Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Peran Plastic Credit dalam Mengukur Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Jumat, 31 Oktober 2025 13:14 WIB
Isu keberlanjutan kini bukan lagi sekadar wacana lingkungan, tetapi telah menjadi pilar utama tata kelola korporasi modern. Dunia bisnis bergerak dari paradigma “ambil, pakai, buang” menuju circular economy, yaitu sistem ekonomi yang berupaya meminimalkan limbah dan memaksimalkan nilai guna sumber daya. Di tengah transformasi ini, muncul satu inovasi yang mulai banyak dibicarakan yaitu Plastic Credit.
Konsep ini tidak hanya menyentuh sisi lingkungan, tetapi juga membuka ruang baru bagi dunia akuntansi keberlanjutan dalam mengukur tanggung jawab sosial dan kinerja hijau perusahaan secara terukur dan transparan.
Dari Circular Economy ke Akuntansi Hijau
Circular economy menuntut perubahan mendasar dalam cara perusahaan memproduksi, mengonsumsi, dan melaporkan aktivitasnya. Di sinilah akuntansi keberlanjutan (sustainability accounting) memainkan peran penting bukan hanya mencatat angka keuangan, tetapi juga menghitung dampak sosial dan lingkungan.
Dalam praktiknya, akuntansi keberlanjutan menyediakan kerangka pelaporan bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap efisiensi energi, pengelolaan limbah, emisi karbon, hingga konsumsi air. Laporan keberlanjutan (sustainability report) yang terintegrasi kini menjadi salah satu alat utama dalam Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure yang dipercaya investor global.
Namun, tantangan muncul ketika harus mengukur dampak nyata terhadap sampah plastik, yang jumlahnya kian meningkat. Di titik inilah Plastic Credit menjadi relevan.
Baca juga : Cermati Luncurkan Fitur Laporan Kredit Untuk Lindungi Data Finansial Masyarakat
Apa Itu Plastic Credit?
Plastic Credit adalah mekanisme berbasis pasar yang memungkinkan perusahaan “mengimbangi” (offset) jejak plastik mereka dengan mendanai proyek-proyek yang mengurangi atau mendaur ulang plastik di tempat lain.
Setiap satuan credit mewakili jumlah tertentu dari plastik yang berhasil dikumpulkan, didaur ulang, atau dicegah agar tidak mencemari lingkungan. Dengan demikian, Plastic Credit bukan hanya alat finansial, melainkan instrumen akuntansi keberlanjutan yang menciptakan nilai ekonomi dari tindakan lingkungan yang positif.
Model ini mirip dengan carbon credit yang telah lebih dulu populer, namun lebih spesifik menargetkan persoalan limbah plastik. Dalam konteks Indonesia yang disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia mekanisme ini memiliki arti strategis.
Mengapa Akuntansi Berperan Penting?
Akuntansi memiliki fungsi ganda dalam era circular economy yaitu mengukur dampak dan menjamin akuntabilitas. Plastic Credit menuntut adanya sistem pencatatan dan verifikasi yang andal agar setiap transaksi memiliki nilai material dan moral.
Baca juga : Kembangkan Pesantren Ramah Anak, Menag Bentuk Satgas Pencegahan Kekerasan
Akuntan dan lembaga audit keberlanjutan berperan untuk:
- Memastikan transparansi atas pembelian, penggunaan, dan pelaporan plastic credit oleh perusahaan.
- Menilai materialitas dampak lingkungan terhadap laporan keuangan dan non keuangan.
- Mendorong integrasi data lingkungan ke dalam sistem akuntansi manajemen perusahaan.
Dengan pendekatan ini, akuntansi tidak lagi sekadar berbicara tentang laba dan rugi, tetapi juga tentang nilai dan tanggung jawab.
Indonesia dan Tantangan Penerapan Plastic Credit
Pemerintah Indonesia telah menunjukkan keseriusan dalam isu keberlanjutan melalui target pengurangan sampah plastik laut hingga 70% pada tahun 2025. Namun, upaya ini memerlukan sinergi antara kebijakan publik, dunia usaha, dan profesi akuntansi.
Salah satu tantangan terbesar adalah standarisasi pelaporan. Tanpa panduan akuntansi yang jelas, Plastic Credit bisa menjadi sekadar simbol komitmen hijau tanpa substansi. Oleh karena itu, perlu dirumuskan pedoman akuntansi yang mampu:
- Mengakui nilai plastic credit dalam laporan keberlanjutan
- Menentukan bagaimana transaksi tersebut diukur dan diungkapkan
- Memastikan bahwa manfaat lingkungan yang diklaim benar-benar terjadi (real impact).
Lembaga profesi akuntansi, regulator, dan akademisi perlu berkolaborasi dalam membangun standar akuntansi hijau nasional yang adaptif terhadap inovasi seperti ini.
Baca juga : Kementan Apresiasi Industri Alsintan Lokal Dukung Swasembada Pangan
Dari Biaya Lingkungan ke Investasi Masa Depan
Selama ini, pengeluaran untuk pengelolaan limbah sering dianggap sebagai “biaya tambahan”. Padahal, di era circular economy, hal itu justru merupakan investasi keberlanjutan. Plastic Credit dapat menjadi bukti bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bukan hanya kegiatan filantropi, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang.
Melalui pendekatan akuntansi keberlanjutan, perusahaan tidak hanya bisa menghitung “berapa banyak plastik yang mereka hasilkan”, tetapi juga berapa besar dampak positif yang telah mereka berikan untuk bumi. Dengan demikian, keberlanjutan bukan lagi sekadar moralitas, melainkan ukuran kinerja dan keunggulan kompetitif.
Saatnya Akuntansi Menjadi Penjaga Bumi
Era circular economy menuntut paradigma baru: dari konsumsi menuju konservasi, dari keuntungan menuju keberlanjutan. Dan di balik semua itu, akuntansi memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk memastikan bahwa setiap klaim hijau memiliki dasar data yang dapat diaudit dan dipercaya.
Plastic Credit hanyalah salah satu instrumen. Namun di tangan profesi akuntansi yang berintegritas, ia dapat menjadi alat ukur peradaban baru peradaban yang menilai keberhasilan bukan dari seberapa banyak kita mengambil dari bumi, melainkan seberapa banyak kita mengembalikan untuk kelestariannya.
Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris FORSILADI Provinsi Banten, dan Peneliti Bidang Keberlanjutan
Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris FORSILADI Provinsi Banten, dan Peneliti Bidang Keberlanjutan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya