Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
CIDES ICMI Tawarkan Gagasan Harm Reduction di Forum Kesehatan Global
Senin, 15 September 2025 09:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pusat Kajian Informasi dan Pembangunan atau Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), menyampaikan gagasan inovatif dalam Africa Global Health Symposium di Casablanca, Maroko, pada 4-5 September 2025.
Dalam forum yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai negara ini, Indonesia menawarkan pendekatan pengurangan bahaya atau harm reduction dari perspektif Islam sebagai solusi penyeimbang antara kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi.
Prof. Andi Bakti, Ketua CIDES ICMI, menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan menanggulangi prevalensi merokok sekaligus menjaga kesejahteraan jutaan petani tembakau dan cengkih di Indonesia.
Sebagai produsen tembakau terbesar keenam dan produsen cengkih terbesar pertama di dunia, Indonesia menghadapi dilema unik.
Baca juga : IPR: Kolaborasi Kunci Hadapi Ketidakpastian Global
"Larangan total terhadap produk tembakau konvensional bukanlah solusi yang adil dan efektif, terutama bagi negara dengan industri dan budaya tembakau yang telah mengakar seperti Indonesia," ujar Andi Bakti, seperti dikutip dalam artikelnya di buku Harm Reduction: The Manifesto 2025.
Ia menambahkan bahwa pendekatan harm reduction yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam, seperti kebaikan bersama atau maslahah dan perlindungan hidup atau hifz al-nafs, menawarkan solusi yang lebih seimbang.
Artikel yang dipresentasikan menyoroti pentingnya membedakan profil risiko berbagai produk tembakau. Salah satu contohnya adalah produk tembakau yang dipanaskan (HTP/HNB), yang menurut kajian ilmiah internasional, dapat mengurangi paparan zat berbahaya hingga 90-95 persen dibandingkan rokok yang dibakar.
Inovasi teknologi ini, termasuk kategori produk lain yang sudah terbukti secara ilmiah dapat mengurangi paparan zat berbahaya, dapat menjadi alternatif bagi perokok dewasa yang sulit berhenti sekaligus menjaga keberlangsungan industri yang menopang perekonomian nasional.
Baca juga : Pemuda ICMI Tolak Anarkis, Presiden Harus Evaluasi Kebijakan
Prof. Andi Bakti juga menyoroti dukungan regulasi modern di Indonesia, seperti Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, yang mulai merancang kebijakan secara proporsional dengan mempertimbangkan perbedaan risiko antara produk tembakau di pasaran.
Ia berharap, peraturan turunannya dapat mengadopsi pendekatan pengurangan risiko ini untuk memaksimalkan manfaat produk tembakau alternatif.
Andi Bakti menyerukan kolaborasi antara ulama, ahli kesehatan masyarakat, dan pemerintah untuk menyusun panduan berbasis bukti ilmiah dan nilai-nilai keagamaan.
"Dengan kolaborasi ini, negara-negara Muslim dapat menjadi pelopor dalam model pengendalian tembakau yang adil, efektif, dan berbasis ilmu pengetahuan," tutupnya.
Baca juga : Peringati HUT Ke-80 RI, Kartika Soekarno Foundation Perkuat Kesehatan Ibu-Anak
Gagasan dari Indonesia ini mendapat sambutan hangat dari perwakilan negara-negara Afrika yang menghadapi tantangan serupa.
Diharapkan, gagasan ini dapat menginspirasi negara-negara lain, khususnya di kawasan Afrika dengan populasi Muslim yang signifikan, untuk mengadopsi kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif dan berkeadilan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya