Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Boeing Dukung Industri Pertahanan RI Lewat Offset, Pendidikan Dan MRO
Kamis, 12 Juni 2025 21:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Raksasa industri dirgantara Amerika Serikat, Boeing, menyatakan komitmennya untuk mendukung kemajuan industri pertahanan Indonesia. Komitmen ini diwujudkan melalui program offset, dengan fokus pada pendidikan, pelatihan teknis, serta penguatan industri lokal.
“Kami siapkan offset untuk Indonesia, sebagaimana digariskan undang-undang di Indonesia,” kata Regional Director Boeing Defense, Space & Security untuk India, Asia, dan Pasifik, Randy Rotte pada seminar bertajuk “Optimizing the Defense Industry through Technology Transfer (ToT) and Research and Development (RnD)”, di ajang Indo Defence 2024, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2025).
Offset tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut Nota Kesepahaman pembelian 24 unit pesawat tempur F-15EX oleh Indonesia yang diteken Agustus 2023. Boeing menaruh perhatian khusus pada peningkatan kapabilitas STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), lewat kerja sama dengan sekolah dan universitas lokal.
Baca juga : Kemenhan Tetapkan 5 Industri Jadi Pendukung Pertahanan Negara
Tak hanya itu, Boeing juga siap mendukung pengembangan sektor MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) melalui pelatihan teknisi, pembangunan fasilitas pemeliharaan, serta penguatan logistik. Targetnya, Indonesia bisa mandiri dalam merawat sistem persenjataan, dan bahkan bisa mengekspor jasa MRO ke negara lain.
Namun, tak semua pihak yakin skema ToT akan berjalan mulus. Sekretaris Badan Litbang Kemhan, Marsma TNI S Arief Hardoyo menilai, ToT sulit dilakukan dalam pembelian skala kecil. "Kalau kita beli hanya lima atau 10 unit, rasanya mustahil produsen mau berbagi teknologi. Kalau sudah bisa bikin sendiri, ngapain lagi beli?” ujarnya blak-blakan.
Arief mencontohkan, saat Indonesia membeli F-16, offset saja sudah cukup bagus. Tapi untuk transfer teknologi, menurutnya, terlalu muluk. “Yang realistis itu kita kuasai dan curi ilmu dari mereka,” tambahnya.
Baca juga : Hari Media Sosial: Apakah Ini Perayaan atau Pemakaman Kecerdasan Manusia?
Senada, Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Dena Hendriana, menyebut bahwa ToT dan R&D hanyalah sebagian proses dari pengembangan pesawat. Yang lebih krusial adalah aspek sertifikasi, yang memerlukan proses panjang dan biaya besar. “Tanpa sertifikasi, produk tidak bisa digunakan secara luas. Ini tantangan besar bagi industri dalam negeri,” tegasnya.
Sementara itu, Sena Maulana dari KKIP yang pernah terlibat dalam proyek ToT kendaraan tempur 6x6 dari Korea Selatan, menyebut ToT selama ini lebih banyak gagal ketimbang berhasil. “Tiga bulan di Korsel, yang kami dapat hanya teori. Begitu mau bongkar kendaraan, tidak diizinkan. Padahal kita sudah bisa merakit di Indonesia,” ungkapnya.
Meski begitu, ia mengaku tetap mendapatkan pelajaran penting: etos kerja warga Korea yang sangat disiplin dan menghargai waktu.
Baca juga : Bamsoet Dorong Peningkatan Industri Modifikasi Kendaraan di Indonesia
Peneliti dari RSIS Singapura, Adhi Priamarizki menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi, yang dikenal dengan konsep triple helix,” untuk membangun ekosistem pertahanan yang berkelanjutan. Ia juga mendorong pembentukan lembaga riset pertahanan yang terpusat, agar pengembangan teknologi lebih terarah dan efisien.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya