Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Budaya Sadar Risiko Jadi Kebutuhan Di Zaman Serba Cepat
Senin, 10 November 2025 16:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Risiko hidup kini datang bertubi-tubi. Dari penyakit, data bocor, hingga ekonomi yang gampang goyah. Karena itu, masyarakat dituntut lebih waspada dan tidak lagi berpikir “bagaimana nanti”, tapi “nanti bagaimana”.
Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (Masari) Dimas Syailendra Ranadireksa menegaskan, budaya sadar risiko harus tumbuh dari hal-hal kecil. Mulai dari pakai helm saat naik motor, sabuk pengaman di mobil, sampai cara kita bersikap di dunia digital.
“Kalau di transportasi kita pakai helm dan sabuk pengaman, di ruang digital kita juga harus sadar soal proteksi data,” ujar Dimas dalam diskusi publik Sadar Risiko dalam Perspektif Inovasi dan Pembangunan di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Menurut Dimas, pola pikir masyarakat perlu bergeser. Dari yang dulu reaktif jadi antisipatif. Dengan begitu, risiko bisa dikendalikan sejak awal.
Baca juga : Idrus Minta Polemik Soeharto Disikapi Dengan Kedewasaan Sejarah
Dalam bidang kesehatan, misalnya, masyarakat mulai mengenal makanan rendah gula untuk mencegah diabetes. Dalam isu tembakau, pendekatan pengurangan bahaya bisa jadi langkah transisi bagi perokok dewasa yang belum bisa berhenti total.
“Pendekatan pengurangan bahaya bisa jadi opsi sementara, tentu dalam kerangka kesehatan publik dan berbasis bukti ilmiah,” kata Dimas.
Senada, Direktur Sistem dan Manajemen Risiko Bappenas Prakosa Grahayudiandono menilai, manajemen risiko penting agar pemerintah tak mudah panik menghadapi perubahan global yang cepat.
“Pendekatan ini membuat kebijakan bisa disesuaikan tanpa kehilangan arah,” ujarnya.
Baca juga : Bek Italia Ini Jadi Kunci Solidnya Pertahanan Persib
Ia menekankan, pembangunan mesti memperhitungkan faktor sosial dan ekonomi agar keputusan yang diambil tidak sekadar reaktif, tapi tetap menjaga stabilitas.
Sementara Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS Dr. Nurma Midayanti menyoroti pentingnya data. Tanpa data yang kredibel, masyarakat sulit membaca risiko di lingkungannya, sementara pemerintah pun kesulitan menjelaskan arah kebijakan.
“Kita perlu bangun literasi data bersama. Tanpa itu, risiko sulit dipetakan,” tegas Nurma.
Dalam forum yang juga melibatkan akademisi, dunia usaha, dan media ini, kesadaran risiko dipandang tak hanya soal bencana. Di era modern, ancamannya bisa datang dari gaya hidup, teknologi, hingga perilaku konsumtif.
Baca juga : Kemenimipas Tegaskan Budaya Sadar Risiko melalui Penguatan Tiga Lini Pengawasan
Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail mengingatkan, risiko sering muncul tanpa terlihat.
“Risiko itu nyata, kadang muncul di luar kendali kita. Karena itu sistemnya juga harus dijaga,” ujarnya.
Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Hari Sadar Risiko Nasional 2025. Para panelis sepakat, risiko tak bisa dihindari, tapi bisa dikelola dengan cerdas.
Dengan inovasi, data akurat, dan perubahan perilaku, budaya sadar risiko diyakini akan menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya