Dark/Light Mode

Airlangga: Transisi Energi Dorong Ekonomi 8 Persen

Jumat, 25 Juli 2025 08:21 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan materi saat menjadi pembicaraan pada acara Green Impact Festival 2025 di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan materi saat menjadi pembicaraan pada acara Green Impact Festival 2025 di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Transisi energi bukan hanya mengurangi gas emisi, tapi juga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, transisi energi turut mendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Hal itu disampaikan Airlangga saat menjadi pembicara pada acara Green Impact Festival 2025, di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (24/7/2025). Airlangga mengawali pemaparannya dengan sebuah pantun.

"Ikan hiu berenang ke Majalengka. I love you Green Impact Festival Rakyat Merdeka," ucapnya, yang mendapat tepuk tangan meriah para generasi muda yang hadir.

Airlangga menerangkan, ekonomi hijau menjadi salah satu fokus Presiden Prabowo Subianto yang tercantum dalam Asta Cita. Yakni, mewujudkan swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

Dia menegaskan, transisi energi sangat penting, terlebih Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Mayoritas penduduknya tinggal di pesisir yang rawan akan bencana. Di wilayah pantai utara Jawa, terjadi penurunan permukaan tanah (subsidence) hingga 5-10 centimeter (cm), dan kenaikan permukaan air hingga 10 cm per tahun.

Baca juga : Isu Lingkungan Harus Dijawab Aksi Konkret

Hitungan Airlangga, krisis iklim dapat mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 6 persen pada 2060. "Karena itu, di utara Jawa, Pak Presiden sudah menyiapkan Great Giant Sea Wall," ungkapnya.

Bicara polusi, Airlangga menyebut, emisi gas rumah kaca masih menjadi PR besar. Suka tidak suka, Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Emisi dari sektor kelistrikan saja mencapai 727 ton CO2 ekuivalen.

Untuk itu, transisi energi sangat penting. Terlebih, transisi energi menyediakan double keuntungan.

"Transisi energi bukan hanya menurunkan emisi, tetapi juga untuk memastikan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 sampai 8 persen," terang mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

Airlangga pede, swasembada energi bisa tercapai dan mempercepat net zero emission yang dicanangkan tahun 2060. "Pemerintah sudah menyusun peta jalan dan salah satu yang juga akan didorong oleh Indonesia adalah CCS: Carbon Capture and Storage," kata Airlangga.

Baca juga : Zulhas: Pangan Dan Energi Terbarukan Arena Anak Muda

Lebih dari 1.000 gigawatt bisa dimasukkan dalam Carbon Capture and Storage Indonesia. Upaya ini juga akan mempercepat transformasi energi hijau.

Airlangga melanjutkan, Indonesia juga perlu membangun jaringan transmisi energi hijau berskala besar (green super grid) sepanjang 70 ribu kilometer. Dengan adanya green super grid, berbagai industri bisa memilih apakah akan menggunakan renewable energy atau conventional energy.

Sektor ini juga membuka peluang untuk mengerek kinerje ekspor. "Indonesia juga punya potensi untuk mengekspor green energy ke negara ASEAN lain, seperti Singapura, Malaysia atau bahkan Filipina," kata Airlangga.

Pemerintah juga mendorong agar proyek hilirisasi juga menggunakan energi hijau, seperti hilirisasi dari nikel, tembaga, bio energy, dan sumber daya alam lainnya.

"Bila diperkuat dengan energi hijau, maka dia akan menjadi green nickel, green copper, green bauxite, dan green aluminium yang mempunyai premium price," ungkap Airlangga.

Baca juga : Hariyadi Sukamdani: Studi Tur Itu Pilihan, Tak Boleh Diintervensi

Dia lalu mengingatkan, sejumlah negara sudah menggunakan carbon border adjusment mechanism jika tidak menggunakan energi hijau. Sebab itu, hilirisasi di dalam negeri menjadi suatu keharusan untuk mendapat cuan yang tinggi.

"Daripada dipajakin di negara lain, lebih baik kita yang menyelesaikan green energy. Sehingga produk kita bukan hanya tidak dipajakin, tetapi mempunyai nilai premium dibandingkan negara lain," ucapnya.

Sebelum turun dari podium, Airlangga kembali berpantun. "Pergi ke pasar membeli kangkung, pulangnya beli apukat. Ekonomi hijau terus didukung, lingkungan lestari Indonesia sehat," tutur Airlangga, menutup pemaparannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.