Dark/Light Mode

Di Tengah Serbuan Produk Impor

Pemerintah Perkuat Daya Saing Industri Baja Lokal

Selasa, 11 November 2025 06:35 WIB
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza. (Foto: Tedy Kroen/RM)
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza. (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berkomitmen memperkuat daya saing industri baja nasional di tengah meningkatnya impor baja asal China dan Vietnam. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk menjaga keberlanjutan industri baja sebagai sektor vital bagi pembangunan dan kemandirian ekonomi Indonesia.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, saat ini terdapat kesenjangan antara kebutuhan baja nasional dan kapasitas produksi dalam negeri. 

“Gap ini diisi oleh produk impor sekitar 55 persen kebutuhan nasional dan mayoritas berasal dari China. Sementara utilisasi industri baja kita hanya sekitar 50 persen, sehingga banyak pabrik baja nasional yang idle karena produknya tidak terserap pasar,” kata Faisol di Jakarta, Senin (10/11/2025). 

Menurut Faisol, kondisi tersebut menjadi peluang bagi Pemerintah dan pelaku industri untuk memperluas kapasitas dan diversifikasi produk baja nasional. Khususnya pada sektor-sektor bernilai tinggi seperti otomotif, perkapalan dan alat berat. 

Baca juga : Perbanyak Petugas Perempuan

“Padahal sektor-sektor ini memerlukan jenis baja dengan spesifikasi khusus seperti alloy steel atau special steel yang memiliki potensi pasar besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, terdapat 562 perusahaan yang tergolong dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 24 produsen logam dasar, serta 1.592 perusahaan dalam KBLI 25 produsen barang logam, bukan mesin dan peralatannya. 

Faisol menambahkan , modernisasi industri menjadi kunci penguatan daya saing baja nasional. Pemerintah terus mendorong penerapan teknologi baru dan pembaruan peralatan produksi agar lebih efisien dan ramah lingkungan. 

“Kondisi ini mempengaruhi kualitas dan biaya produksi, sehingga menjadi hambatan dalam upaya menuju industri baja yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berstandar global,” katanya. 

Baca juga : Pengguna iPhone Tak Bisa Gunakan QRIS Tap, BI Akan Lobi Apple

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, produksi baja Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia pada 2024 dengan total 18 juta ton, naik 110 persen dibandingkan 2019. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan di tengah tantangan global. 

Sementara, total produksi baja dunia mencapai 1,084 miliar ton, dengan China sebagai produsen terbesar sebesar 1,005 miliar ton atau 53,3 persen dari total produksi dunia. India berada di posisi kedua dengan 149,4 juta ton atau sekitar 7,9 persen. 

“Industri baja nasional saat ini menunjukkan tingkat rata-rata utilisasi sebesar 52,70 persen,” jelas Faisol. 

Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) atau Masyarakat Baja Konstruksi Indonesia Budi Harta Winata menilai, derasnya arus baja impor perlu direspons dengan kebijakan yang melindungi industri dalam negeri, sekaligus memperkuat struktur industri nasional. 

Baca juga : Kebijakan Pram Kurangi Beban Ekonomi Rakyat

Menurut Budi, derasnya impor konstruksi baja tersebut telah menyebabkan distorsi pasar, menekan utilisasi pabrik domestik dan mengganggu rantai nilai industri baja nasional. 

“Ini berpotensi menghapus kapasitas produksi strategis dalam negeri,” ujar Budi di Jakarta, Rabu (23/10). [DIR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.