Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekonom: MBG Bisa Dongkrak Ekonomi Nasional Hingga Rp 900 Triliun
Sabtu, 15 November 2025 12:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program sosial. Di balik sepiring makanan untuk anak sekolah, terdapat potensi ekonomi yang langsung berdenyut di tengah masyarakat.
Ekonom yang juga mantan Direktur Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Harryadin Mahardika, menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah menciptakan multiplier effect yang menggerakkan ekonomi di daerah.
“MBG itu bukan sekadar memberi nutrisi. Hal yang lebih esensial lagi adalah perputaran ekonomi langsung ke sektor riil, ke desa-desa. Selain itu, dengan alokasi anggaran sekitar Rp 300 triliun setahun, prediksi saya dampak ekonomi tidak langsung dari MBG bisa mencapai tiga kali lipatnya, yaitu Rp 900 triliun,” ujar Harryadin, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (15/11/2025).
Baca juga : Indonesia Bidik Peringkat Satu Pusat Ekonomi Syariah Global di 2029
Dampak langsung MBG terlihat dari penciptaan lapangan kerja. Dari 22.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, minimal 30 pegawai bekerja di tiap dapur. Artinya, serapan tenaga kerjanya mencapai lebih dari 600.000 orang. Di Kota Surakarta, 73,7 persen tenaga kerja SPPG merupakan warga lokal, terutama ibu rumah tangga. Para pegawai juga menerima upah sedikit di atas Upah Minimum Regional (UMR), sehingga mendorong daya beli masyarakat.
“Setahu saya, (upah) pegawai SPPG ditetapkan sedikit lebih besar dari UMR daerah tersebut. Memang mereka dibayar harian, tapi kalau dikalkulasikan, pegawai SPPG di semua daerah itu hampir diupah lebih besar dari UMR daerahnya,” kata Harryadin.
Selain membuka lapangan kerja, MBG juga menjadi berkah bagi petani dan peternak. Konsep idealnya mengharuskan SPPG membeli bahan baku langsung dari produsen lokal. Alhasil, rantai distribusi makin pendek dan petani dapat menjual produk dengan harga lebih baik dibanding lewat pengepul.
Baca juga : UI Dorong Hilirisasi Riset untuk Penguatan Ekonomi Nasional
“Satu SPPG yang membelanjakan Rp 10.000 untuk 3.000 porsi per hari menciptakan perputaran ekonomi lokal hingga Rp 30 juta per hari,” tambah Harryadin.
Sebagai contoh, di Kota Surakarta terdapat 19 SPPG yang beroperasi. Perputaran ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp 570 juta per hari.
Dampak tidak langsung MBG juga meluas. Orang tua siswa bisa menabung karena uang jajan anak berkurang. Di sisi lain, jasa bengkel mobil dan reparasi elektronik ikut ramai karena peralatan dapur SPPG membutuhkan perawatan berkala. Industri konstruksi pun ikut terdongkrak dengan rencana pembangunan 30.000 SPPG baru.
Baca juga : MBG Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Lokal dan Ketahanan Pangan Nasional
Limbah dapur SPPG juga memberi nilai tambah. Sisa makanan bisa diolah menjadi pakan ternak atau pupuk kompos yang bermanfaat bagi petani dan peternak.
Secara makro, Harryadin memperkirakan MBG mampu menyumbang 0,15–0,20 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jika kuartal III kemarin kita tumbuh 5,04 persen, dengan tambahan efek ekonomi dari MBG, harapannya negara bisa tumbuh di angka 5,1–5,2 persen di akhir tahun ini. Program ini revolusioner. Ini kesempatan kita untuk mengawasi dan mengerjakannya bersama-sama. Jangan skeptis, karena pada kenyataannya tidak ada yang dirugikan di sini, semua diuntungkan,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya