Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pakar UGM Soroti Mitigasi Pemulihan Infrastruktur Komunikasi Pasca Bencana
Selasa, 9 Desember 2025 17:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah memasang 10 titik layanan internet berbasis satelit SATRIA-1 di wilayah terdampak banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk mempercepat pemulihan konektivitas.
Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Iradat Wirid menilai, langkah tersebut sangat membantu komunikasi darurat, meskipun tetap membutuhkan kesiapan perangkat, koordinasi antarlembaga, dan strategi mitigasi yang lebih matang.
Iradat menjelaskan, satelit menjadi solusi penting saat infrastruktur komunikasi darat rusak. Layanan berbasis satelit memberi alternatif signifikan di lokasi yang terputus akibat bencana.
Namun efektivitasnya bergantung pada kesiapan perangkat terminal seperti VSAT di lapangan.
Baca juga : PLN Minta Maaf Pemulihan Listrik di Aceh Terhambat, Komitmen Percepat Penormalan
“Dalam banyak kasus, terminal ini juga bisa rusak atau hilang karena dampak banjir dan longsor, sehingga perangkat portabel harus selalu tersedia untuk situasi darurat,” kata Iradat, Selasa (9/12).
Menurut dia, pemasangan titik SATRIA-1 di wilayah terdampak merupakan langkah tepat untuk memulihkan konektivitas dasar masyarakat. Namun penyediaan internet darurat bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan organisasi.
“Dalam kondisi bencana, koordinasi antar lembaga baik pusat maupun daerah, menjadi tantangan pertama dan paling besar. Sering kali masing-masing pihak saling menunggu sehingga masyarakat makin sulit. Karena itu, sejak awal harus jelas siapa memimpin, siapa melakukan apa, dan bagaimana alur komandonya,” ujarnya.
Dalam situasi pascabencana yang menelan ratusan korban jiwa, Iradat menilai warga memerlukan pemimpin yang mampu menguasai birokrasi sekaligus menenangkan publik.
Baca juga : Antisipasi Kemungkinan KLB Penyakit Pasca Banjir Besar
Kecepatan pengambilan keputusan dinilai sangat menentukan saat infrastruktur hancur dan masyarakat panik. “Kita punya pengalaman dari bencana besar seperti tahun 2004, dan dengan teknologi yang kini jauh lebih maju, seharusnya kita lebih siap, asal anggaran mitigasi tidak terus dipangkas,” jelasnya.
Ia berharap pemanfaatan SATRIA-1 tidak berhenti pada respons darurat, tetapi menjadi bagian dari strategi besar peningkatan kesiapsiagaan nasional.
Meski teknologi satelit dinilai penting, hal itu bukan satu-satunya jawaban dalam memenuhi kebutuhan komunikasi warga.
Pemerintah perlu investasi lebih besar pada mitigasi, penanganan bencana, dan literasi kebencanaan.
Baca juga : Komisi XII Apresiasi Langkah Pemerintah Pulihkan Sektor Energi Pasca Bencana
“Literasi ini penting, agar masyarakat bisa memberikan respons awal sambil menunggu bantuan datang, tanpa merasa bahwa ‘warga bantu warga’ adalah satu-satunya pilihan,” tuturnya.
Iradat menegaskan kembali bahwa keberadaan SATRIA-1 merupakan langkah maju, tetapi harus diimbangi perencanaan matang, pembagian peran yang jelas, dan peningkatan ketangguhan masyarakat.
“Negaralah yang bertanggung jawab mengelola bencana, tetapi masyarakat yang melek literasi kebencanaan akan jauh lebih siap menghadapi kondisi darurat. Dengan kombinasi teknologi, koordinasi, dan kesiapsiagaan publik, respons bencana dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya