Dark/Light Mode

Pasokan Di Jabar Dan Sumatera Sempat Terganggu

PGN Pastikan Penyaluran Gas 100 Persen Sudah Normal

Selasa, 26 Agustus 2025 07:05 WIB
Direktur Utama PGN Arief S Handoko. (Foto: Dok. PGN)
Direktur Utama PGN Arief S Handoko. (Foto: Dok. PGN)

 Sebelumnya 
Karena itu dia menyarankan, Pemerintah membentuk agrega­tor gas nasional, serupa dengan model yang diterapkan di Ma­laysia dan Thailand.

“Fungsi agregator gas pada dasarnya seperti Bulog di sektor pangan, memiliki posisi penting untuk melindungi kepentingan produsen dan konsumen,” katanya.

Komaidi menambahkan, lebih dari 90 persen pangsa pasar dan infrastruktur gas di Indonesia saat ini sudah dikuasai Pertamina Group.

Baca juga : Indonesia Menang Gugatan Di WTO, Uni Eropa Wajib Cabut Bea Imbalan Biodiesel

“Karena itu, PGN menjadi pihak yang paling potensial dan logis ditugaskan sebagai agrega­tor dan integrator gas nasional,” sebutnya.

Komaidi menyebut, pada Agustus 2025 wilayah Suma­tera Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat menghadapi kekurangan pasokan sekitar 130,90 BBTUD (Billion British Thermal Units per Day).

Tanpa tambahan pasokan, diperkirakan keadaan ini akan terus berlanjut hingga Desember 2025, dengan total kekurangan pada periode September-Desem­ber mencapai 566,70 BBTUD.

Baca juga : Karnaval Budaya Siapkan Surprise Untuk Penonton

Komaidi lalu mengambil contoh di Malaysia, di mana Pemerintah Negeri Jiran tersebut menugaskan Petronas sebagai agregator tunggal gas.

Seluruh pasokan gas domestik dan LNG impor dikonsolidasi­kan oleh Petronas, lalu disalur­kan melalui jaringan Peninsular Gas Utilisation (PGU), yang di­operasikan Petronas Gas Berhad.

Sementara di Thailand, im­buhnya, peran serupa dijalankan oleh PTT Public Company Lim­ited (PTT PCL), yang bertin­dak sebagai single buyer untuk pasokan domestik, impor LNG, maupun gas pipa dari Myanmar.

Baca juga : Korupsi Bikin Malu dan Hancurkan Karier: Para Pejabat, Jangan Tiru Noel

“Saya rasa, model ini mem­buat harga gas lebih stabil dan ketersediaan pasokan lebih ter­jamin,” sarannya.

Dia melanjutkan, ketika produksi gas dalam negeri melim­pah, agregator bisa menyerap hasil produksi kontraktor se­hingga harga tetap terjaga.

“Sebaliknya, saat harga in­ternasional melonjak, agregator bisa mengoptimalkan cadangan atau mengatur pasokan, agar konsumen domestik tidak terke­na dampaknya,” sebutnya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.