Dark/Light Mode

Drupada Juru Damai Trah Barata

Selasa, 21 Oktober 2025 07:15 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehadiran Presiden Prabowo di KTT Perdamaian Gaza pekan silam membuktikan bahwa peran Indonesia sangat strategis dalam kancah Internasional. Perdamaian permanen tidak akan terwujud apa bila masih terjadi kekerasan di Gaza. Para pemimpin dunia berkewajiban untuk mengawal poin- poin dalam proposal perdamaian tersebut.

“Gaza justru masih membara, Mo. Padahal sudah memasuki gencatan senjata,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar sebetulnya kurang semangat untuk nimbrung konflik Hamas dan Israel. Semar sedang galau dengan kegaduhan penerapan Etanol sepuluh persen pada BBM. Sebetulnya tidak ada masalah BBM dicampur dengan Etanol. BBM dengan Etanol lebih ramah lingkungan. Timbulnya kegaduhan karena komunikasi yang jelek kepada masyarakat.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit dan pisang rebus. Suasana pagi mulai terasa panas karena dampak cuaca ekstrim beberapa pekan terakhir ini. Kepulan asap rokok klobot membawanya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Drupada menjadi juru damai klan Kurawa dan Pandawa.

Baca juga : Gugatan Bima Pada Sidang Umum Dewata

Kocap kacarito, Prabu Drupada adalah raja dari kerajaan Pancala. Drupada bukan klan Pandawa maupun Kurawa, tetapi peduli terhadap Klan Barata yang sedang berkonflik memperebutkan tahta kerajaan Hastina. Hubungannya dengan Pandawa sebatas ikatan hubungan perkawinan anaknya Drupadi yang dipersunting Puntadewa.

Prabu Drupada terpanggil untuk mendamaikan Pandawa dan Kurawa. Kerana trah Abiyasa kalau tidak segera bersatu maka bakal terjadi perang Baratayuda. Perang besar antar saudara dalam perebutan kekuasaan.

Niat baik Drupada sudah mendapat restu dari sesepuh Pandawa yaitu Prabu Matswapati. Begitu pula Prabu Kresna mendukung penuh diplomasi perdamaian yang digagas Prabu Drupada. Bahkan Ibu Kunti sebagai Ibu dari satria Pandawa merasa berutang budi dengan langkah Drupada.

Baca juga : Membangun Harus Pikirkan Lingkungan

Drupada didampingi pasukan secukupnya melaju menaiki kereta kencana menuju Kerajaan Hastina. Bagi Drupada sudah biasa malang melintang dalam diplomasi politik, tidak gentar menghadapi konflik perebutan kekuasaan. Apalagi yang dihadapi adalah Prabu Duryudana penguasa Hastina.

Melihat kedatangan Drupada, Prabu Duryudana tidak mau menemuinya. Kedatangan Prabu Drupada dianggap angin lalu. Ibarat raja kecil yang datang menghadap raja besar yang sedang berkuasa. Duryudana mengusir Drupada karena tidak ada urusan dengan tahta Kerajaan Hastina yang dipimpinnya.

Drupada merasa terhina dengan perilaku Duryudana. Padahal kedatangannya jelas untuk misi perdamaian untuk menyampaikan pesan satria Pandawa. Sebagai Duta Pandawa, Drupada merasa gagal tidak berhasil mencegah perang Baratayuda.

Baca juga : Polikrisis Pemerintahan Parikesit

Prabu Drupada diserang pasukan Kurawa yang dipimpin Patih Sengkuni. Pasukan Pancala kocar-kacir mendapat serangan mendadak tersebut. Untung Bima dan Kresna waspada dan berhasil menyelamatkan Drupada dari serangan licik Kurawa.

“Niat baik belum tentu dapat diterima dengan baik, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole, seperti apa yang terjadi di Gaza. Niat baik para pemimpin dunia belum tentu dapat diterima dengan legowo pihak yang bertikai. Hal ini dapat dilihat dari alotnya menyepakati poin- poin dalam perjanjian perdamaian tersebut,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye...

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.