Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Bukan Tambang Sembarang, Harita Nickel Pilih Dibedah IRMA
Minggu, 15 Juni 2025 10:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel terus menunjukkan komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ini secara sukarela mengajukan diri untuk diaudit berdasarkan standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), standar pertambangan paling ketat di dunia.
Audit dilakukan secara independen oleh lembaga internasional SCS Global Services dalam dua tahap. Kajian dokumen dimulai sejak Oktober 2024, dilanjutkan audit lapangan pada April 2025.
Hasil akhir audit dijadwalkan dirilis secara publik tahun ini, baik secara lokal maupun melalui situs resmi IRMA.
“Ini adalah komitmen kami terhadap praktik tambang yang baik, transparan, dan bertanggung jawab. Jika berhasil, Harita Nickel akan menjadi perusahaan nikel terintegrasi pertama di Asia yang memperoleh sertifikasi IRMA,” kata Deputy Dept Head HSE Harita Nickel Iwan Syahroni dalam diskusi bersama jurnalis energi di Pulau Obi, Sabtu malam (14/6/2025).
Ia didampingi GM External Relation & Community Development Dindin Makinudin.
Baca juga : Iran dan Israel Perang, Striker Inter Milan Kejebak Di Teheran
Penilaian IRMA mencakup lebih dari 1.000 indikator, terdiri atas 600 poin administrasi dan 400 poin audit lapangan.
Audit ini menilai aspek-aspek krusial seperti penghormatan terhadap hak asasi manusia, keselamatan kerja, keterlibatan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta tanggung jawab sosial.

Uniknya, proses ini juga melibatkan para pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, daerah, hingga kelompok masyarakat sipil yang selama ini dikenal kritis terhadap pertambangan.
Iwan menjelaskan bahwa sertifikasi IRMA menjadi tolok ukur global dalam praktik pertambangan berkelanjutan dan etis.
Dengan mengikuti proses ini, Harita Nickel tidak hanya ingin menunjukkan transparansi, tetapi juga memperluas jangkauan pasar nikel Indonesia.
“Banyak negara seperti di Eropa dan Amerika yang membutuhkan nikel berstandar tinggi. Apalagi produsen otomotif besar seperti Ford dan BMW sudah menerapkan IRMA dalam rantai pasoknya,” jelas Iwan.

Baca juga : PU Lakukan Pengembangan Kapasitas Pemimpin Masa Depan
Corporate Affairs Manager Harita Nickel Anie Rahmi, menambahkan bahwa langkah menuju sertifikasi IRMA juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memenuhi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) global.
Hasil audit akan menjadi dokumen publik yang bisa dilihat semua pihak.
“Kalau nanti kami bisa capai skor 50 persen saja, itu sudah luar biasa. Kami mohon dukungan semua pihak,” kata Anie.
Ia menambahkan bahwa perusahaan diberi waktu enam bulan untuk melakukan perbaikan apabila ditemukan catatan dalam hasil audit IRMA.
“Ini bukan sekadar penilaian. Kami ingin menjadikan ini sebagai cermin perbaikan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan langkah ini, Harita Nickel berharap bisa menjadi pionir tambang nikel di Indonesia yang diakui dunia karena keterbukaan, kepatuhan terhadap standar global, dan keberlanjutan operasi.
Baca juga : Buka Lembaran Baru, Model Lalu Carlos Rilis Mini Album CTRL+N
Sebagai informasi, Harita Nickel merupakan bagian dari Harita Group yang mengelola pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi di Pulau Obi. Sejak 2017, Harita mengoperasikan smelter nikel saprolit dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Sejak 2021, mereka juga mengoperasikan fasilitas pemurnian nikel limonit dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), yang menghasilkan produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
MHP dari Harita kemudian diproses lebih lanjut menjadi Nikel Sulfat (NiSO₄), bahan utama katoda baterai kendaraan listrik. Ini sekaligus menjadi kontribusi perusahaan dalam mendukung program hilirisasi nasional dan transformasi energi masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya