Dark/Light Mode

Mulai Diterapkan Tahun 2027

BBM Plus Etanol 10 Persen Beri Dampak Ekonomi Berlapis

Kamis, 6 November 2025 06:30 WIB
Warga mengisi BBM di SPBU di kawasan Cinere, Depok. (Foto: Tedy Kroen/RM)
Warga mengisi BBM di SPBU di kawasan Cinere, Depok. (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penerapan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan campuran etanol 10 persen atau E10 pada 2027 diyakini akan memberikan dampak ekonomi berlapis. Tak hanya mengerek bisnis sektor energi, tetapi juga pertanian.

Pemerintah menargetkan penerapan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan campuran etanol 10 persen atau E10 pada 2027. Langkah ini bukan hanya bagian dari strategi transisi energi, tetapi diharapkan menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi dari hulu hingga hilir. 

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, kebijakan E10 merupakan lanjutan dari upaya diversifikasi energi yang sudah berjalan. 

Baca juga : Air Laut Berpotensi Mendarat Di Pesisir, DKI Siaga Banjir Rob

Menurutnya, Pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil murni dengan memperkenalkan energi terbarukan. 

Ia mencontohkan, Indonesia telah lebih dulu mengembangkan biodiesel seperti B40 dan B50, yang berbahan baku minyak sawit. Upaya serupa kini diperluas ke sektor bahan bakar bensin melalui penerapan green fuel, yaitu Pertamax yang dicampur dengan 5 persen etanol atau E5. 

“Ini bagian dari diversifikasi produk BBM ramah lingkungan. Campurannya dilakukan bertahap dan terus meningkat. Kalau nanti ada E10, berarti kandungan etanol dalam bensin ditambah,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Baca juga : Gubernur Riau Jadi Tersangka Kasus Pemerasan Dan Gratifikasi

Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan lahan seluas 1 juta hektare untuk penanaman singkong. Komoditas ini akan menjadi bahan baku utama etanol, selain tebu. 

Fahmy menilai, kebijakan ini bukan hanya penting dari sisi energi, tetapi juga akan memberikan dampak ekonomi berlapis. 

Dia meyakini, penggunaan etanol akan mendorong petani tebu, singkong, dan komoditas lain untuk menghasilkan bahan baku. "Artinya, ini bisa membuka peluang usaha baru, serta mendorong pertumbuhan pabrik etanol di dalam negeri,” jelasnya. 

Baca juga : Bekuk PSG Dengan 10 Pemain, Bayern Calon Juara

Dengan meningkatnya produksi bahan baku, sambung Fahmy, maka peluang investasi di sektor hilir pun terbuka lebar. Pabrik-pabrik pengolahan etanol diprediksi akan tumbuh di berbagai daerah penghasil singkong dan tebu. 

Ia berharap, investor tertarik berpartisipasi agar kapasitas produksi nasional meningkat dan Indonesia bisa mandiri dalam pasokan bioetanol. 

“Dengan begitu, program E10 bukan hanya menyasar pengurangan emisi karbon, tapi juga menjadi stimulus ekonomi dari hulu ke hilir,” tuturnya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.