Dark/Light Mode

Garam dan Laut: 2 Jalur Emas Menuju Indonesia Mandiri

Rabu, 5 November 2025 17:45 WIB
Foto ilustrasi petambak garam. [Sumber: pixabay.com]
Foto ilustrasi petambak garam. [Sumber: pixabay.com]

 Sebelumnya 
Menantang Norwegia dan Jepang di Samudra Ekonomi Biru

Potensi laut Indonesia memang luar biasa. Menurut laporan RDI Global (Resilience Development Initiative, sebuah lembaga pemikir global yang memajukan ketahanan bencana, perubahan iklim, energi terbarukan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat untuk masa depan yang berkelanjutan yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat) pada 19 September 2025 berjudul Fisheries and Indonesia’s Blue Economy dinyatakan, Despite being the world’s second-largest fish producer, Indonesia is facing the challenge of tapping marine resources sustainably while ensuring food security and social equity.”

Tantangan itu berkisar pada tiga hal: modernisasi armada, akses pembiayaan bagi nelayan kecil, dan peningkatan kapasitas pengolahan hasil laut. Jika persoalan itu diatasi, Indonesia bisa menjadi salah satu poros ekonomi biru dunia, bersanding dengan Norwegia dan Jepang.

Menghubungkan Hulu dan Hilir

Masalah klasik dalam industri garam dan pangan laut adalah mata rantai yang panjang. Harga di tingkat petambak sering tidak seimbang dengan harga pasar. PT Garam (Persero) berupaya menjembatani kesenjangan itu melalui sistem integrated distribution hub. Dalam peresmian gudang distribusi di Ponorogo, 20 Maret 2025, Abraham Mose, Direktur Utama PT Garam, menegaskan, Indonesia bisa mencapai swasembada garam di 2027 jika potensi yang ada dimanfaatkan secara optimal.”

Baca juga : Tito Karnavian: Bonus Demografi San Desa Jadi Kunci Indonesia Maju 2045

Gudang itu bukan hanya tempat penyimpanan, melainkan pusat logistik dan kualitas. Garam dari petambak disortir, dikeringkan ulang, dan dikemas sebelum dikirim ke pasar industri. Sistem ini diharapkan mampu menjaga harga di tingkat produsen tetap stabil, terutama menjelang musim tinggi seperti Lebaran dan akhir tahun.

Dari Desa ke Dunia

Kedaulatan pangan tidak hanya diukur dari kemampuan menutup kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dari kapasitas menembus pasar ekspor. Indonesia kini mulai mengembangkan blue food branding — produk laut yang tidak hanya segar, tapi juga berkelanjutan dan berjejak sosial.

Beragam jenis ikan laut yang dijual di sebuah supermarket. [Foto ilustrasi: RUS/RM.id]

“Ekonomi biru adalah masa depan,” kata Trenggono dalam forum Blue Economy Leaders Meeting di Bali, Mei 2025. “Kita ingin menjadi contoh, bagaimana pembangunan bisa tumbuh seiring dengan konservasi.”

Dalam forum itu, Indonesia mempresentasikan model Integrated Marine and Fisheries Center (IMFC), yang menggabungkan riset, produksi, dan edukasi publik. Hasilnya, negara-negara ASEAN mulai melirik kerja sama investasi di sektor garam dan perikanan berkelanjutan Indonesia.

Baca juga : Generasi Muda Jadi Tulang Punggung Diplomasi Publik Indonesia

Mengapa Harus Sekarang

Krisis pangan global akibat perubahan iklim dan geopolitik membuat banyak negara menata ulang strategi pangan nasional. Indonesia pun demikian. Impor garam yang masih mencapai 300 ribu ton per tahun adalah titik lemah yang ingin segera ditutup. Sementara sektor perikanan menghadapi tekanan dari degradasi ekosistem dan tumpang tindih wilayah tangkap.

Jika kedua sektor ini tidak dibenahi sekarang, maka kesempatan menjadi poros ekonomi maritim dunia bisa terlewat.

Pangan biru atau hasil laut dan perikanan, dijual hingga ke pasar-pasar tradisional, tulang punggung ketahanan gizi nasional hingga ekspor. [Foto: RUS/RM.id]

“Indonesia’s natural marine wealth is indeed a blessing for its people,” tulis artikel ANTARA English — sebuah kalimat sederhana, sekaligus pengingat: kekayaan laut tidak akan bermakna tanpa pengelolaan yang adil dan berkelanjutan.

Hulu, Hilir, dan Harapan

Baca juga : Projo Dukung Prabowo-Gibran, Pasbata: Saatnya Bersatu Bangun Indonesia

Ketika sore tiba di Rote, matahari menggantung rendah di atas hamparan tambak. Garam yang mengkristal di permukaan tanah memantulkan cahaya oranye keemasan. Yohanes Dae tersenyum sambil menatap hasil panennya hari itu. “Kalau semua lancar, kami bisa kirim ke Surabaya minggu depan,” katanya.

Di saat yang sama, ribuan nelayan di pesisir Lamongan, Bitung, dan Tual menggulung jala mereka, membawa pulang hasil laut yang akan memenuhi pasar-pasar ikan di seluruh negeri.

Dari tambak dan perahu-perahu itulah masa depan Indonesia dibangun. Swasembada garam dan pangan biru bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi proyek peradaban — tentang bagaimana bangsa maritim belajar berdiri di atas lautnya sendiri. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.