Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Siap Digunakan Pelita Air Bulan Ini
Pertamina Sukses Sulap Limbah Migor Jadi Avtur
Rabu, 13 Agustus 2025 07:05 WIB
Sebelumnya
Tak hanya itu, Komisaris Independen KPI Prabunindya Revta Revolusi menyebut, SAF Pertamina akan mengangkat martabat Indonesia di mata dunia.
“Kini hanya Indonesia yang punya avtur dengan kandungan SAF tertinggi di dunia, sebesar 2,5 persen,” ucap Prabunindya.
Dia meyakini, keberadaan SAF akan memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan menambahkan, produksi SAF adalah awal perjalanan panjang Pertamina membangun ekosistem energi berkelanjutan.
“KPI sudah berencana memperluas produksi SAF ke Kilang Dumai dan Balongan, sebagai simpul penting rantai pasok energi hijau,” tutur Iriawan.
Baca juga : Omnichannel Jadi Solusi Hadapi Rojali Dan Rohana
Produksi SAF ini disebut Pertamina sebagai kado untuk HUT (Hari Ulang Tahun) ke-80 Kemerdekaan Indonesia, sekaligus bukti kemandirian energi karya anak bangsa.
Ketersediaan Bahan Baku
Senada, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menambahkan, pihaknya akan melibatkan masyarakat lewat pengumpulan minyak jelantah di sejumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).
“Kami menerapkan People, Profit, Planet dengan mengumpulkan UCO (Used Cooking Oil) dari masyarakat, sehingga menjadi produk luar biasa,” kata Mars Ega.
Dihubungi terpisah, Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo menilai, inovasi ini menjadi salah satu bahan bakar ramah lingkungan yang layak dikembangkan.
Apalagi, sambungnya, hal tersebut merupakan langkah maju yang sangat positif dalam industri penerbangan.
Baca juga : Seleksi Digelar Gratis, Terbuka Dan Transparan
“Dengan mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan, tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga membuka peluang untuk teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan di masa depan,” kata Gatot kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun Gatot mengimbau, penggunaan minyak jelantah dalam keberlangsungan ke depan akan terkait juga soal harga.
Sebab, menurutnya, harga minyak jelantah cenderung mahal dan jumlah produksinya juga terbatas.
“Kalau terbatas dan harganya mahal, tentunya akan berpengaruh terhadap harga tiket,” ingat Gatot.
Untuk itu, sambung Gatot, perlu dipastikan penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar pesawat, tidak ada pihak yang dirugikan.
Baca juga : Naura Ayu, Sempat Dilarang Mama Ngartis
Termasuk pertimbangan lainnya, terkait kontinuitas, produksi, hingga harga tiket yang tadi dikatakannya.
“Kita sangat senang kalau ada bahan bakar ramah lingkungan dari Indonesia. Kalau ketersediaannya banyak, itu sangat membantu lingkungan,” tutup Gatot. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya