Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Permintaan Kredit Masih Loyo, BI Kasih Insentif Likuiditas Ke Bank
Jumat, 24 Oktober 2025 18:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan pemberian insentif likuiditas kepada perbankan guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil yang masih lemah.
Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Irman Robinson mengatakan kebijakan insentif diberikan dengan pendekatan forward looking, yakni di muka, berdasarkan komitmen pertumbuhan kredit yang disampaikan perbankan.
“Insentif diberikan terlebih dahulu untuk mendorong komitmen bank menyalurkan kredit. Jika realisasi pertumbuhan kredit tidak sesuai dengan komitmen awal, maka insentif akan disesuaikan agar tetap adil,” ujar Irman dalam paparan diskusi di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (24/10/2025).
Menurut data BI, pertumbuhan kredit perbankan per September 2025 tercatat sebesar 7,70 persen (yoy), sedikit meningkat dibanding 7,56 persen pada Agustus 2025. Kredit modal kerja tumbuh 3,37 persen, kredit konsumsi 7,42 persen, kredit investasi 15,18 persen, dan kredit UMKM hanya naik 0,23 persen (yoy). Sementara pembiayaan syariah tumbuh 7,55 persen.
Irman menjelaskan, BI memperkuat dua saluran utama pemberian insentif, yakni lending channel dan interest rate channel.
Baca juga : Menteri Maman Apresiasi Respons Publik Atas Isu Barang KW
Insentif lending channel diberikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas seperti pertanian dan UMKM. Sedangkan interest rate channel ditujukan bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit baru agar sejalan dengan kebijakan suku bunga acuan BI.
Ia menambahkan, masih lemahnya pertumbuhan kredit dipengaruhi sikap hati-hati pelaku usaha dan investor yang cenderung menunggu situasi ekonomi lebih stabil.
“Selain itu, masih adanya permintaan special rate atau bunga tinggi dari deposan membuat penurunan suku bunga deposito dan kredit berjalan lambat,” katanya.
Data BI menunjukkan suku bunga deposito berjangka satu bulan turun 29 basis poin (bps), dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,52 persen pada September 2025. Namun, suku bunga kredit hanya turun 15 bps, dari 9,20 persen menjadi 9,05 persen pada periode yang sama.
Untuk memastikan efektivitas kebijakan, BI berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memantau kesehatan dan potensi kredit bank penerima insentif.
Baca juga : Pertamina Terapkan Standardisasi Global Perkuat Tata Kelola
“Bank juga diharapkan tidak hanya menyalurkan kredit ke sektor berisiko tinggi atau dengan rasio non-performing loan (NPL) besar,” ujarnya.
BI memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2025 berada di kisaran 8–11 persen, dengan tren peningkatan berlanjut hingga 2026. Optimisme ini didukung oleh perbaikan transmisi suku bunga dan sinergi kebijakan antara BI, OJK, dan pemerintah.
“Dengan penguatan mekanisme insentif, kami yakin target pertumbuhan kredit dapat tercapai dan memberi dampak positif bagi ekonomi nasional,” kata Irman.
Ekonom sekaligus Investment Strategist PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad. (Foto: DWI/RM)
Ekonom sekaligus Investment Strategist PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad menambahkan, BI telah menggelontorkan dana besar untuk menjaga likuiditas perbankan dan sektor keuangan.
Total injeksi likuiditas mencapai sekitar Rp 1.000 triliun, terdiri atas Rp 200 triliun dari pemerintah dan Rp 800 triliun dari BI. Dana tersebut disalurkan melalui beberapa instrumen, seperti penurunan volume Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 200,35 triliun, pembelian SBN Pemerintah senilai Rp 217 triliun, serta pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp 383,6 triliun.
Baca juga : BTN Pede Bisa Serap Likuiditas Rp 25 Triliun
Dengan injeksi dana ini, suku bunga di pasar uang dan obligasi mulai menurun, sehingga biaya pinjaman bagi korporasi berpotensi lebih rendah. “Penurunan biaya pembiayaan ini diharapkan mendorong ekspansi usaha, penciptaan lapangan kerja baru, dan menekan angka PHK,” ujar Emil.
Menurutnya, dampak positif kebijakan tersebut kemungkinan baru akan terlihat signifikan dalam delapan hingga sembilan bulan ke depan. Pemerintah dan BI akan terus memantau perkembangan pasar keuangan agar aliran likuiditas dapat mengalir ke sektor riil melalui penyaluran kredit dan penerbitan obligasi korporasi.
“Hal ini menjadi kunci untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Emil.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya