Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Survei Sun Life: 73 Persen Usaha Keluarga Di Asia Belum Siapkan Penerus
Jumat, 28 November 2025 19:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Survei terbaru Sun Life Asia mengungkap hampir tiga perempat pemilik usaha keluarga di Asia belum memiliki rencana penerus usaha yang tersusun sepenuhnya, meski mayoritas menyadari pentingnya pengaturan warisan dan keberlanjutan bisnis antar generasi.
Dalam laporan yang dirilis di Jakarta, Jumat (28/11/2025), Sun Life menyebut hanya 27 persen keluarga pemilik usaha yang telah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap. Angka tersebut menunjukkan kesenjangan besar antara kebutuhan perencanaan jangka panjang dan kesiapan nyata di lapangan.
Usaha keluarga memegang peranan penting dalam ekonomi kawasan Asia Pasifik. Sekitar 85 persen perusahaan dimiliki keluarga, sementara usaha kecil dan menengah (UKM) mencakup 97 persen bisnis di kawasan. Perusahaan keluarga Asia juga menyumbang 18 persen dari 500 perusahaan keluarga terbesar di dunia.
Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Maika Randini mengatakan, peralihan kekayaan lintas generasi menjadi momen penting bagi keberlanjutan bisnis keluarga dalam beberapa tahun mendatang.
“Peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka,” ujar Maika.
Baca juga : Segera Jemput Ira Puspadewi, Keluarga Dan Tim Kuasa Hukum Sudah di Rutan KPK
Survei Sun Life menunjukkan 94 persen pemilik usaha berencana menyusun pengaturan warisan komprehensif. Namun, hanya 27 persen yang memiliki rencana penerus usaha lengkap, sementara 25 persen baru memiliki sebagian rencana, 24 persen masih dalam proses penyusunan, dan 19 persen belum memiliki rencana apa pun.
Tingkat kesiapan antarnegara cukup bervariasi. Indonesia tercatat sebagai negara dengan persentase tertinggi pemilik usaha yang memiliki rencana penerus terstruktur, yakni 39 persen. Angka tersebut jauh di atas Vietnam yang hanya 14 persen. Di Hong Kong tercatat 20 persen, dan Singapura 28 persen.
Kesenjangan komunikasi juga masih terlihat. Di antara penerus keluarga yang aktif dalam bisnis, hanya 44 persen yang menyatakan generasi sebelumnya telah mengomunikasikan rencana warisan secara menyeluruh. Angkanya turun menjadi 27 persen pada keluarga yang penerusnya tidak terlibat langsung dalam operasional.
Rapat keluarga formal menjadi forum paling umum untuk membahas warisan (57 persen), diikuti percakapan formal satu lawan satu (52 persen) dan diskusi informal (43 persen). Saat ditanya forum ideal, responden tetap memilih rapat keluarga formal sebagai yang utama.
Meskipun banyak yang belum memiliki rencana penerus usaha terstruktur, 69 persen pemilik usaha menempatkan perlindungan keuangan keluarga sebagai prioritas utama dalam perencanaan warisan. Sebanyak 54 persen menganggap penting memiliki rencana warisan yang jelas untuk menghindari kebingungan atau perselisihan, sementara 51 persen menekankan perlunya membangun kekayaan yang cukup bagi generasi berikutnya.
Baca juga : Ira Puspadewi Segera Bebas, Kuasa Hukum: Keluarga Akan Jemput
Lebih dari dua pertiga responden (68 persen) berharap kekayaan yang diwariskan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jangka panjang, baik melalui investasi di aset keuangan, asuransi jiwa, maupun pengembangan usaha keluarga.
“Banyak keluarga belum siap menghadapi masa depan, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur. Ini menjadi peluang besar bagi pemilik usaha untuk memperkuat fondasi masa depan, namun banyak yang masih menghadapi risiko yang tidak perlu,” kata Maika.
Sun Life juga menemukan adanya jurang generasi yang berpotensi menghambat keberlanjutan bisnis keluarga. Hanya 40 persen pemilik usaha yang yakin generasi berikutnya bersedia melanjutkan usaha. Di kalangan penerus keluarga yang tidak terlibat operasional, angkanya bahkan hanya 31 persen.
Alasan enggan mengambil alih usaha keluarga cukup beragam. Keinginan untuk tetap mandiri menjadi faktor terbesar (50 persen), disusul rasa takut menghadapi tanggung jawab (42 persen), kurangnya minat (28 persen), serta perbedaan nilai atau visi (27 persen).
“Usaha keluarga di Asia berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar. Generasi muda kini mengutamakan kemandirian, tujuan, dan keseimbangan hidup. Pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus usaha dan membuka ruang dialog mengenai masa depan,” ujar Maika.
Baca juga : GKSR Inginkan PT 1 Persen, 8 Parpol Nonparlemen Siap Berjuang Bersama
Kurang dari separuh pemilik usaha keluarga tercatat pernah mencari nasihat perencanaan keuangan. Dari yang telah atau berniat melakukannya, sebanyak 61 persen menilai keahlian profesional sebagai faktor utama dalam memilih konsultan, disusul kemampuan merencanakan kebutuhan lintas generasi (52 persen) dan pendekatan personal (49 persen).
Sebanyak 36 persen responden memilih layanan ahli individual, 23 persen menginginkan layanan family office yang melibatkan beberapa ahli, sementara 32 persen menggabungkan keduanya.
“Temuan kami menunjukkan bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan. Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki tempatnya masing-masing. Nasihat yang proaktif dapat membantu pemilik usaha mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik, dan menjaga warisan keluarga,” ujar Maika menutup.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya