Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Haji Ma’ruf dan HKI: Menuju Bangkitnya Industri Indonesia
Jumat, 20 Juni 2025 07:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - “Apa yang kamu yakini, jalankan. Dan jangan lupa, usaplah kepala anak yatim piatu, supaya kamu berhasil” – Haji Ma’ruf
Dari perantau yang bekerja serabutan, hingga kini telah sukses membangun ribuan hektar kawasan industri di Kepulauan Riau. Itulah gambaran sosok Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Terpilih Akhmad Ma’ruf Maulana atau yang juga akrab disapa “Haji Ma’ruf”.
Pria kelahiran Sumenep, Jawa Timur, 4 September 1969, ini terpilih secara aklamasi dalam Munas IX HKI di Jakarta, sebagai Ketua Umum HKI periode 2025-2029. “Saya (pengusaha) suka uang, tapi uang bukan segala-galanya. Saya itu nggak bisa diukur dengan uang,” tegasnya.
Pernyataan Haji Ma’ruf tersebut tentu menarik mengingat dirinya adalah seorang pengusaha kawasan industri besar di Indonesia. Wiraraja Group miliknya adalah kelompok perusahaan di sektor industri dan energi, yang punya peran strategis dalam lanskap industri energi nasional. “Seperti kebanyakan orang, saya berangkat dari bukan siapa-siapa,” ujarnya.
Dia berasal dari Madura, hidup di lingkungan masyarakat yang bisa dikatakan budayanya cukup keras dan religius. "Saya lahir dari keluarga yang hidupnya pas-pasan, seperti banyak orang juga tahu bagaimana kebanyakan keluarga Madura di masa itu. Nah, dari situ saya punya keinginan untuk mengubah hidup,” imbuhnya.
Dia lalu menuturkan perjalanan panjang hidupnya, tentang bagaimana upaya untuk mengubah arah hidup dari seorang anak dari keluarga sederhana hingga kini dikenal sebagai seorang saudagar asal Madura. Dia merantau ke berbagai daerah, dari Papua sampai Jakarta. “Bekerja menyambung hidup juga macam-macam yang saya jalani, mulai dari jadi buruh cuci mobil, sampai jadi kernet bus trayek Blok M-Ciputat,” kenangnya.
Baca juga : Ketum DPP LDII: Haji Mabrur dan Kurban, Pijakan Bangun Peradaban Bangsa
Dari merantau itu, dia ditempa banyak pengalaman dan wawasan. "Tapi intinya saya melihat keberhasilan orang itu dari disiplin atas kerja kerasnya. Saya sempat berpikir, 'Kenapa orang itu bisa ya?', 'Apakah saya juga bisa?', itu yang membentuk saya. Bagi saya, kalau orang lain bisa, kita juga wajib bisa! Pasti! Tidak ada yang tidak mungkin,” ujarnya.
Melihat Peluang dalam Krisis
Sebelum dikenal sebagai pemilik kawasan industri di Batam, Kepulauan Riau, perjalanan bisnis Haji Ma’ruf bermula dari industri plastik berskala kecil, lalu berkembang jadi satu pabrik, yang kemudian terus bertambah.
Saat krisis ekonomi datang menghantam, naluri bisnisnya justru datang menuntun. Dia melihat peluang untuk tidak hanya mengembangkan pabrik, tapi membuat satu kawasan industri. Lalu, ketika dunia mulai sibuk bicara energi bersih, dia membuat satu lagi terobosan besar. “Saya menangkap peluang, akhirnya saya masuk ke industri energi bersih,” katanya.
Dia melakukan sebuah perubahan di industri, tapi tidak serta merta meninggalkan sektor industri yang sudah ada. "Jadi industri yang sudah ada kita tetap pertahankan, terus dikembangkan ke kawasan industri. Nah dari situ kita ekspansi ke energi bersih,” imbuhnya.
Menemukan Arti Hidup dari Anak Yatim Piatu
Namun, perjalanannya juga tidak selalu mulus. Ada masa jatuh bangun yang juga dia lalui dalam perjalanannya sebagai seorang pengusaha. Dia mengenang yang menjadi titik balik terbaik dalam hidupnya.
“Mungkin tidak bisa saya ceritakan dalam satu malam. Tapi begini, ada masanya bisnis saya jatuh juga. Sebelumnya, apa pun, saya selalu dikasih sama Allah, minta anak dikasih, istri cantik dikasih, semua perusahaan berkembang, kemudian datang masa-masa sulit itu. Saya berpikir apa yang salah dengan saya….?”
Baca juga : Gandeng UMKM Lokal, Perusahaan Kesehatan Taiwan Ini Dukung Indonesia Maju 2045
Cerita berlanjut. “Semakin saya pikir, semakin saya mencoba untuk evaluasi… oh ya, akhirnya saya merasa, mungkin ada masanya juga saya nakal, bisa jadi ada bisnis saya yang kotor," ucapnya.
Pada titik itu, dia berusaha untuk membenahi diri. "Saya minta selamat sama Allah. Bahkan saya menjual sebagian aset dan mulai aktif memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu," tersngnya.
Ternyata, justru dari situ dia menemukan sebuah arti hidup. "Dan memang ternyata dalam berbisnis itu ada hak untuk anak-anak yatim piatu. Saya percaya sekali itu!” tegasnya.
“Bahkan saya sekolahin dan ketika tamat sekolah, saya beri kesempatan untuk masuk ke industri saya,” katanya.
Menjadi Nakhoda Industri Nasional Bersama HKI
Menurut Haji Ma’ruf, posisi Indonesia dalam industri energi dunia sangat bagus, mengingat belum lama ini Indonesia sudah membuka keran ekspor ke Singapura. Potensi ini sangat besar sebagai kekuatan ekonomi nasional terutama di Provinsi Kepulauan Riau.
“Kebetulan, kita dapat kepercayaan dari pemerintah. Mulai dari hilirisasi pasir silika, sampai semikonduktor, kita dapat investasinya,” ujar Haji Ma’ruf. “Tetapi, ini harus kita kawal supaya segala perizinan dapat dipercepat dan dimudahkan, karena ada potensi yang sangat besar,” tambahnya.
Baca juga : BNPT Apresiasi Sukabumi sebagai Teladan Kota Toleran di Indonesia
Dengan pengalaman panjang membangun kawasan industri dari nol, dalam pidato pertamanya sebagai Ketua Umum HKI, dia menyampaikan pentingnya kolaborasi antara HKI dan pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, dan beberapa kementerian lain untuk menciptakan iklim investasi yang lebih pasti dan kompetitif. Menurutnya, kawasan industri harus bisa menjadi penggerak perekonomian nasional berlandaskan nasionalisme, bukan semata mencari peruntungan.
Dia menegaskan bahwa arah kebijakan HKI sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto serta akan aktif mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN).
Di momen itu juga, Haji Ma’ruf menekankan pentingnya membentuk Badan Kawasan Industri Nasional (BKIN) yang berada langsung di bawah pembinaan teknis Kementerian Perindustrian, serupa dengan peran Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Atau undang-undang kawasan industri, karena ratusan anggota HKI investasi yang ada di dalamnya bukanlah sedikit, melainkan mencapai ribuan triliun.
“Kawasan industri membutuhkan payung hukum khusus. Dengan begitu, pelaku pengusaha HKI bukan hanya membangun kawasan industri tetapi juga pemilik industri di dalamnya,” tegasnya.
Dia juga mengamini yang disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang hadir dalam Munas IX HKI. "Pak Haji (Ma'ruf), saya kira tugasnya untuk menahkodai HKI ke depan tidak akan semakin mudah. Filosofi tongkat estafet itu adalah keberlanjutan, kontinuitas yang tidak boleh terputus,” ujar Menteri Agus.
“Dan kalau ada kepentingan bagi kita untuk memperkuat status kawasan industri, maka silakan kita bahas bersama-sama Undang-Undang Kawasan Industri. Itulah sebabnya saya minta coba kita kuantifikasi kontribusi dari kawasan industri terhadap perekonomian nasional, yang pastinya besar sekali," tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya