Dark/Light Mode

Investasi Rp 100 M, CT Advance Gandeng Tubacex Produksi Pipa Baja Tahan Karat

Rabu, 11 Juni 2025 18:59 WIB
PT CT Advance Technology menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan baja global asal Spanyol, Tubacex Group produksi pipa baja antikarat. (Foto: Ist)
PT CT Advance Technology menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan baja global asal Spanyol, Tubacex Group produksi pipa baja antikarat. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT CT Advance Technology resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan baja global asal Spanyol, Tubacex Group, untuk memproduksi pipa baja tahan karat berkualitas tinggi di Indonesia untuk proyek migas. 

Penandatanganan dilakukan di Hotel Park Hyatt, Jakarta, Rabu (11/6/2025), dan disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta.

Kerja sama strategis ini difokuskan pada produksi material baja tahan karat berkualitas tinggi seperti Austenitic, Duplex, Super Duplex, dan 6Mo, serta berbagai produk pipa dan fitting berbahan baku paduan tinggi lainnya. Produk-produk ini akan digunakan terutama untuk mendukung proyek-proyek industri migas nasional, seperti BP Tangguh UCC dan Kutei North Hub.

Baca juga : Kemenperin: Kolaborasi CT Advance–Tubacex Perkuat Hilirisasi Industri Baja

“Kami targetkan bisa produksi 10 ribu ton per tahun. Jangan dibandingkan dengan baja biasa. Baja ini harganya 15–20 kali lipat,” ujar Presiden Direktur PT CT Advance Technology, Henry Leo.

Pada tahap awal, PT CT Advance Technology menggelontorkan investasi sebesar Rp100 miliar untuk proses hilirisasi produk setengah jadi dari Tubacex Group. Proses ini akan dilakukan di fasilitas produksi perusahaan yang berlokasi di Cilegon, Banten, dan diperkirakan menciptakan 50 lapangan kerja baru.

“Ini hanya tahap pertama. Ke depan, kami rencanakan tambahan investasi sekitar Rp200 miliar untuk memperluas ke proses yang lebih hulu. Seperti yang Pak Tata (Dirjen Ilmate) bilang, ini kita lakukan step by step, sampai akhirnya kita bisa sepenuhnya menggunakan bahan lokal tanpa impor,” kata Henry.

Baca juga : Kena Retas, Bank DKI Gandeng IBM Perbaiki Sistem Layanan

Dari sisi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), Henry menyebut angka saat ini sudah mencapai lebih dari 40 persen. Ia optimistis produk dalam negeri tersebut akan lebih kompetitif dibandingkan dengan impor, karena biaya produksi lebih efisien dan teknologi mesin yang digunakan merupakan teknologi terbaru.

“Ini yang kita janjikan kepada pemerintah,” tambahnya.

Sementara itu, Dirjen Ilmate Setia Diarta menyampaikan apresiasinya terhadap kemitraan strategis ini, dan berharap inisiatif tersebut menjadi langkah awal menuju industri baja nasional yang lebih tangguh dan berdaya saing global.

Baca juga : Investasi Di Tangerang Meningkat, LPKR Luncurkan Produk Hunian Komersial

“Dengan membangun kapabilitas industri ini di dalam negeri, kita sedang menyiapkan fondasi bagi industri yang berorientasi ekspor,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini, termasuk dalam hal alih teknologi yang dinilai sangat krusial untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi industri baja nasional.

“Kami yakin Nota Kesepahaman ini akan memperkuat fondasi industri Indonesia dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, khususnya di bidang teknologi maju seperti material baja eksotik yang diperkenalkan oleh Tubacex Group,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.