Dark/Light Mode

YEI: Sawit Jadi Devisa Terbesar Indonesia, Kunci Energi Masa Depan

Selasa, 30 Desember 2025 11:50 WIB
Direktur Eksekutif Youth Environment Institute (YEI) Julian. Foto: YEI
Direktur Eksekutif Youth Environment Institute (YEI) Julian. Foto: YEI

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri kelapa sawit kembali membuktikan perannya sebagai salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Sebagai produsen terbesar dunia dengan pangsa 58 persen pasar global, sektor ini menyumbang devisa negara lebih dari 30 miliar dolar AS per tahun.

"Sawit bukan hanya komoditas biasa, tetapi pilar utama ekonomi yang menggerakkan kehidupan 16 juta pekerja dan keluarganya," ujar Julian, Direktur Eksekutif Youth Environment Institute (YEI) dalam keterangannya, Selasa (30/12/2025).

Selain menyumbang devisa, industri sawit memberikan efek berganda yang besar bagi perekonomian nasional. Sektor ini menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja, mulai dari petani hingga pekerja industri hilir.

Selain itu, penerimaan negara dari pajak dan levy sawit turut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur serta peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus menopang stabilitas ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.

Baca juga : Acosta Tetap di KTM, VR46 Tak Tutup Peluang di Masa Depan

Sedangkan program biodiesel B50 (campuran 50 persen biodiesel sawit dengan solar) dinilai sebagai langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.

Program ini, dinilainya membawa sejumlah manfaat. Pertama, menghemat devisa impor BBM hingga miliaran dolar AS per tahun. Kedua, menjaga stabilitas harga energi karena diproduksi dalam negeri.

Ketiga, menyerap CPO domestik sehingga menstabilkan harga di tingkat petani. Keempat, mengurangi emisi hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil.

Selain biodiesel, sawit juga berpotensi dikembangkan menjadi bioavtur (SAF) untuk industri penerbangan, bioethanol dari limbah sawit, serta biomassa untuk pembangkit listrik.

Baca juga : Siklon Tropis Jauhi Indonesia, Pemerintah Tetap Waspada

Dengan luas perkebunan mencapai 16 juta hektare, sambung dia, Indonesia memiliki keunggulan alamiah. Sawit mampu menghasilkan minyak hingga 10 kali lebih banyak per hektare dibanding tanaman minyak nabati lainnya, sehingga menjadi pilihan paling efisien untuk program bioenergi nasional.

"Pengembangan bioenergi sawit adalah strategi kedaulatan energi sekaligus peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita bukan hanya lepas dari ketergantungan energi fosil impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau," tambah Julian.

Pemerintah juga terus mendorong praktik keberlanjutan melalui sertifikasi ISPO dan RSPO. Sehingga Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemimpin global dalam transisi energi berbasis biomassa.

Berdasarkan kajian YEI, tuturnya, kelapa sawit memberikan kontribusi ganda bagi Indonesia. Yakni ebagai penyumbang devisa terbesar sekaligus sumber energi terbarukan masa depan.

Baca juga : Buka Siang Hari, Bar Jadi Tempat Berbagi Masalah

"Program B50 dan inovasi bioenergi lainnya menjadi kunci kemandirian energi serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.