Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Program Impor Sapi Perah Belum Capai Target, Tantangan Masih Besar
Sabtu, 20 September 2025 11:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia kembali kedatangan 523 ekor sapi perah dari Australia. Pengiriman ini dipelopori oleh PT Asli Juara Indonesia (AJI) bekerja sama dengan North Australian Cattle Company (NACC).
Sapi-sapi tersebut tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan disambut langsung oleh Drh. Hendra Wibawa, mewakili Kementerian Pertanian (Kementan).
Dalam sambutannya, Hendra menyampaikan apresiasi terhadap pelaku usaha yang berkontribusi mendukung percepatan impor sapi perah.
Namun di balik apresiasi itu, bayang-bayang keresahan semakin nyata. Target pemerintah masih jauh dari kata tercapai.
Hingga September 2025, jumlah sapi perah yang berhasil masuk ke Indonesia baru 11.500 ekor, padahal target tahun ini 150.000 ekor.
Angka itu menunjukkan jurang yang terlampau lebar, sehingga program besar pemerintah, yakni impor satu juta ekor sapi perah dalam lima tahun, tampak seperti janji yang semakin sulit diwujudkan.
Kondisi inilah yang membuat keresahan muncul dari berbagai pihak. Direktur PT AJI, Wahyu Suryono Pratama, menilai langkah impor sapi perah bukan semata soal bisnis, melainkan keharusan untuk menambah “mesin” produksi susu nasional.
“Kami tidak bisa diam melihat 80 persen kebutuhan susu terus dipenuhi dari impor bubuk. Kalau ini dibiarkan, bangsa ini akan selamanya bergantung pada pasar luar negeri,” ujarnya, tegas.
Baca juga : Saksikan Penyerahan Hutan Tahap IV, Menhan Jaga Aset Negara
Keresahan yang sama juga diungkapkan Syafeezan, CEO N9 Dairy Farm, yang melihat bahwa ekosistem susu nasional harus segera direformasi.
“Kami percaya impor sapi perah hanyalah pintu masuk. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang adil dan sehat bagi peternak," tuturnya.
Dia menyatakan, jika IPS masih nyaman dengan susu bubuk impor, maka sebanyak apa pun sapi yang didatangkan tidak akan memberi dampak.
"Saya pribadi resah, karena peluang besar untuk menjadikan Indonesia mandiri justru bisa hilang sia-sia,” keluhnya.
Dari sisi peternak, Bayu Aji H dari Sapiperahfarm.id, menuturkan keresahan yang lebih nyata.
“Kami di lapangan sering menghadapi kenyataan pahit. Susu segar tidak selalu terserap, kadang dibeli dengan harga sangat rendah, padahal kebutuhan nasional begitu besar," ucapnya.
Dia mengingatkan, kalau industri masih lebih memilih susu impor, maka peternak akan terus jadi penonton.
"Kami ingin sapi impor benar-benar diiringi dengan penyerapan maksimal susu lokal. Kalau tidak, sia-sia rasanya perjuangan kami,” kata Bayu.
Baca juga : ISEI Dorong Penguatan Peran Negara Hadapi Tantangan Ekonomi Global
Keresahan ini memang beralasan. Produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara 80 persen sisanya ditopang impor.
Ketergantungan yang demikian tinggi membuat Indonesia rapuh terhadap gejolak harga global. Apalagi sejak hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Minum Susu Gratis, kebutuhan melonjak drastis. Program ini menargetkan lebih dari 80 juta siswa dari tingkat SD hingga SMA/SMK.
Jika setiap anak mendapat 200 ml susu per hari sekolah, kebutuhan susu nasional untuk MBG saja mencapai 16 juta liter per hari, atau 3,2 miliar liter per tahun. Bandingkan dengan produksi nasional saat ini yang hanya 1 miliar liter per tahun.
Kesenjangan ini menimbulkan risiko serius: program MBG terancam tidak konsisten, bahkan bisa memicu kekecewaan publik. Dari sisi teknis, kebutuhan sapi perah makin mendesak.
Seekor sapi rata-rata menghasilkan 15–20 liter susu per hari. Untuk memenuhi kebutuhan MBG saja, Indonesia memerlukan 800 ribu hingga 1 juta ekor sapi produktif.
Populasi saat ini baru sekitar 600 ribu ekor, sehingga defisit ratusan ribu ekor adalah krisis nyata, bukan ancaman di masa depan. Selain itu, masalah distribusi memperparah keadaan.
Sebagai negara kepulauan, tanpa infrastruktur rantai dingin (cold chain) yang memadai, susu segar sulit menjangkau pelosok.
Akibatnya, sebagian produksi berisiko terbuang, sementara anak-anak di daerah terpencil tidak mendapat gizi yang dijanjikan. Industri Pengolahan Susu (IPS) seharusnya menjadi bagian dari solusi.
Baca juga : Tak Ada Lonjakan Signifikan, Penularan Campak di Jakarta Masih Terkendali
Namun kenyataan bahwa banyak IPS masih bergantung pada susu bubuk impor justru menambah keresahan.
Jika kondisi ini tidak berubah, maka tambahan sapi perah hanya akan jadi angka, bukan mesin produksi nasional. Jika IPS mau serius menyerap susu lokal, dampaknya luar biasa: tambahan produksi 2 miliar liter susu per tahun, penghematan devisa hingga Rp 60 triliun, dan penciptaan ratusan ribu lapangan kerja di sektor hulu-hilir.
Tetapi bila IPS tetap pasif, keresahan yang disampaikan Wahyu, Syafeezan, dan Bayu akan terbukti: peternak kehilangan semangat, sapi impor tidak produktif, dan MBG kembali bergantung pada impor susu bubuk.
Kedatangan 523 ekor sapi perah dari Australia hari ini memang hanya langkah kecil, tetapi sekaligus menjadi simbol keresahan yang berubah menjadi tindakan nyata.
Jalan menuju kemandirian gizi masih panjang, namun jika suara kegelisahan para pelaku industri dan peternak tidak diabaikan, bangsa ini punya peluang besar untuk benar-benar berdiri di atas kaki sendiri
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya