Dark/Light Mode

Industri Sawit Diminta Pimpin Narasi Global, Manfaatkan Aturan EUDR

Jumat, 14 November 2025 19:33 WIB
Dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (13/11/2025), Adjunct Professor dari John Cabot University, Roma, Pietro Paganini, mengungkapkan bahwa tantangan utama komoditas sawit saat ini bukan terletak pada produktivitas, melainkan pada kepercayaan publik. (Foto: Dok. IPOC 2025)
Dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (13/11/2025), Adjunct Professor dari John Cabot University, Roma, Pietro Paganini, mengungkapkan bahwa tantangan utama komoditas sawit saat ini bukan terletak pada produktivitas, melainkan pada kepercayaan publik. (Foto: Dok. IPOC 2025)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri kelapa sawit dihadapkan pada fase krusial untuk memperkuat posisi di pasar global di tengah tekanan regulasi, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR), dan persepsi negatif dari publik.

Para pemangku kepentingan didorong untuk memanfaatkan regulasi ini sebagai peluang membangun inovasi dan memimpin narasi keberlanjutan global.

Dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (13/11/2025), Adjunct Professor dari John Cabot University, Roma, Pietro Paganini, mengungkapkan bahwa tantangan utama komoditas sawit saat ini bukan terletak pada produktivitas, melainkan pada kepercayaan publik.

“Kelapa sawit adalah komoditas yang paling produktif dan paling inklusif, tetapi justru memiliki reputasi paling buruk,” ujar Paganini.

Paganini menyebut EUDR sebagai babak baru standar global yang harus diperlakukan sebagai peluang strategis untuk membangun inovasi dan kepercayaan.

Baca juga : Perkuat Kerja Sama Kehutanan Global, Wamenhut Temui UNEP Di COP-30

Ia menekankan bahwa standar nol deforestasi dan keterlacakan penuh akan menjadi keniscayaan di pasar global.

“Nol deforestasi dan keterlacakan penuh akan menjadi standar baru pasar global. EUDR membuka perlombaan global untuk membangun kepercayaan dan inovasi,” tegasnya.

Investasi Teknologi

Ia menyoroti pentingnya teknologi sebagai investasi strategis untuk daya saing dan kepercayaan.

Paganini menyebut, teknologi seperti drone, satelit, blockchain, kecerdasan buatan, serta replanting dan digitalisasi lahan adalah fondasi produktivitas berkelanjutan.

“Teknologi adalah frontier baru bagi daya saing dan kepercayaan,” katanya.

Baca juga : Siap Kawal Riset Air, Pangan Dan Energi

Paganini menambahkan, semakin tinggi hasil panen, semakin rendah tekanan terhadap lahan.

Paganini turut meminta negara produsen untuk meninggalkan sikap reaktif dan mulai memimpin diplomasi keberlanjutan global, terutama dalam menghadapi kampanye anti-sawit dan klaim palm oil-free yang menyesatkan konsumen.

Kebutuhan India

Pada sesi yang sama, Chairman Asian Palm Oil Alliance (APOA) Atul Chaturvedi menyoroti pasar India sebagai importir minyak nabati terbesar di dunia yang kini berada dalam fase krusial pemenuhan kebutuhan.

India menghadapi kerentanan karena tingginya ketergantungan pada impor minyak nabati yang mencapai 60 persen.

“India adalah pasar minyak nabati terbesar di dunia, namun sekaligus negara yang paling rentan karena ketergantungan impor mencapai 60 persen,” ujar Chaturvedi.

Baca juga : Norwegia Apresiasi Menhut: Indonesia Pimpin Transformasi Pengelolaan Hutan Adat

Ia memaparkan, konsumsi minyak nabati India mencapai 26,5 juta ton, dengan kontribusi minyak sawit sebesar 37 persen.

Impor sawit India mencapai 8,25 juta ton atau 50 persen dari total impor minyak nabati, dan kebutuhan diperkirakan melonjak hingga 50 juta ton pada tahun 2047.

“Pertanyaannya sederhana tetapi krusial: dari mana minyak sebanyak itu akan dipenuhi?” katanya.

Chaturvedi menegaskan bahwa kebijakan tarif tinggi bukan solusi jangka panjang karena justru membebani konsumen domestik, menaikkan harga, dan memukul industri.

“Tarif tinggi ibarat ular yang memakan ekornya sendiri. Konsumen domestik yang terbebani, harga naik, dan industri ikut terpukul,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.