Dark/Light Mode

Pasokan Di Jabar Dan Sumatera Sempat Terganggu

PGN Pastikan Penyaluran Gas 100 Persen Sudah Normal

Selasa, 26 Agustus 2025 07:05 WIB
Direktur Utama PGN Arief S Handoko. (Foto: Dok. PGN)
Direktur Utama PGN Arief S Handoko. (Foto: Dok. PGN)

 Sebelumnya 
Fajriyah mengatakan, kondi­si ini karena ada unplanned shutdown (penghentian tak terencana) pemasok gas exist­ing. Selain itu, lantaran beberapa tambahan pasokan gas yang masih proses finalisasi.

Deklarasi darurat pasokan gas itu pun disampaikan lewat surat bernomor 048800.PENG/PP/PDO/2025, yang diteken Direk­tur Utama PGN Arief S Handoko pada 15 Agustus 2025.

Lewat surat itu, Arief mengatakan, terjadi penurunan paso­kan gas yang berdampak pada penyaluran gas untuk sementara waktu, kepada sebagian pelang­gan PGN di Jawa Barat dan sebagian Sumatera.

Baca juga : Indonesia Menang Gugatan Di WTO, Uni Eropa Wajib Cabut Bea Imbalan Biodiesel

“Serta mempertimbangkan po­tensi meluasnya dampak tersebut kepada gangguan operasi sistem transmisi dan distribusi gas PGN, maupun pergerakan per­ekonomian nasional,” tulis Arief.

Meski demikian, PGN menegaskan komitmennya untuk terus mengupayakan keterse­diaan pasokan gas bumi demi mendukung operasional seluruh pelanggan.

Khususnya, sektor industri yang memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap per­ekonomian nasional.

Baca juga : Karnaval Budaya Siapkan Surprise Untuk Penonton

Atas kondisi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menggelar rapat dengan sejumlah pihak terkait.

Termasuk di dalamnya PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Per­sero) atau PLN. Rapat itu di­gelar tertutup di Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Jakarta pada Sabtu (16/8/2025).

Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, kelangkaan gas yang belakangan terjadi disebabkan sejumlah faktor.

Baca juga : Korupsi Bikin Malu dan Hancurkan Karier: Para Pejabat, Jangan Tiru Noel

Di antaranya, penurunan ala­miah produksi (natural decline) di hulu, gangguan tidak teren­cana (unplanned shutdown) dari pemasok, mundurnya jadwal tambahan pasokan.

“Hingga belum adanya komit­men alokasi LNG untuk menu­tup defisit,” ujar Komaidi ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Komaidi, kondisi tersebut terjadi karena Indonesia belum memiliki lembaga khu­sus, yang diberi mandat untuk mengkonsolidasikan pasokan gas dan memastikan ketersediaan di pasar domestik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.