Dark/Light Mode

Warga Kebayoran Lama Dapat Penyuluhan Cara Minimalisir Kontaminasi Air Isi Ulang

Kamis, 7 Agustus 2025 17:49 WIB
Penyuluhan mengenai risiko air isi ulang oleh Yayasan Jiva Svastha Nusantara di Kebayoran Lama Selatan. (Foto: Dok. Jiva Svastha Nusantara)
Penyuluhan mengenai risiko air isi ulang oleh Yayasan Jiva Svastha Nusantara di Kebayoran Lama Selatan. (Foto: Dok. Jiva Svastha Nusantara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari dua miliar orang di dunia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman. Dampaknya bukan hanya menyebabkan 1,4 juta kematian setiap tahun, tetapi juga berkontribusi terhadap 50 persen angka malnutrisi global.

Di Indonesia, situasi tak kalah memprihatinkan. Data Survei Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, sekitar 80 persen akses air minum masih belum tergolong aman. Bahkan, cemaran bakteri E.coli ditemukan pada 45,4 persen airminum isi ulang yang diuji.

Kondisi ini mendorong Yayasan Jiva Svastha Nusantara untuk terus mengadakan edukasi publik tentang air minum yang layak konsumsi. Kamis (7/8/2025), yayasan menyelenggarakan kegiatan penyuluhan di Kantor Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program “Indonesia Sehat Mulai dari Air Bermutu”, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kualitas air minum, serta membekali warga dengan pengetahuan seputar risiko kontaminasi air dan cara meminimalisirnya.

Baca juga : Ratusan Pemuda Belajar Pendakian Minim Sampah di Gunung Slamet

Dalam sesi penyuluhan, Wuhgini, Sanitarian Ahli Muda dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, menyampaikan bahwa kualitas air yang tampak bersih secara fisik belum tentu aman untuk dikonsumsi.

“Air minum yang aman harus lolos tiga parameter: fisik, kimia, dan mikrobiologi. Dua parameter terakhir hanya bisa dipastikan lewat uji laboratorium, terutama untuk mendeteksi keberadaan bakteri seperti E.coli,” ujarnya.

Dia juga menekankan pentingnya legalitas dan kebersihan dalam praktik depot air minum isiu lang. Dia menekankan, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) adalah jaminan mutu pangan.

"Kalau depot air isi ulang tidak punya SLHS, itu ibarat naik motor tanpa SIM. Berisiko dan tidak bertanggung jawab. SLHS memastikan depot tersebut sudah diperiksa oleh petugas kesehatan lingkungan dan memenuhi standar sanitasi yang ditentukan,” jelasnya.

Baca juga : Pasar Karbon RI Makin Kinclong

Wuhgini mengimbau agar masyarakat lebih berani bersikap kritis terhadap depot air minum isiulang. “Jangan ragu menolak beli dari depot yang tempatnya kotor, peralatannya tidak food grade, atau operatornya terlihat jorok dan tidak memakai masker atau alat pelindung diri. Ini menyangkut kesehatan keluarga kita sendiri,” tambahnya.

Dia menerangkan, konsumsi air yang terkontaminasi berisiko menyebabkan diare, hepatitis, kolera, dan gangguan penyerapan nutrisi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko stunting, terutama pada anak-anak.

Dari sisi penyelenggara, Surya Putra, Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan Yayasan Jiva Svastha Nusantara, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang sadar terhadap kualitas air minum.

“Kami berharap masyarakat di sini mulai peka terhadap apa yang diminum setiap hari. Mulai dari memilih sumber air yang aman, menjaga kebersihan galon dan dispenser, hingga jadi konsumen yang berani bertanya tentang uji lab dan legalitas depot air minum isi ulang,” ujarnya.

Baca juga : Jakarta-Bekasi Jalin Kerja Sama Strategis Dan Perpanjangan Kontrak Bantar Gebang

Dalam penyuluhan ini, depot air minum isi ulang juga menjadi topik pembahasan utama, mengingat banyaknya masalah yang dihadapi industri ini, mulai dari lemahnya pengawasan hingga minimnya kesadaran pengusaha akan standar kebersihan.

Hasil uji laboratorium sebelumnya yang dilakukan oleh Yayasan Jiva di Kota Bandung memperkuat urgensi penyuluhan ini. Dari 86 sampel air minum rumah tangga yang diuji, 73 (84,9 persen) di antaranya terbukti terkontaminasi bakteri E.coli dan/atau coliform. Lalu, dari 72 sampel air depot air minum isi ulang yang diuji, 61 (84,7 persen) juga terkontaminasi bakteri yang sama.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Jiva berharap semakin banyak warga yang teredukasi dan mampu menjadi agen perubahan dalam memastikan air minum yang dikonsumsi keluarganya benar-benar aman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.