Dark/Light Mode

Targetkan Pertumbuhan Capai 5,4 Persen, APBN 2026 Jadi Mesin Tempur Perekonomian

Minggu, 24 Agustus 2025 07:05 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pengantar dan keterangan pemerintah atas RUU Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 beserta Nota Keuangan dalam Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pengantar dan keterangan pemerintah atas RUU Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 beserta Nota Keuangan dalam Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia lari kencang tahun depan. Modalnya, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diproyeksikan menjadi mesin tempur percepatan ekonomi nasional.

Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Pengantar RAPBN 2026 dan Nota Keuangan di Ge­dung DPR, Jumat (15/8/2025), menegaskan arah kebijakan fiskal dirancang disiplin, fleksi­bel dan inovatif.

“Belanja negara dialokasikan Rp 3.786,5 triliun. Pendapatan negara ditargetkan Rp 3.147,7 triliun. Defisit APBN dirancang Rp 638,8 triliun atau 2,48 persen Produk Domestik Bruto (PDB), ditopang pembiayaan yang prudent, inovatif dan sustainable,” ujar Prabowo.

Menurutnya, setiap rupiah belanja negara wajib memberi manfaat nyata bagi rakyat. Mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli hingga layanan publik. Subsidi energi dan bantuan sosial dipastikan lebih tepat sasaran berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Seiring pengelolaan fiskal yang sehat, transformasi ekono­mi yang efektif demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan mencapai 5,4 persen atau lebih. Inflasi terkendali di level 2,5 persen,” ucap Prabowo.

Baca juga : OJK Perketat Pengawasan Dan Lindungi Aset Digital

Dia juga menargetkan angka pengangguran terbuka ditekan ke angka 4,44-4,96 persen, sementara kemiskinan turun 6,5-7,5 persen.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan eksekusi APBN 2026 jadi kunci un­tuk menjaga momentum ekonomi.

“Harapan kita, tentu APBN bisa dieksekusi lebih awal dibandingkan tahun 2025, hing­ga akselerasi ekonomi bisa lebih besar,” harapnya.

Airlangga juga menekankan strategi besar Presiden meli­puti ketahanan pangan, energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan, kesehatan, desa, koperasi dan UMKM, per­tahanan semesta serta investasi dan perdagangan global.

“Yang utama, kita dorong penciptaan lapangan kerja, pem­bangunan SDM, pendidikan, kesehatan serta hilirisasi dan industrialisasi,” tambahnya.

Menurutnya, indikator ekonomi semester I-2025 cukup kinclong, realisasi investasi Rp 924,9 triliun (49 persen dari target Rp 1.900 triliun), ekspor naik 11,29 persen, impor 4,28 persen dan neraca per­dagangan surplus Rp 67,2 triliun. Cadangan devisa pun kuat, cukup untuk impor enam bulan.

Baca juga : Kemacetan Semakin Parah, Pemkot Jaksel Bakal Bikin Posko Bersama

Meski ketidakpastian global masih membayangi, Airlangga optimistis daya tahan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Pemerintah menyiapkan lang­kah diversifikasi ekspor ke Afrika dan Timur Tengah, penguatan hilirisasi industri dan semikonduktor, transformasi digital, serta transisi energi.

Direktur Eksekutif Institute for Development Economy and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengingatkan, efektivitas APBN harus dievaluasi berkala.

“APBN 2026 harus dipasti­kan efektif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Karenanya, harus dievaluasi berkala,” katanya.

Esther juga wanti-wanti program prioritas jangan sampai over budget karena penerimaan negara sedang seret.

Dari sisi pasar, Citi Indonesia melihat APBN2026 bakal lebih ekspansif. Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman menilai, perbaikan belanja Pemerintah bisa mendorong konsumsi dan pertumbuhan.

Baca juga : Dengarkan Testimoni Murid Sekolah Rakyat, Prabowo Menitikkan Air Mata

“APBN 2026 berpotensi lebih stimulatif karena realisasi be­lanja Pemerintah agak tertahan di 2025 akibat transisi Pemer­intahan dan realokasi anggaran. Seharusnya tahun 2026 sudah mulai normal,” ujarnya.

Menurut Helmi, target per­tumbuhan 5,4 persen realistis.

“Setidaknya, kuartal pertama 2026 mungkin pertumbuhan ekonomi akan terkerek ke atas karena ada efek normalisasi belanja Pemerintah,” tutupnya. [NOV]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.