Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Tenaga Ahli Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Fithra Faisal menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya didorong oleh konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan, tapi juga lonjakan investasi. Terutama melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,99 persen. Angka ini melonjak dari kuartal sebelumnya yang hanya 2,12 persen.
Pertumbuhan PMTB, lanjut Fithra, dipacu oleh peningkatan pembelian mesin dan belanja modal pemerintah. Belanja mesin tercatat naik 25,3 persen, sedangkan belanja modal pemerintah melonjak 30,37 persen.
“Ini efek dari aktivitas industri strategis seperti PT PAL dan PT Pindad yang membeli alat berat dan mesin-mesin,” ujar Fithra di Jakarta.
Ia menambahkan, PMTB adalah indikator aktual dari investasi dan berkaitan erat dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebagai indikator awal. Namun, ada jeda waktu antara optimisme PMI dan realisasi investasi.
“PMI Manufacturing di kuartal I sempat tinggi karena menjelang Lebaran. Aktivitas investasinya baru terefleksi di kuartal II,” jelasnya.
Fithra memaparkan sektor bangunan mendominasi PMTB dengan pertumbuhan 4,89 persen dan kontribusi 74 persen. Namun, lonjakan pembelian mesin dan peralatan menjadi motor utama dalam pertumbuhan kali ini.
Baca juga : Waketum PAN Beri Apresiasi, Sikap PDIP Ringankan Beban Pemerintah
“Jika dibandingkan kuartal II tahun lalu, pembelian mesin naik sekitar Rp 50 triliun dan sektor bangunan naik sekitar Rp 65 triliun,” katanya.
Menurut dia, keberhasilan investasi tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh ketepatan sasaran. “Investasi yang tepat guna lebih berdampak ketimbang belanja besar-besaran. Efek penggandanya jauh lebih kuat,” tegasnya.
Menurut dia, meski investasi meningkat, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi lebih dari 54 persen dan pertumbuhan sebesar 4,97 persen. Angka ini membaik dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,89 persen.
Baca juga : Gubernur Kalteng: Terima Hasil Dengan Lapang Dada
Fithra menilai fenomena sosial seperti Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya) tidak sepenuhnya menandakan pelemahan daya beli.
“Banyak masyarakat yang berpindah saluran konsumsi ke e-commerce. Jadi, daya beli bergeser, bukan melemah drastis,” katanya. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya