Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Di Forum COP30, Pertamina Tegaskan Transformasi Menuju NZE 2060
Rabu, 12 November 2025 15:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam forum internasional Conference of Parties ke-30 (COP30) yang berlangsung di Belém, Brasil, PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui transformasi bisnis berkelanjutan di seluruh lini usaha, penguatan praktik ramah lingkungan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, yang mewakili perusahaan dalam forum tersebut, menyampaikan bahwa Pertamina terus memperluas peta jalan menuju NZE sebagai bagian dari dukungan terhadap visi Asta Cita Pemerintah Indonesia yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan target pengurangan emisi.
“Pertamina sedang memperbarui roadmap Net Zero Emission, tidak hanya mencakup emisi Scope 1 dan Scope 2, tetapi kini juga menambahkan Scope 3 agar seluruh rantai bisnis energi berkontribusi dalam pengurangan emisi,” ujar Agung usai opening ceremony KTT COP30 di Belém, Brazil, Senin (10/11).
Menurut Agung, sebagai perusahaan energi terbesar nasional, Pertamina menjadi pelopor transformasi sektor energi dan memainkan peran penting dalam dekarbonisasi nasional. Sebagai wujud komitmen tersebut, Pertamina telah membentuk direktorat khusus yang membidangi transformasi dan keberlanjutan bisnis.
Baca juga : GeoDipa Komit Dorong Budaya Transformasi Berkelanjutan di Setiap Level
Untuk pertama kalinya dalam forum COP, direktur yang membidangi keberlanjutan Pertamina hadir dan menyampaikan pesan strategis mengenai langkah-langkah transformasi menuju energi bersih.
Agung menjelaskan bahwa strategi NZE diterapkan di seluruh anak perusahaan Pertamina dengan menyelaraskan keunggulan operasional dan tujuan iklim nasional. Perseroan terus mendorong dekarbonisasi terintegrasi dan bisnis rendah karbon di seluruh rantai nilai energi sejalan dengan strategi pertumbuhan ganda perusahaan.
“Upaya dekarbonisasi juga dilakukan melalui Pertamina NRE, antara lain dengan pemanfaatan pembangkit listrik hijau seperti tenaga surya, panas bumi, biogas, sampah, air, dan angin, sekaligus mendukung ekosistem kendaraan listrik serta pengembangan hidrogen dan amonia hijau,” jelas Agung.
Di sektor hulu, Pertamina menjalankan efisiensi energi, pengurangan emisi metana, serta mengembangkan Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) berbasis alam. Melalui PT Pertamina Hulu Energi (PHE), perusahaan memacu pengembangan 13 proyek CCS/CCUS dengan potensi penyimpanan karbon hingga 7,3 gigaton (GT), serta membangun klaster bisnis end-to-end berkapasitas sekitar 60 metrik ton per tahun (MTPA).
“CCUS dan CCS berpotensi menjadikan Indonesia pemimpin di Asia Tenggara dalam pengurangan emisi sektor yang sulit didekarbonisasi. Potensi ini dapat mendukung target penurunan emisi 68 persen dari sektor energi pada 2030,” ujarnya.
Baca juga : UMKM Binaan Pertamina Tembus Pasar Global, Bukukan Transaksi Rp 206 M di AGRINEX
Pada sektor pengolahan, Pertamina terus meningkatkan produksi biofuel seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), Pertamax Green, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), serta bahan baku rendah karbon seperti UCO, CPO, dan amonia biru.
Di sektor gas, dekarbonisasi dilakukan melalui elektrifikasi kompresor, penggunaan bahan bakar rendah karbon untuk armada, serta pengembangan bio-LNG, hydrogen blending, natural gas, dan biomethane.
Untuk sektor pemasaran dan niaga, Pertamina memperluas distribusi bahan bakar rendah karbon seperti biodiesel, bioetanol, dan SAF, serta mengembangkan Green Energy Station dan berpartisipasi aktif dalam pasar karbon.
“Sesuai pesan COP30 yaitu ‘it’s time to act’, Pertamina telah melakukan aksi nyata dalam dekarbonisasi dan energi terbarukan, termasuk pengembangan SAF, biodiesel, dan bioetanol dengan pembelajaran dari keberhasilan Brazil,” kata Agung.
Ia menegaskan, seluruh upaya Pertamina sejalan dengan standar global untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2°C. “Kami menjalankan transformasi bisnis secara tegas dan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia dan mencapai NZE,” ujarnya.
Baca juga : Pertamina Perkuat Transformasi SDM Menuju Era Human Capital 5.0
Selain itu, Indonesia kini menempati posisi kedua dunia dalam kapasitas panas bumi setelah Amerika Serikat, sekaligus menjadi penyumbang 2,3 persen emisi global atau setara 1.360 Mt CO₂, di mana 55,3 persen berasal dari sektor energi.
Pertamina juga mendukung dekarbonisasi melalui sektor pendidikan lewat Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina, yang berfokus pada riset efisiensi energi, elektrifikasi, energi terbarukan, dan pemodelan pasar karbon.
Langkah-langkah tersebut, menurut Agung, sejalan dengan strategi pertumbuhan ganda Pertamina. Sebagai langkah konkret, perusahaan telah mengalokasikan 10 persen dari total investasi untuk bisnis rendah karbon pada periode 2025–2029, dengan target peningkatan kontribusi pendapatan dari sektor tersebut dalam lima tahun ke depan.
Pertamina menegaskan komitmennya sebagai perusahaan energi yang memimpin transisi menuju masa depan berkelanjutan, dengan mendorong program-program yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnisnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya