Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka -
Penurunan harga mobil baru berpotensi menjadi kunci untuk menggairahkan kembali pasar otomotif nasional.
Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menunjukkan, sebanyak 27 persen konsumen yang semula berniat membeli mobil bekas menyatakan siap beralih ke mobil baru apabila harga kendaraan baru turun sekitar 10 persen.
Baca juga : Lee Jae Myung Boyong Pengusaha Kelas Kakap
Peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina menjelaskan stagnasi penjualan mobil baru dalam beberapa tahun terakhir terutama dipicu oleh masalah keterjangkauan harga. Kenaikan pendapatan rumah tangga dan upah riil dinilai tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga mobil.
“Terjadi kesenjangan antara harga mobil dan kemampuan beli masyarakat. Ini yang membuat penjualan mobil baru sulit mencapai target,” ujar Syahda di Bandung, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan survei terhadap 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, sekitar 962 responden atau hampir dua pertiga menyatakan lebih memilih mobil bekas sebagai opsi awal. Namun, ketika disimulasikan penurunan harga mobil baru sebesar 10 persen, sebanyak 27 persen dari kelompok tersebut menyatakan bersedia beralih ke mobil baru.
Baca juga : Dipastikan Yusril, KUHP Dan KUHAP Baru Tak Bungkam Pengkritik
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan skenario kenaikan harga mobil bekas. Dalam simulasi lain, ketika harga mobil bekas dinaikkan, hanya sekitar 15 persen responden yang bersedia berpindah ke mobil baru. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan penurunan harga mobil baru dinilai lebih efektif untuk mendorong pergeseran permintaan.
Syahda menambahkan, pasar mobil bekas memiliki pengaruh besar terhadap kinerja penjualan mobil baru. Analisis LPEM UI terhadap data harga mobil bekas menunjukkan bahwa model kendaraan dengan depresiasi rendah atau nilai jual kembali yang tinggi cenderung memiliki penjualan mobil baru yang lebih stabil.
Sebagai contoh, Toyota Innova tercatat memiliki resale value sekitar 73 persen dari harga on the road (OTR) awal dan menunjukkan tren penjualan mobil baru yang terus meningkat dari tahun ke tahun. “Ini menunjukkan pentingnya menjaga nilai jual kembali agar konsumen lebih percaya membeli mobil baru,” ujarnya.
Baca juga : 2 Pemain Muda Jadi Penentu Kemenangan Persija di GBK
Dari sisi struktur pasar, hasil survei juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 13 persen responden merupakan pembeli mobil pertama, sementara 87 persen lainnya sudah memiliki kendaraan. Dari kelompok pemilik mobil tersebut, sebagian besar membeli kendaraan sebagai pengganti, bukan tambahan, yang kembali mencerminkan keterbatasan daya beli.
Secara makro, LPEM UI memproyeksikan tanpa intervensi kebijakan yang signifikan, target pemerintah untuk penjualan mobil baru sebesar 2 juta unit pada 2030 akan sulit tercapai. Bahkan dengan asumsi adanya pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru, proyeksi penjualan pada 2030 diperkirakan hanya sekitar 1,6 juta unit.
“Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi penurunan harga mobil baru, baik melalui efisiensi produksi maupun insentif kebijakan, berpotensi menjadi instrumen penting untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan pasar otomotif nasional,” kata Syahda.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya