakarta Kamis (5/6/2025).
“Proses spin-off BTN Syariah direncanakan dapat berlangsung sekitar Oktober hingga November tahun ini,” ungkap Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu di kesempatan yang sama.
Setelah spin-off, diharapkan BTN Syariah yang digabungkan dengan BVIS akan menjadi lebih besar. BTN, ujar Nixon, sudah berjanji kepada Menteri BUMN (Erick Thohir) bahwa bank syariah baru ini ditargetkan untuk menjadi bank syariah terbesar kedua dalam kurun waktu yang tidak lama, dengan bisnis yang efisien, inklusif, dan berbasis nilai-nilai syariah.
“Kalau soal nama, sebenarnya kami sudah ada ancer-ancer nama baru. Tapi bukan dari saya, bahkan ini dari Presiden Prabowo Subianto,” kata Nixon.
Nama baru, yang akan ditentukan Presiden Prabowo itu, berdasarkan usulan BTN dan Menteri BUMN, serta diharapkan bank baru ini akan diresmikan dan beroperasi setidaknya sebelum tahun 2025 berakhir.
Baca juga : SIM Keliling Bekasi Jumat 9 Mei Hadir Di Mitra 10 Jatimakmur
“Namun kami tidak dapat menyebutkan calon namanya sekarang karena ada unsur legal,” ungkap Nixon.
Nantinya, perlu dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham baik di BTN maupun Bank Victoria Syariah karena akan ada perubahan anggaran dasar, merk, dan lain-lainnya.
Nixon memastikan, aksi korporasi ini merupakan bagian dari inisiatif strategis BTN untuk melakukan pemisahan (spin-off) BTN Syariah menjadi BUS, sehingga memenuhi peraturan regulator dan perundang-undangan negara.
Nixon mengatakan, BTN melakukan penandatanganan dokumen akuisisi tersebut pada 5 Juni 2025 setelah menerima surat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon perusahaan pengendali.
Baru-baru ini, BTN juga telah meraih persetujuan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan spin-off terhadap BTN Syariah.
Dikatakannya, secara resmi sudah mendapatkan izin-izin yang dibutuhkan. Karena itu, BTN segera menandatangani Akta Jual Beli ini.
“Nilainya kurang lebih Rp 1,5 triliun atau sekitar 1,4 hingga 1,5 kali buku BVIS,” sebut Nixon.
Baca juga : SIM Keliling Bekasi Jumat 2 Mei Hadir Di Mitra 10 Jatimakmur
Dengan visi menjadikan BTN Syariah sebagai bank BUKU 2, Nixon mengatakan dibutuhkan modal awal sekitar Rp 6 triliun yang berasal dari pendanaan BTN sekitar Rp 3,5 triliun hingga Rp 4 trilliun.
Kemudian nilai pembelian BVIS Rp 1,5 triliun, serta rights issue sebesar Rp 1 triliun yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.
“Untuk memenuhi kategori BUKU 2 dan Capital Adequacy Ratio (CAR)-nya kita buat mirip dengan kondisi BTN hari ini, yaitu sekitar 18 hingga 19 persen, sehingga bank baru ini nantinya bisa langsung ekspansi,” ungkap Nixon.
BTN memilih untuk mengakuisisi BVIS dan menggabungkannya dengan BTN Syariah ketimbang membangun bank baru karena prosesnya yang lebih mudah dan lebih cepat.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2023 dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, sebuah unit usaha syariah diwajibkan untuk dipisahkan dari induk bank konvensionalnya jika nilai asetnya mencapai 50 persen dari total nilai aset induknya atau memiliki aset paling sedikit Rp 50 triliun.
Pada akhir 2023, total aset BTN Syariah telah mencapai Rp 54,28 triliun, sehingga BTN Syariah wajib spin off dalam kurun waktu dua tahun setelah laporan keuangan tersebut, yakni sebelum tahun 2025 berakhir.
“Di bulan Oktober tahun ini mungkin asetnya sudah mencapai sekitar Rp 65 hingga Rp 67 triliun, jadi nantinya dengan adanya bank syariah BUKU 2 yang baru,” ujarnya.
Baca juga : Pemegang Saham Restui BTN Akuisisi Bank Victoria Syariah
Indonesia, kata Nixon, akan punya ekosistem perbankan syariah yang lebih baik. Sebab market perbankan syariah ini besar, tidak mungkin hanya dilayani satu pemain saja.
Sementara itu, Direktur Utama Victoria Investama Aldo Jusuf Tjahaja mengaku optimistis, BVIS di bawah naungan BTN akan menjadi lembaga keuangan syariah yang bertumbuh dan lebih kompetitif di masa yang akan datang.
“Langkah strategis ini, akan membuka peluang besar bagi para pemain lainnya untuk memperkuat ekosistem perbankan syariah Indonesia,” ucapnya.
Aldo berharap, BVIS akan menjadi salah satu institusi pemain kuat di perbankan syariah Indonesia.
“Semoga kolaborasi ini dapat menjadi kemitraan strategis bersama dan mampu mendukung ekonomi masyarakat dan khususnya ekonomi nasional melalui sektor jasa keuangan syariah,” pungkas Aldo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya