Dark/Light Mode

Pertamina Dorong Transisi Energi Melalui Inovasi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Sabtu, 11 Oktober 2025 19:15 WIB
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono saat menjadi narasumber acara Indonesia International Sustainability Forum 2025 di JCC Senayan, Sabtu (11/10/2025). (Foto: Pertamina)
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono saat menjadi narasumber acara Indonesia International Sustainability Forum 2025 di JCC Senayan, Sabtu (11/10/2025). (Foto: Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi berkelanjutan melalui pengembangan berbagai bahan bakar ramah lingkungan, yang berevolusi dari B20, B30, B40, hingga kini mencapai Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksonodalam Indonesia International Sustainable Forum (IISF) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (11/10).

Agung menjelaskan bahwa perjalanan Pertamina dalam mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan bukan sekadar kisah sukses ekonomi, tetapi juga merupakan perjalanan ekologi yang bermakna.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Sirkular Melalui Inovasi Waste to Value

“Ini bukan hanya perjalanan sukses dalam hal ekonomi karena menciptakan penghematan devisa yang signifikan bagi negara, tetapi juga perjalanan ekologi. Menempatkan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) sebagai inti adalah sesuatu yang sangat berarti,” ujarnya.

Menurut Agung, keberhasilan Pertamina dalam menerapkan program biodiesel, mulai dari B20 hingga B40, telah memberikan dampak besar terhadap kemandirian energi nasional.

“Sejak penerapan B20 dan kini B40, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dengan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” lanjutnya.

Baca juga : APP Group Dan Lubrizol Kembangkan Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Lebih jauh, Agung menyoroti inovasi Pertamina dalam mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang dihasilkan dari minyak jelantah. Bahan bakar ini, kata dia, tidak hanya menurunkan emisi karbon hingga 84 persen, tetapi juga mendukung terbentuknya ekonomi sirkular di masyarakat.

“Kami telah menggunakan SAF dari minyak goreng masyarakat untuk penerbangan. Jadi ini bukan hanya soal mengurangi emisi karbon, tetapi juga bagian dari ekonomi sirkular, di mana masyarakat dapat menukar minyak jelantah menjadi rupiah yang kemudian diolah menjadi bahan bakar berkelanjutan,” jelasnya.

Agung menambahkan, keberhasilan pengembangan bahan bakar ramah lingkungan menjadi bagian penting dari transformasi energi nasional. Program ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor energi hijau serta mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Baca juga : Kementan Dorong Percepatan Varietas Tanaman Dan Perizinan Pupuk

“Ini adalah perjalanan transformasi Pertamina untuk mendukung agenda nasional mengenai bahan bakar nabati. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi pelopor energi bersih di kawasan Asia Tenggara,” tegasnya.

Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui berbagai program yang berdampak langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya ini dijalankan sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi perusahaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.