Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Punya Cadangan Emas Jumbo, Saham EMAS Dinilai Masih Murah
Sabtu, 27 September 2025 12:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dinilai masih undervalued atau jauh di bawah nilai intrinsik. Padahal, perseroan memiliki cadangan emas besar, biaya penambangan efisien, dan ditopang tren kenaikan harga emas global.
Berdasarkan prospektus dan perhitungan fundamental, harga saham wajar EMAS diperkirakan Rp 7.900 per saham dengan nilai bersih kini (net present value/NPV) mencapai Rp 127 triliun. Namun, hingga penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (25/9/2025), harga saham EMAS hanya berada di level Rp 3.300, sekitar 57,5 persen di bawah nilai intrinsiknya.
Saham EMAS resmi tercatat di BEI pada Selasa (23/9/2025) dengan harga perdana Rp 2.880 per saham. Pada hari pertama perdagangan, harga saham langsung melonjak lebih dari 25 persen sehingga terkena batas auto reject atas (ARA), dan ditutup Rp 3.600.
Pada perdagangan hari kedua, Rabu (24/9/2025), saham EMAS masih menguat tipis 1,1 persen ke Rp 3.640. Namun sehari kemudian, Kamis (25/9/2025), terjadi aksi jual panik (panic selling) yang menekan harga saham 9,3 persen ke Rp 3.300 per saham.
Harga IPO Rp 2.880 ditetapkan dengan asumsi konservatif, yakni harga emas global berada pada kisaran 2.300–2.500 dolar AS per troy ounce. Faktanya, pada Kamis (25/9/2025), harga emas dunia sudah menembus 3.700 dolar AS per troy ounce, sehingga saham EMAS dinilai masih diperdagangkan dengan diskon besar.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Kembangkan Ekonomi Sirkular SAF Dari Minyak Jelantah
EMAS memiliki total sumber daya emas mencapai 7 juta troy ounce, menjadikannya perusahaan tambang emas dengan cadangan terbesar ketiga di Indonesia setelah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Freeport Indonesia.
Dari sisi biaya penambangan, EMAS juga unggul dengan cash cost hanya 1.200 dolar AS per troy ounce, jauh lebih rendah dibandingkan beberapa emiten emas lain seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang mencapai 1.881 dolar AS per troy ounce.
Perseroan menargetkan produksi awal sebesar 80.000–120.000 troy ounce emas pada 2026. Proses commissioning peralatan penambangan akan dimulai bulan depan, dilanjutkan dengan penumpukan bijih pertama di fasilitas pelindian (first stacking) pada November 2025. Produksi komersial dijadwalkan dimulai kuartal I-2026.
“Dengan cash cost sekitar 1.200 dolar AS per oz dibandingkan harga emas global saat ini 3.700 dolar AS per oz, margin laba sebelum pajak EMAS bisa mencapai 2.500 dolar AS per oz, atau 2.000 dolar AS per oz setelah pajak,” tulis manajemen dalam prospektus IPO.
Dengan target produksi 80.000–120.000 oz, laba sebelum pajak berpotensi mencapai 160 juta–240 juta dolar AS pada 2025 dan hingga 1 miliar dolar AS jika beroperasi penuh.
Baca juga : Mendagri Nasihatin Pemda
Kapitalisasi pasar EMAS per Kamis (25/9/2025) telah mencapai Rp 53,39 triliun, dengan likuiditas meningkat pasca-IPO didukung free float 13,63 persen. Kondisi ini membuka peluang saham EMAS masuk ke dalam perhitungan indeks MSCI Large Cap yang dapat menarik tambahan aliran dana pasif dari investor global.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, prospek EMAS solid, terutama dengan rencana pengembangan tambang emas Pani sebagai sumber pendapatan utama mulai tahun depan. “EMAS diprediksi mulai membukukan laba bersih pada 2026, seiring beroperasinya tambang Pani sesuai jadwal,” kata Reydi di Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, daya saing EMAS relatif lebih tinggi dibandingkan emiten tambang emas lain yang sudah melantai di BEI, baik dari sisi cadangan maupun potensi produksi. Dengan kapasitas produksi penuh diproyeksikan mencapai 495 ribu oz per tahun, EMAS berpotensi menjadi pemain besar industri emas domestik.
Sementara itu, tren harga emas dunia terus menguat. Analis Mandiri Sekuritas, Vanessa Taslim dan Ariyanto Kurniawan, dalam riset terbaru merevisi naik asumsi rata-rata harga emas 2025 menjadi 3.300 dolar AS per oz dari sebelumnya 3.200 dolar AS, dan untuk 2026 menjadi dolar AS 3.600 per oz dari 3.400 dolar AS.
Tren serupa juga disampaikan analis UOB Kay Hian Sekuritas, Benyamin Mikael yang menilai ketidakpastian ekonomi global dan penurunan suku bunga akan menopang penguatan harga emas. UOB memproyeksikan harga emas rata-rata 3.400 dolar AS per oz pada kuartal III-2025, naik ke 3.500 dolar AS per oz pada kuartal IV-2025, lalu berlanjut ke 3.600 dolar AS per oz pada kuartal I-2026, dan 3.700 dolar AS per oz pada kuartal II-2026.
Baca juga : Pokemon Berkolaborasi dengan Timnas U23, Hadirkan Edisi Spesial
Sepanjang tahun berjalan 2025, harga emas dunia rata-rata mencapai 3.177 dolar AS per oz, bahkan sempat mencetak rekor tertinggi harian 3.790,82 dolar AS per oz pada Selasa (23/9/2025). Dukungan pembelian bank sentral, arus masuk dana Exchange Traded Fund (ETF), serta kondisi makroekonomi global yang kondusif diyakini akan menjaga tren bullish emas dalam jangka menengah.
Dengan kombinasi cadangan emas besar, biaya produksi rendah, target produksi ambisius, dan harga emas global yang kuat, saham EMAS dipandang memiliki prospek positif jangka panjang dan berpotensi menjadi salah satu pilar utama industri tambang emas Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya