Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Transisi Energi Dan Investasi Hulu Migas Jadi Kunci Swasembada Energi
Rabu, 20 Agustus 2025 21:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gejolak ekonomi dan politik global saat ini, terutama dampak dari tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut mempengaruhi harga minyak dunia, termasuk Indonesia. Pasalnya, kondisi pasar migas Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika global.
Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Luky Yusgiantoro mengatakan, harga minyak dunia hampir mencapai 100 dolar AS per barel di tengah terjadi negosiasi tarif tersebut.
“Untungnya, saat terjadi konflik antara Thailand dan Kamboja, harga minyak tidak naik terlalu tinggi dan tetap berada pada titik keseimbangan,” ujar Luky dalam acara Forum Migas Tempo (FMT) 2025 bertajuk ’Strategi Percepatan dan Peningkatan Produksi Migas Nasional Menuju Swasembada Energi,’ di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Hal tersebut, menurut Luky, menjadi pertimbangan penting ketika melakukan proyeksi investasi ke depan.
Tak hanya itu, alat penunjang di sektor hulu migas juga banyak yang didatangkan dari luar negeri, turut mempengaruhi harga minyak.
Meski begitu, SKK Migas memastikan, transisi energi terus didorong, dengan harapan pergeseran dari minyak ke gas alam sebagai energi pengganti sebelum transisi penuh berlangsung.
“Untuk itu, investasi di sektor hulu migas diprediksi akan terus meningkat,” sebutnya.
Baca juga : Ini Proyek Energi Kado Pertamina Untuk Indonesia Capai Ketahanan Energi
Luky menekankan, mencapai swasembada energi dalam waktu lima tahun bukanlah hal yang mudah, Pemerintah terus melakukan berbagai pendekatan strategis. Seperti, peningkatan produksi migas, penerapan teknologi baru, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Ini termasuk eksplorasi dan eksploitasi cadangan baru, reaktivasi sumur tua, serta penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR). Serta mendukung Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Seperti pada program Asta Cita 2, Pemerintah bertujuan memperkuat sistem pertahanan dan keamanan negara sekaligus mendorong kemandirian bangsa.
Melalui swasembada pangan, energi, air, serta pengembangan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi menuturkan, dalam laporan Standard & Poor’s pada Desember 2024, daya tarik investasi di sektor migas Indonesia meningkat, didukung oleh penemuan cadangan besar dan reformasi fiskal.
“Namun, tantangan seperti daya saing, regulasi, birokrasi, dan kepastian hukum masih harus diatasi bersama,” katanya.
Pemerintah tengah melakukan perbaikan regulasi terkait migas dan transisi energi, termasuk implementasi teknologi CCS (Carbon Capture and Storage) yang akan mendukung pengembangan sektor ini secara berkelanjutan.
Baca juga : HUT RI ke-80, Pertamina Berkontribusi Besar Pada Upaya Swasembada Energi
Dia membeberkan, terdapat 15 proyek non-PSN yang dijadwalkan mulai berjalan pada tahun 2025. Proyek tersebut, berpotensi untuk meningkatkan dan mempertahankan kapasitas fasilitas produksi migas.
“Capex fasilitas produksi mencapai sekitar 832,7 juta dolar AS,” ungkapnya.
Saat ini, total kapasitas fasilitas produksi 2025 terdiri dari 73,335 BOPD, 896 MMSCFD, dan 233,389 BOEPD. Dengan total target produksi 2025 sebesar 20,864 BOPD, 392 MMSCFD dan 90,810 BOEPD.
“Dengan berbagai langkah strategis dan inovasi, Pemerintah optimis sektor migas akan terus tumbuh dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional ke depan,” yakinnya.
Sementara itu, Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio dan Komersial Pertamina Hulu Energi (PHE) Edy Karyanto menuturkan, akibat gejolak geopolitik sering mempengaruhi supply and demand minyak di dalam negeri.
“Dalam menghadapi tantangan ini, PHE semakin agresif untuk bisa mengembangkan remaining reserve yang masih belum terlaksana. Berharap, semua produk gas PHE diserap oleh pasar,” ujarnya.
Saat ini produksi perusahaan mencapai sekitar 419 ribu barel minyak per hari. Jumlah itu setara 69 persen dari target nasional yang sebesar 605 ribu barel per hari. PHE juga mengelola 24 persen wilayah kerja migas di Indonesia dengan kontribusi signifikan, yakni 69 persen terhadap produksi minyak nasional dan 39 persen terhadap produksi gas nasional.
Baca juga : PKB Kaltim Lakukan Pembinaan Berjenjang
Edy menuturkan, untuk menjaga baseline produksi, PHE mengoptimalkan sumur-sumur eksisting melalui workover, well service, inflow Performance Relationship, reparasi, serta menambah cadangan baru.
Eksplorasi juga terus dilakukan di wilayah baru, seperti Sulawesi dan Padang Pancuran, Sumatera Selatan.
“Kami berkomitmen menambah cadangan migas nasional, agar tetap dapat memenuhi kebutuhan energi domestik,” ujar Edy.
Menyoal ini, Direktur PT Tempo Inti Media Tbk Budi Setyarso menyatakan, produksi migas dunia dan upaya kemandirian energi, menjadi dua faktor utama yang akan menentukan masa depan produksi migas Indonesia.
Maka, hal ini menjadi fokus utama dalam FMT yang digagas untuk menjadi titik temu berbagai pihak terkait industri migas.
“Tujuannya adalah, menghasilkan rekomendasi dan kajian mendalam yang dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan di sektor migas, khususnya yang berkaitan dengan dua faktor krusial tersebut,” pungkas Budi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya