Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Gelombang Asa Mamaku: Dari Ring 1 Kilang, Energi Itu Menyala
Minggu, 19 Oktober 2025 17:37 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sebuah perahu membelah perairan dari Pelabuhan Sleko, Cilacap, meninggalkan siluet perkotaan dan menuju kawasan yang terasa kontras: Kelurahan Kutawaru.
Di sepanjang jalur air, pandangan disuguhi pemandangan khas industri strategis nasional. Deretan tangki baja dan cerobong uap menjulang gagah, milik Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) IV Cilacap, pemasok energi vital negeri berkapasitas 348 ribu barel per hari.

Namun, di balik kegagahan industri tersebut, tersimpan sebuah kisah kemanusiaan dan transformasi energi sejati. Kutawaru, wilayah yang secara fisik terisolasi dan berada di ring 1 kilang, dulunya adalah kantong masyarakat dengan tingkat pengangguran tinggi. Di mana banyak warganya adalah mantan Anak Buah Kapal (ABK) dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kembali tanpa harapan.
Inilah panggung bagi Program Mamaku (Masyarakat Mandiri Kutawaru), inisiasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang membuktikan bahwa Energizing Indonesia tak hanya soal bahan bakar, tetapi juga tentang energi kehidupan yang menyala dari potensi lokal.

Menangkap Peluang di Budidaya Kepiting
Tahun 2020 menjadi titik balik. Pertamina tidak menyalurkan bantuan sesaat, melainkan menanamkan sistem dan pengetahuan.
Mereka melihat Kutawaru yang dikelilingi perairan Segara Anakan, sebagai potensi emas untuk budidaya hasil tambak, mengubahnya menjadi Kampung Kepiting.
Program ini memberikan energi positif kepada masyarakat yang sempat kehilangan arah, khususnya para mantan ABK dan TKI, dengan menyediakan pelatihan intensif dan pendampingan berkelanjutan.
Baca juga : Tata Kelola Tambang Era Prabowo-Gibran Dinilai Ke Arah Kedaulatan Energi
Rato, Ketua Kelompok Mamaku, yang kini dijuluki local hero, menyaksikan sendiri bagaimana semangat warganya kembali menyala.
“Dulu, kami bingung mau kerja apa. Kilang besar di seberang, tapi kami di sini hanya punya laut. Pertamina datang, memberi kami energi berupa ilmu bagaimana laut ini bisa menghidupi kami,” tutur Rato.

Transformasi itu berbuah manis. Omzet gabungan dari unit usaha Mamaku kini menembus angka fantastis, mencapai Rp180 juta per bulan. Sebuah pencapaian yang sukses menyulap mantan ABK menjadi juragan kepiting, membuat anak-anak di Kutawaru kini bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Inovasi Lingkungan: Mengubah Sampah jadi Energi Rupiah
Kemandirian Mamaku tak berhenti pada sektor perikanan. Program ini dimulai dari persoalan mendasar: ketiadaan tempat pembuangan sampah (TPS) di Kutawaru.
Solusi datang melalui pembentukan Bank Sampah Abhipraya yang merupakan bagian integral dari Mamaku. Program ini terintegrasi dengan prinsip Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),

Abhipraya memberikan energi sirkular kepada warga. Sampah organik diolah menjadi pakan ternak (budidaya maggot) dan kompos. Sementara sampah anorganik (seperti plastik) dipilah, dicacah, dan dijual kembali. Inovasi ini menciptakan solusi ganda: mengatasi limbah rumah tangga dan menambah pemasukan ekonomi.
Pengelolaan Potensi Lokal Berkelanjutan
Program Mamaku beroperasi di bawah konsep sistem integrasi pengelolaan potensi lokal berkelanjutan, yang terdiri dari empat unit usaha:
Baca juga : Gelombang Pertama 20 Ribu Orang, Program Magang Dapat Gaji UMP
* Wisata Kampung Kepiting (Omzet Rp72 juta perbulan): Pilar ini menjadi penyumbang omzet terbesar dengan fokus pada pengembangan ekowisata, kuliner seafood, mangrove tour, dan pusat edukasi (Learning Center), bahkan telah mengimplementasikan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk operasionalnya.
* Pasar Amarta (Omzet Rp62 juta per bulan): Menjadi pusat transaksi ekonomi lokal, memfasilitasi penjualan bahan pokok, pangan siap saji, sandang, dan jajanan pasar, menciptakan perputaran ekonomi yang kuat di desa.
* Pesisir Produktif (Omzet Rp34 juta per bulan): Fokus pada keberlanjutan lingkungan dan ekonomi, meliputi pembibitan dan penanaman mangrove, serta praktik budidaya ikan dan kepiting ramah lingkungan melalui sistem silvofishery.
* Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (Omzet Rp12 juta per bulan): Pilar ini memastikan ketahanan pangan dan keterampilan warga melalui budidaya sayur, tanaman hias, peternakan burung puyuh dan kambing, serta budidaya maggot dan azolla sebagai bagian dari Integrated Farming System.
Keberhasilan integrasi empat pilar ini membuktikan bahwa program pemberdayaan berbasis potensi lokal dan lingkungan mampu menghasilkan dampak ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kutawaru.

Upaya ini juga meraih pengakuan bergengsi Platinum Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen, dedikasi, dan inovasi pelaku bisnis dari berbagai sektor industri dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR/TJSL).
Mamaku: Pilar Kekuatan Energi Indonesia
Baca juga : RI Punya Peluang Besar Dalam Rantai Pasok Global Energi Hijau, Ini Alasannya
Program Mamaku telah menciptakan ketahanan sosial-ekonomi dan lingkungan yang terintegrasi.
Kutawaru kini tidak lagi dilihat sebagai kampung terpencil, melainkan sebagai ‘Learning Center’ tempat edukasi dan kolaborasi berbasis lingkungan.
Mamaku adalah bukti nyata dan monumental dari komitmen Pertamina dalam "Energizing Indonesia".
Melalui program ini, energi yang dihasilkan Kilang Cilacap tidak hanya berwujud bahan bakar untuk transportasi, tetapi juga energi harapan, kemandirian, dan kehidupan yang menyala terang di tengah masyarakatnya sendiri.
Pertamina, sekali lagi, menunjukkan perannya sebagai motor penggerak pembangunan bangsa, dari hulu hingga ke hilir—dari tangki raksasa hingga ke keramba kepiting sederhana di Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya