Dark/Light Mode

Digencet Dolar AS dan Singapura, Rupiah Butuh Obat Kuat

Jumat, 26 September 2025 07:38 WIB
Petugas money changer menghitung sejumlah uang dolar AS di Penukaran Uang PT Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Rabu (9/4/2025). (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Petugas money changer menghitung sejumlah uang dolar AS di Penukaran Uang PT Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Rabu (9/4/2025). (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rupiah sedang loyo, tergencet oleh dolar AS dan dolar Singapura. Agar kembali perkasa, rupiah perlu obat kuat.

Pada perdagangan Kamis (25/9/2025), nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 16.749 per dolar AS. Mata uang Garuda itu, turun 64 poin atau minus 0,39 persen. Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan posisi rupiah pada Rp 16.752 per dolar AS.

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tak berdaya di hadapan dolar Singapura. Pada perdagangan Kamis (25/9/2025), rupiah tembus Rp 13.003 per dolar Singapura. Ini adalah rekor nilai tukar terendah rupiah terhadap dolar Singapura sepanjang sejarah.

Penurunan rupiah terhadap dolar Singapura memang telah terjadi dalam 5 tahun terakhir. Pada awal 2021, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura berada di level Rp 10.599, kemudian melemah ke Rp 11.499 pada akhir 2022, dan kembali melemah ke Rp 11.582 pada akhir 2023.

Baca juga : Melihat Siswa Keracunan MBG, Tergeletak Di Bangsal, Dikipasin Kardus Cokelat

Pada akhir 2024, rupiah menyentuh Rp 11.743 per dolar Singapura. Tren pelemahan ini terus berlanjut. Per Februari 2025, rupiah menyentuh Rp 12.296 per dolar Singapura, kemudian Rp 12.851 pada April dan tembus Rp 13.003 saat ini.

Loyonya rupiah juga menekan pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1 persen lebih atau turun 85,89 poin ke level 8.040,66 pada penutupan perdagangan, Kamis (25/9/2025). Sebelumnya, selama dua hari beruntun, IHSG mencatatkan rekor harga penutupan tertinggi sepanjang masa di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi berharap, pelemahan rupiah segera diatasi. Jika tidak, pelemahan akan terus berlanjut.

"Seandainya saat ini tembus Rp 16.800, maka Oktober rupiah bisa di Rp 17.000 dolar AS. Itu sangat mungkin sekali terjadi," kata Ibrahim.

Baca juga : Buru 200 Penunggak Pajak, Purbaya Diback Up KPK

Dia menyebut, penguatan dolar AS terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Di eksternal, penguat ini dipicu meningkatnya ketegangan di Eropa. Apalagi, usai pidato Presiden AS Donald Trump di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengingatkan agar Eropa tidak terus membeli minyak Rusia.

Meskipun belum ada langkah segera yang diumumkan oleh Trump, Ibrahim menilai, retorika tersebut meningkatkan resiko geopolitik di pasar. Sanksi tersebut dapat mengganggu ekspor Rusia atau memicu tindakan balasan pasokan oleh Rusia.

Dari sisi internal, Ibrahim menilai, dipengaruhi oleh penolakan tax amnesty. Padahal, tax amnesty sangat dinantikan pasar. Di sisi lain, tax amnesty di situasi seperti sekarang sangat dibutuhkan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira juga memprediksi, pelemahan rupiah bakal berlanjut dalam 2-4 bulan ke depan. Hal ini seiring dengan naiknya kebutuhan impor, terutama BBM.

Baca juga : Top, Prabowo Buka Gerbang Pasar Eropa

Di saat yang sama, harga komoditas ekspor tambang dan migas justru turun. Harga batubara turun 25,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) nikel tercatat minus 7,66 persen yoy, dan kakao minus 12,84 persen di periode yang sama. 

"Outlook harga komoditas yang rendah akan menekan rupiah," ulas Bhima, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Kamis malam (25/9/2025).

Sebab itu, rupiah perlu obat kuat agar bisa kompetitif di pasar valuta asing. Kata Bhima, rupiah butuh triple intervensi. Pertama, perkuat ekspor olahan industri. Kedua, tindak lanjut kesepakatan ekspor Indonesia-Uni Eropa dan Indonesia-Kanada CEPA. Ketiga, menghentikan revisi Undang-Undang (UU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

"Sentimen di pasar internasional masih negatif akibat rencana revisi Undang-Undang P2SK yang melemahkan independensi BI. Harus ada investor confidences yang baik agar nilai tukar rupiah bisa rebound," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.