Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Kata dia, kondisi saat ini memang tidak bisa lagi bergantung pada ekonomi global. Indonesia harus memperkuat sumber pertumbuhan dari dalam negeri sendiri. Secara aliran dana (capital flow), ruangnya memang terbatas. Namun, ada modal penting yang sering terlupa. Yaitu, tingkat tabungan nasional kini jauh lebih tinggi dibanding satu atau dua dekade lalu. Sebelum krisis 2008, rasio gross domestic saving to GDP hanya sekitar 27 persen. Kini sudah meningkat menjadi 34 persen.
Jadi, meski pasar saham mengalami outflow, investor domestik sangat kuat. Ini menjadi modal penting. Risiko ekonomi Indonesia ke depan bukan lagi soal kestabilan, karena saat ini ekonomi Indonesia sudah stabil. Namun, bagaimana menjadikan stabilitas itu produktif. “Saat ini ekonomi kita istilahnya stabil lemas, dan itu perlu diubah menjadi stabil yang tumbuh,” cetusnya.
Untuk mencapai stabil yang tumbuh, daya beli masyarakat harus meningkat. Masyarakat harus merasakan langsung dampak pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan hanya digerakkan investasi, efeknya lambat. Karena investasi baru terasa setelah proyek berjalan, mungkin setahun kemudian.
Baca juga : Kelas Menengah Tunda Belanja Fesyen Dan Liburan
Jadi, kata dia, kebijakan pemerintah dalam menghadapi perlambatan ekonomi global sudah berada di jalur yang benar. Namun, masih butuh banyak improvement. “Kalau kebijakan yang diambil Menteri Keuangan baru berhasil, saya yakin pertumbuhan ekonomi pertengahan tahun depan bisa mencapai 5,5 persen,” ucapnya.
Fakhrul memperkirakan, ekonomi Indonesia pada 2026 akan mulai menunjukkan percepatan setelah melewati masa perlambatan sepanjang 2025. Dia menilai, pertumbuhan tahun depan akan ditopang oleh kombinasi efek dasar rendah (low base effect) dari tahun ini serta meningkatnya perputaran uang di masyarakat. Karena itu, menurutnya, belanja negara, baik pemerintah pusat maupun daerah, harus dipercepat.
Optimisme serupa juga datang dari IMF. Lembaga itu baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,9 persen. Fakhrul menilai, proyeksi tersebut masih realistis.
Baca juga : Rawan Tumbang Saat Hujan, 5.000 Pohon Di Jakarta Dipasangi Penyangga
Salah satu alasannya karena daya tahan ekonomi Indonesia cukup kuat. Selain itu, Indonesia masih diuntungkan oleh harga komoditas dan ekspor yang relatif kuat. “Negara-negara berkembang lain belum tentu mendapat manfaat yang sama, tapi ” jelasnya.
Fakhrul menambahkan, proyeksi IMF itu masih bersikap konservatif. Karena potensi pertumbuhan Indonesia sebenarnya bisa lebih tinggi. Sebab, tren harga komoditas diperkirakan masih bertahan hingga 2026, termasuk komoditas rare earth yang memiliki prospek besar bagi Indonesia.
Selain itu, keberhasilan sejumlah perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa dan Kanada juga menjadi faktor penting. Dampaknya memang belum sepenuhnya terasa. Tapi sudah mulai terlihat pada peningkatan ekspor, termasuk produk minyak sawit atau crude palm oil.
Baca juga : Eks Sekjen Kemenaker, TSK
Karena itu, Fakhrul melihat pemulihan ekonomi pada 2026 akan dimulai dari daerah. Terutama yang berbasis komoditas dan menerima manfaat dari program quick wins pemerintah. “Kuncinya adalah eksekusi belanja. Di 2026 jangan sampai ada drama lagi soal APBN. Pemerintah harus tancap gas sejak awal tahun. Karena realokasi sudah selesai, APBN sudah siap,” pungkasnya. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya