Dark/Light Mode

GeoEconomic Mediator, Anti-Tesis Proxy War

Rabu, 11 Juni 2025 10:44 WIB
Dr Tito Sulistio. (Foto: dok pribadi)
Dr Tito Sulistio. (Foto: dok pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Globalisasi terakhir ini terasa sampai pada titik menimbulkan ketidak puasan dan menciptakan polarisasi kekuatan.

Dani Rodrik seorang pemikir Turki berpendapat bahwa Globalisasi membuat negara menghadapi pilihan dari Trilema ekonomi. Negara harus memilih 2 dari 3 kondisi. 1. Integrasi Ekonomi Global. 2. Kedaulatan Nasional. 3. Demokrasi Politik. Negara tidak bisa menentukan nasibnya sendiri tanpa melihat situasi global. 

Apakah ini artinya “the End of the nation states” (Kenichi Ohmae), dimana masa depan ada di tangan entitas subnasional dan supranasional yang lebih dinamis, terbuka, dan terhubung?.

Mungkin tidak. Tapi dunia saat ini mangkin terpolarisasi diantara beberapa kekuatan besar. 

Kekuatan Pemerintahan dengan dukungan politik, kekuatan negara dengan kepemilikan persenjataan, atau kekuatan pemimpin pemerintahan yang mempunyai ambisi untuk menciptakan “legacy”. Mayarakat awam mulai meragukan bahwa polarisasi kekuatan ini akan bisa berdamai untuk tidak “menang menangan”, dan punya kepedulian akan dunia yang menyenangkan untuk dihuni.

Karenanya muncul satu kebutuhan mendesak: adanya suatu forum netral yang mampu menjembatani konflik global tanpa senjata, tanpa sanksi, tanpa ego dan tanpa propaganda. Dalam dunia yang saling terhubung oleh rantai pasok, sistem pembayaran, dan pasar modal, aktor-aktor ekonomi sebetulnya memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan damai. Bagaimana jika mereka Bersama menjadi "GeoEconomic Mediator"-sebuah forum non-negara yang menjadi antitesis dari dominasi proxy war.

Baca juga : Epson Resmi Mengumumkan Pergantian Presiden Baru

Sebagaimana dikatakan Henry Kissinger: "Who controls the food supply controls the people; who controls the energy can control whole continents; who controls money can control the world."

Kutipan ini menunjukkan bahwa dunia bukan dikuasai satu kekuatan tunggal, tetapi oleh pembagian dominasi berbasis sumber daya strategis. Maka forum kolaboratif ekonomi bisa menjadi kekuatan baru.

Dunia yang Dikuasai Proxy

Rivalitas AS–China, embargo atas Iran, sanksi atas Rusia, bahkan melemahnya Rupiah di akhir 1998 adalah contoh nyata dari adanya proxy war versi modern-bukan dengan peluru, tapi dengan tarif, sanksi, pemblokiran teknologi, dan kontrol logistik. Dunia telah bergeser dari perang konvensional ke perang geoekonomi. Perang Proxy. Namun, perang ini tetap membawa kehancuran: lonjakan harga pangan, disrupsi energi, kelumpuhan pasar negara berkembang, meningkatnya kemiskinan dan ketegangan global yang mengikis kepercayaan lintas bangsa.

Ekonomi Sebagai Solusi, Bukan Senjata

"GeoEconomic Mediator" lahir dari gagasan bahwa kekuatan ekonomi global yang terorganisasi dapat menjadi pihak ketiga netral-bukan untuk menegosiasikan kekuasaan, tetapi keberlangsungan sistem.

Baca juga : Ekonomi Terkendali, Inflasi Rendah, Prabowo Happy

Apa jadinya jika: World Chamber of Commerce & Industry, World Federation of Exchanges, Forum pelaku rantai pasok global serta para fund & asset management bersatu dalam satu koalisi mediasi ekonomi dunia. Duduk Bersama menjalankan Fungsi GeoEconomic Mediator, mencari mandat untuk:

  1. Menjadi mediator dalam konflik dagang dan sanksi-memfasilitasi dialog antara pelaku ekonomi dari blok negara yang berseteru.
  2. Memberi Peringatan dini terhadap disrupsi geoekonomi-rantai pasok, energi, pangan, logistik.
  3. Menyusun standar perdagangan netral-lintas ESG, hak digital, karbon, dan prinsip perdagangan yang adil.
  4. Penguat suara negara berkembang dan UMKM global-agar kepentingan akar rumput ekonomi tidak terseret geopolitik elitis.

Mengapa Indonesia Relevan?

Indonesia berada di simpul geoekonomi dunia. Bukan bagian dari kutub kekuasaan, tetapi mitra strategis dari semua blok: G20, ASEAN, BRICS+. Dengan sejarah diplomasi bebas aktif, Indonesia memiliki legitimasi moral dan kapasitas politik untuk menjadi host atau sponsor awal bagi inisiatif ini. Indonesia mampu menjalankan fungsi financial diplomator mendudukan bahkan para oligarki dunia, yang secara langsung atau tidak mempunyai kepentingan di Indonesia.

Menuju Dunia Multi-Kutub yang Kooperatif

Bisa menjadi sebuah kesalahan jika kita menyerahkan masa depan dunia hanya pada logika militer atau kekuasaan negara apalagi kepada ambisi kekuasaan para pemimpin “dunia”. Jika pasar modal, bursa saham, UMKM, eksportir, dan investor bisa terhubung lintas negara-maka mereka juga bisa berunding, bekerja sama, dan saling menjaga.

Alih-alih pecah menjadi dua blok ekonomi (dolar vs yuan, SWIFT vs CIPS), dunia seharusnya diarahkan ke multi-kutub kooperatif. Di sinilah GeoEconomic Mediator memainkan peran unik: Menyatukan pelaku ekonomi lintas ideologi, Memprioritaskan stabilitas sistem daripada dominasi politik dan Menjadi penghubung ketika semua saluran formal lumpuh.

Baca juga : Transformasi Ekonomi Hijau, Indonesia Mulai Perdagangan Karbon

GeoEconomic Mediator bukan mimpi, melainkan konsekuensi logis dari kelelahan masyarakat global terhadap perang tanpa ujung dan diplomasi tanpa hasil.

Dunia butuh jembatan baru-bukan yang dibangun dari beton, bukan perwakilan kekuatan senjata, bukan narasi legacy para pemimpinnya, tapi dari kepercayaan ekonomi.

Oleh: Dr Tito Sulistio

Penulis adalah Anggota Badan Supervisi OJK

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.